Oleh: rumahkita2010 | 8 Maret 2010

PEKERJA ANAK

KELOMPOK BELAJAR  ”KANCIL” SEBAGAI UPAYA

PEMENUHAN HAK PENDIDIKAN ANAK PENJUAL KRESEK

DI PASAR UJUNGBERUNG

Oleh :

Hari Harjanto Setiawan & Adhani Wardianti

ABSTRACT

Komunitas anak penjual kresek di pasar Ujungberung merupakan salah satu fenomena sosial yang menunjukkan bahwa kondisi anak belum sepenuhnya sejahtera. Pada masa pertumbuhan mereka seharusnya mendapatkan hak-haknya sesuai dengan tahap perkembangan, yang salah satunya adalah hak untuk mendapatkan pendidikan. Pada tahun 2009  jumlah komunitas anak mencapai angka 35 anak. Jumlah tersebut sebanyak 13 anak tergolong paling rentan. Sejumlah anak yang paling rentan tersebut ada 8 anak mengalami putus sekolah dan 5 anak masih bersekolah. Memperhatikan kondisi dari komunitas anak penjual kresek tersebut, terlihat bahwa hak anak terutama hak pendidikan belum terpenuhi secara optimal. Kondisi ini akan berdampak pada masa depan anak. Mengingat bahwa anak merupakan generasi penerus, maka masa depan anak perlu dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. Setelah dilakukan asesmen, maka dari permasalahan tersebut muncul kebutuhan yaitu mereka membutuhkan wadah untuk belajar bersama dalam bentuk kelompok belajar yang selanjutnya mereka beri nama kelompok belajar “Kancil”. Fungsi kelompok belajar ini adalah sebagai tempat belajar untuk mengikuti ujian persamaan bagi yang tidak sekolah dan membantu mengerjakan tugas-tugas sekolah/PR bagi yang bersekolah, karena keterbatasan kemampuan dan pengetahuan keluarga anak-anak ini tidak dapat belajar di rumah.

Key words :  Hak Anak, Pekerja anak, Pekerja Sosial, Pendidikan

I.      PENDAHULUAN

Masalah pekerja anak merupakan salah satu tantangan pembangunan yang paling signifikan. Di Indonesia survey Nasional pada 2006 menemukan 2.749.353 anak berumur 10 – 15 tahun di 33 propinsi bekerja dalam berbagai sektor dan layanan. Menurut survey Angkatan Kerja Nasional 2007 ditemukan 0,4 juta anak perempuan dan 0,6 juta anak laki-laki dengan umur antara 10 – 14 tahun yang bekerja. Penelitian Organisasi Buruh Internasional (ILO) di enam kota/kabupaten di Jawa Barat menyebutkan, jumlah pekerja anak usia 10-14 tahun berjumlah 1.584.560 orang dan untuk usia 15-19 tahun sebanyak 833.953 orang. Anak-anak ini bekerja di pabrik sepatu, pekerja Rumah tangga Anak (PRTA), Eksploitasi Seksual Anak (ESKA), Anak Pasar, Penjual Coet dan Kusir Delman.

Anak pasar yang bekerja sebagai penjual kresek di Pasar Ujungberung, adalah tergolong pekerja anak.. Jumlah anak yang berjualan kresek di Pasar Ujungberung mencapai 35 anak pada waktu pasar ramai misalnya menjelang lebaran. Sebanyak 13 anak tersebut tergolong paling rentan, 8 diantaranya mengalami putus sekolah dan 5 anak masih bersekolah.  Anak-anak penjual kresek ini menghabiskan waktunya untuk bekerja selama 6 jam per hari. Permasalahan bagi anak yang masih sekolah mengalami hambatan di sekolahnya karena capek bekerja sehingga tidak mengerjakan tugas/PR karena keterbatasan kemampuan keluarga dalam membimbing dan membantu anak belajar. Sedangkan anak yang putus sekolah tidak ada kesempatan dan waktu untuk belajar karena tidak ada wadah bagi mereka untuk belajar.

Penera anak juga mereka juga rentan untuk berbuat kriminal misalnya perkelahian antar kelompok dan rentan juga untuk menjadi korban tindak kriminal dari orang-orang dewasa. Mereka juga rawan terhadap penggunaan dan peredaran Napza karena lingkungannya dekat dengan para preman pasar. Anak yang bekerja merupakan bentuk pelanggaran hak anak berdasarkan UU RI No. 20/1999 ratifikasi Konvensi ILO No.138. Anak-anak yang bekerja di Pasar Ujungberung  jelas jauh dari terpenuhi haknya sebagai seorang anak seperti yang tertera dalam konvensi hak anak dan sesuai dengan Undang-undang Perlindungan Anak No.23 Tahun 2002 yaitu hak kelangsungan hidup, hak untuk dilindungi, hak memperoleh pendidikan dan hak untuk tumbuh kembang.

Pekerja anak merupakan rasionalisasi untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga yang dilanda kemiskinan. Argumen ini menjadi legitimasi mempekerjakan anak-anak, bahkan dengan pekerjaan yang eksploitatif, upah murah dan pekerjaan yang berbahaya. Keadaan pekerja anak ini dilematis, disatu sisi anak-anak bekerja untuk memberikan konstribusi pendapatan keluarga namun mereka rentan dengan eksploitasi dan perlakuan salah. Pada kenyataannya sulit untuk memisahkan antara partisipasi anak dengan eksploitasi anak (Irwanto, 1995). Pekerja anak seharusnya menikmati hak pendidikan, namun justru harus memeras keringat karena ikut menopang kebutuhan keluarga. Ini menjadi permasalahan krusial karena pada masa depan negara kehilangan generasi terdidik. Belum lagi tekanan mental pada anak-anak yang bisa mengarah pada masalah kriminal. Dengan demikian membiarkan anak bekerja dan tidak sekolah, sama dengan tidak memberikan bekal yang bermanfaat bagi kehidupan masa depan anak karena mereka adalah anak-anak bangsa yang akan menjadi sumber daya manusia dimasa mendatang. Berawal dari pemikiran inilah action research pada komunitas anak penjual kresek di Pasar Ujungberung dilakukan.

II.    PERMASALAHAN

Pekerja anak melakukan pekerjaan tertentu sebagai aktifitas rutin harian, jam kerjanya relatif panjang. Ini menyebabkan mereka tidak dapat bersekolah, tidak memiliki waktu yang cukup untuk bermain dan beristirahat, dan secara tidak langsung aktifitas tersebut berbahaya bagi kesehatan anak. Sedangkan anak bekerja, mereka melakukan aktifitas pekerjaan hanya sebagai latihan. Kegiatan tersebut tidak dilakukan setiap hari, jam kerja yang digunakan juga sangat pendek, dan aktifitasnya tidak membahayakan bagi kesehatan anak serta mendapatkan pengawasan dari orang yang lebih dewasa atau ahlinya. Dalam hal ini anak masih melakukan aktifitas rutinnya seperti sekolah, bermain dan beristirahat. Penjual kresek di pasar ujung berung termasuk pekerja anak karena jam kerja yang panjang yaitu 6 jam dan dilakukan setiap hari. Selanjutnya, permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut :

  1. Bagaimana karakteristik Pekerja Anak di Pasar Ujung Berung?
  2. Bagaimana bentuk intervensi pekerja sosial terhadap Pekerja Anak yang ada di Pasar Ujung Berung ?

III.       TUJUAN PENULISAN

Tujuan penulisan ini adalah :

  1. Menggambarkan karakteristik Pekerja Anak di Pasar Ujung Berung.
  2. Menggambarkan bentuk intervensi pekerja sosial terhadap Pekerja Anak penjual kresek di Pasar Ujung Berung ?

IV.      METODE PENELITIAN

Agar dapat menggambarkan karakteristik suatu proses intervensi pekerjaan sosial dengan detail maka pendekatan yang dipakai dalam pendekatan ini adalah pendekatan kualitatif dan Action Research. Dengan pendekatan tersebut diharapkan akan memperoleh penghayatan, pengalaman dan persepsi pemahaman pelayanan sosial.

Pendekatan kualitatif akan menggambarkan karakteristik Pekerja Anak di Pasar Ujungberung (tujuan 1). Tujuan penelitian kualitatif menurut Alston dan dan Bowels (1996, h.9) adalah sebagai berikut ” ….qualitatif researcher are more interested in understanding how others experiences life, in interpreting meaning and social phenomena, and in exploring new concept and developing new theories.” (…para peneliti kualitatif untuk mengerti bagaimana pengalaman hidup, memahami arti dan fenomena sosial dan untuk menyelidiki konsep-konsep dan mengembangkan teori baru).

Pendekatan Action Research menurut Mc Taggart 1989 quoted in wadsword 1991, p.65 dikutip Alston dan Bowels (1998, h.164)adalah : “Perticipatory Action Research is an approach to improving social practice by changing it and learning form the consequences of change. Participatory action research is contingent on authentic participation” (Penelitian terapan partisipatif adalah suatu pendekatan untuk memperbaiki praktek social serta mengubah hal itu dan belajar dari konsequensi perubahan. Penelitian partisipatoris tergantung pada partisipasi murni). Esensi dari action research menurut alston dan bowels (1998,h.164) adalah : Changing or improving a social situation (mengubang yang memperbaiki situasi social) dan Involving those most affected (melibatkan sebagian besar pengaruh). Adapun prinsip dasar rutinitas (siklus) penelitian terapan menurut pendapat Stringer (1996, h. 16) adalah sebagai berikut : Pertama, Tahap Melihat (look) : a)engumpulkan informasi yang relevan (Gather relevant invotmation), b) menggambarkan situasi (Build a picture; describe the situation). Kedua, Tahap Berpikir (Think) : a) Menelusuri dan menganalisa : apa yang terjadi disini , (explore and analize: What is happening here?), b) Menginterpretasikan dan menjelaskan : Mengapa mereka itu bisa seperti itu adanya? (Interpret and explain: How/why are think as they are?) dan yang Ketiga, Tahap bertindak (act) : a) Perencanaan (plan), b) Pelaksanaan (implement), c) Evaluasi (Evaluate). Tahapan tersebut diatas diulangi terus-menerus sampai batas waktu yang telah ditentukan untuk menghasilkan suatu program yang lebih sempurna. Action research minimal berproses dalam satu kali siklus.

Jenis penelitian dilihat dari penjabarannya adalah penelitian deskriptif. Menurut Bergt (1990, h.34) penelitian deskriptif adalah : ”Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang memberi suatu uraian dalam bentuk gambaran gejala tertentu dalam masyaratat. Tujuan dari tipe penelitian ini adalah untuk melukiskan realitas sosial yang komplek sedemikian rupa sehingga relevansi sosiologis tercapai.”

Lokasi penelitian ini adalah Pasar Ujungberung yang terletak di RW 01, Kelurahan Pasirwangi, Kecamatan Ujungberung, Kota Bandung. Adapun pemilihan informan dilakukan secara purposive yaitu sesuai dengan kebutuhan penelitian. Dilakukan dengan teoritical sampling yaitu keterwakilan mereka yang mengetahui informasi. Sedangkan pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam yang dilakukan dengan cara individu dan berkelompok, Studi dokumentasi, Observasi, Snow Ball. Penelitian dilaksanakan dari bulan Januari sampai dengan bulan Desember 2009.

Analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan sejak sebelum memasuki lapangan, selama di lapangan dan setelah selesai di lapangan dalam hal ini menurut Nasution (1988) yang dikutip oleh Sugiyono (2008;h.245) menyatakan ”analisis telah mulai sejak merumuskan dan menjelaskan masalah, sebelum terjun ke lapangan dan berlangsung terus sampai penulisan hasil penelitian. Analisis data menjadi pedoman selanjutnya sampai jika mungkin, teori yang grounded

Untuk meningkatkan kualitas penelitian adalah dengan : Pertama, Credibilitas (credibility) dalam penelitian ini akan menggunakan teknik Triangulasi yaitu pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara dan berbagai waktu. Kedua, Transferability Nilai trasfer ini berkenaan dengan pertanyaan, hingga mana hasil penelitian dapat diterapkan atau digunakan dalam situasi lain. Agar supaya orang lain dapat memahami hasil penelitian ini maka dalam membuat laporan akan memberikan uraian yang rinci, jelas, sistematis, dan dapat dipercaya. Ketiga, Dependability Penelitian dilakukan melalui audit terhadap proses penelitian dalam hal ini di lakukan oleh pembimbing. Caranya dilakukan oleh auditor independen atau pembimbing untuk mengaudit keseluruhan aktivitas peneliti dalam melakukan penelitian. Bagaimana peneliti menentukan masalah atau fokus memasuki lapangan, menentukan sumber data, melakukan analisis data sampai membuat kesimpulan harus diajukan oleh peneliti. Keempat, Konfirmability Konfirmabilitas hampir mirip dengan uji depandabilitas sehingga pengujiannya dapat dilakukan secara bersamaan. Menguji konfirmabilitas berarti menguji hasil penelitian yang dikaitkan dengan proses yang dilakukan. Bila hasil penelitian merupakan fungsi dari proses penelitian yang dilakukan maka penelitian tersebut telah memenuhi standar konfirmabilitas. Dalam penelitian jangan sampai proses tidak ada.

V.        DEFINISI KONSEP

  1. A. Hak Anak

Anak merupakan modal dasar bagi pembangunan nasional dan penerus cita-cita perjuangan bangsa yang kelak diharapkan mampu menjalankan tugas dan tanggung jawabnya demi kelestarian bangsa dan negara. Membuat perencanaan masa depan tanpa memperhitungkan variabel anak adalah sebuah pikiran amoral dan historis, karena tidak meletakkan manusia sebagai faktor determinan dalam perubahan masyarakat. Bila itu terjadi, maka dalam prosesnya akan dengan mudah melupakan faktor-faktor kepentingan anak dan lebih untuk menuruti egoisme manusia dewasa yang berfikir hanya untuk kepentingan sesaat. Anak-anak karena ketidakmampuan ketergantungaan dan ketidakmatangan, baik fisik, mental maupun intelektual, perlu mendapat perlindungan, perawatan dan bimbingan dari orang tua (dewasa). Perawatan, pengasuhan dan pendidikan anak adalah kewajiban agama dan kemanusiaan yang harus dilaksanakan mulai dari keluarga, masyarakat dan negara.

Dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, disebutkan bahwa pengertian anak sebagai berikut : “Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.” Pengertian tersebut berbeda dengan pengertian yang terdapat pada UU Nomor 4 tahun 1979 dimana menyebutkan bahwa anak adalah seseorang yang belum mencapi usia 21 tahun dan belum kawin. Sedangkan Elizabeth D. Hurlock (1982:108), menyatakan bahwa : “anak adalah masa yang dimulai setelah melewati masa bayi yang penuh ketergantungan, kira-kira usia 2 tahun sampai saat anak matang secara seksual, kira-kira 13 tahun untuk wanita dan 14 tahun untuk pria.”

Terkandung dalam pengertian di atas bahwa dalam sebuah keluarga terdapat anak-anak yang menjadi tanggung jawab orang tua, baik yang masih dalam kandungan, masa bayi hingga anak mencapai usia dewasa dan mandiri.  Sebagai bagian dari masyarakat bangsa, anak juga memiliki hak yang berguna dalam menjamin pertumbuhan dan perkembangannya. Pengakuan terhadap hak anak secara Internasional dilakukan oleh PBB melalui suatu konvensi yaitu pada tahun 1989. Prinsip-prinsip yang dianut dalam Konvensi Hak Anak adalah :

  1. Non Diskriminasi (Pasal 2). Semua hak anak yang diakui dan terkandung dalam KHA harus diberlakukan kepada setiap anak tanpa perbedaan apapun.
  2. Kepentingan terbaik untuk anak (Pasal 3). Semua tindakan yang menyangkut anak, pertimbangannya adalah apa yang terbaik untuk anak.
  3. Kelangsungan hidup dan perkembangan anak (Pasal 6). Hak hidup yang melekat pada diri setiap anak harus diakui atas perkembangan hidup dan perkembangannya harus dijamin.
    1. Penghargaan terhadap pendapat anak (Pasal 12). Pendapat anak terutama yang menyangkut hal-hal yang dapat mempengaruhi kehidupannya perlu diperhatikan dalam setiap pengambilan keputusan.

Konvensi hak anak tersebut diratifikasi oleh Pemerintah Indonesia dalam Keppres No. 36 tahun 1990. Dalam Keppres tersebut dinyatakan bahwa anak memiliki hak-hak antara lain : hak untuk hidup layak, hak untuk berkembang, hak untuk dilindungi, hak untuk berperan serta, hak untuk menolak menjadi pekerja anak, dan hak untuk memperoleh pendidikan.

  1. B. Pekerja Anak

Pekerja anak merupakan suatu istilah yang seringkali menimbulkan perdebatan, meskipun sama-sama digunakan untuk menggantikan istilah buruh anak. Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi menggunakan istilah anak-anak yang terpaksa bekerja. Biro Pusat Statistik menggunakan istilah anak-anak yang aktif secara ekonomi. Definisi Pekerja Anak menurut ILO/ IPEC adalah anak yang bekerja pada semua jenis pekerjaan yang membahayakan atau mengganggu fisik, mental, intelektual dan moral. Konsep pekerja anak didasarkan pada Konvensi ILO no 138 mengenai usia minimum untuk diperbolehkan bekerja yang menggambarkan definisi internasional yang paling komprehensif tentang usia minimum untuk diperbolehkan bekerja, mengacu secara tidak langsung pada “kegiatan ekonomi”. Konvensi ILO menetapkan kisaran usia minimum dibawah ini dimana anak-anak tidak boleh bekerja. Usia minimum menurut Konvensi ILO no 138 untuk negara-negara dimana perekonomian dan fasilitas pendidikan kurang berkembang adalah semua anak berusia 5 – 11 tahun yang melakukan kegiatan-kegiatan ekonomi adalah pekerja anak sehingga perlu dihapuskan. Anak-anak usia 12 – 14 tahun yang bekerja dianggap sebagai pekerja anak, kecuali jika mereka melakukan tugas ringan. Sedangkan usia sampai dengan 18 tahun tidak diperkenankan bekerja pada pekerjaan yang termasuk berbahaya.

Pekerjaan ringan dalam konvensi no 138 Pasal 7, menyatakan bahwa pekerjaan ringan tidak boleh menggangu kesehatan dan pertumbuhan anak atau menggangu sekolahnya serta berpartisipasinya dalam pelatihan kejuruan atau “kapasitas untuk memperoleh manfaat dari instruksi yang diterimanya. Tugas yang dilaksanakan dalam pekerjaan ringan tidak boleh merupakan pekerjaan yang berbahaya dan tidak boleh lebih dari 14 jam per minggu. Ambang batas ini didukung oleh Konvensi ILO no 33 tahun 1932 mengenai usia minimum (Pekerja dibidang Non Industri) dan temuan tentang dampak anak bekerja terhadap tingkat kehadiran prestasi di sekolah dan terhadap kesehatan anak.

Pekerja anak melakukan pekerjaan tertentu sebagai aktifitas rutin harian, jam kerjanya relatif panjang. Ini menyebabkan mereka tidak dapat bersekolah, tidak memiliki waktu yang cukup untuk bermain dan beristirahat, dan secara tidak langsung aktifitas tersebut berbahaya bagi kesehatan anak. Sedangkan anak bekerja, mereka melakukan aktifitas pekerjaan hanya sebagai latihan. Kegiatan tersebut tidak dilakukan setiap hari, jam kerja yang digunakan juga sangat pendek, dan aktifitasnya tidak membahayakan bagi kesehatan anak serta mendapatkan pengawasan dari orang yang lebih dewasa atau ahlinya. Dalam hal ini anak masih melakukan aktifitas rutinnya seperti sekolah, bermain dan beristirahat.

Keterlibatan anak dalam dunia kerja tidaklah terjadi dengan sendirinya, melainkan disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor-faktor penyebab tersebut ada yang berasal dari dalam diri anak maupun karena pengaruh lingkungan terdekat dengan anak. Secara garis besar faktor penyebab ini dapat dikelompokkan dalam dua kelompok, yaitu faktor pendorong dan faktor penarik.

Faktor pendorong merupakan faktor yang berasal dari dalam diri si anak, yang mendorong anak untuk melakukan aktifitas tertentu yang menghasilkan uang. Dengan hasil yang diperoleh anak akan menjadi senang dan dorongan tersebut akan terpuaskan. Faktor pendorong yang menyebabkan anak memilih menjadi pekerja anak antara lain : kemiskinan yang dialami orangtua, adanya budaya dan tardisi yang memandang anak wajib melakukan pekerjaan sebagai bentuk pengabdian kepada orangtua, relatif sulitnya akses ke pendidikan, tersedianya pekerjaan yangmudah diakses tanpa membutuhkan persyaratan tertentu, dan tidak tersedianya fasilitas penitipan anak pada saat orangtua bekerja.

Faktor penarik adalah faktor yang berasal dari luar diri anak. Faktor inilah yang menjadi alasan bagi dunia kerja untuk menerima anak bekerja. Anak dipandang sebagai tenaga kerja yang murah dan cenderung tidak banyak menuntut. Pekerja anak dipandang tidak memiliki kemampuan yang memadai, baik secara fisik maupun kemampuan. Dengan demikian para pengusaha akan cenderung memilih anak karena upah yang diberikan akan cenderung lebih murah dari pada orang dewasa. Disamping itu anak lebih patuh dan penurut terhadap instruksi yang diberikan oleh orang dewasa.

Selain beberapa faktor diatas, penyebab anak memasuki dunia kerja dapat dilihat dari beberapa faktor antara lain : ekonomi, sosial, budaya dan faktor-faktor lain. Dari faktor ekonomi, kemiskinan keluarga menyebabkan ketidak mampuannya dalam memenuhi kebutuhan pokok. Kondisi ini menyebabkan anak dengan kesadaran sendiri atau dipaksa oleh keluarga untuk bekerja, sehingga kebutuhan pokoknya dapat terpenuhi dan membantu keluarga dalam mencari nafkah. Secara sosial ketidak harmonisan hubungan antar anggota keluarga dan pengaruh pergaulan dengan teman, merupakan faktor yang menyebabkan anak bekerja. Bagi anak, bekerja bukan sekedar kegiatan mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Tetapi juga sebagai pelampiasan atas ketidak harmonisan hubungan diantara anggota keluarga. Disamping itu pekerjaan dan teman-teman di tempat bekerja merupakan tempat yang dapat dijadikan tempat bergantung bagi anak.

Faktor budaya yang menyebabkan anak bekerja adalah adanya pandangan dari sebagian masyarakat yang lebih menghargai anak yang bekerja. Mereka menganggap bahwa anak yang bekerja merupakan bentuk pengabdian kepada orangtua. Faktor-faktor lain yang turut menjadi penyebab anak memasuki dunia kerja adalah tersedianya sumber lokal yang dapat menjadi lahan pekerjaan bagi anak, pola rekriutmen yang mudah dan anak merupakan tenaga kerja yang murah dan mudah diatur.

Dampak dari pekerja anak yang secara tidak langsung akan ditanggung oleh masyarakat dan negara antara lain : pertama, anak tidak memiliki bekal pendidikan dan keterampilan yang memadai, sehingga akan memperpanjang siklus kemiskinan yang selama ini sudah dialami keluarga anak. Kedua, Anak yang bekerja pada usia dini akan cenderung memilliki fisik yang lebih rapuh, merasa takut dan tidak memiliki rasa percaya diri ketika berinteraksi dengan orang lain yang baru dikenalnya.

Memperhatikan pada dampak negatif terhadap perkembangan anak tersebut, maka dapat dikatakan bahwa pekerja anak merupakan suatu masalah yang perlu mendapat perhatian berbagai pihak. Masalah pekerja anak bukanlah masalah yang memiliki faktor penyebab tunggal, sehingga penanganannya pun perlu melibatkan beberapa pihak yang berhubungan dengan anak. Pandangan yang mempermasalahkan pekerja anak juga dapat dilihat dari perspektif hak anak. Perspektif hak anak memandang bahwa hak anak merupakan bagian dari hak asasi manusia yang mendapatkan pengakuan dan perlindungan secara Internasional. Setiap anak tanpa terkecuali memiliki 4 hak dasar yang meliputi : hak atas kelangsungan hidup, hak untuk tumbuh kembang, hak untuk mendapatkan perlindungan dan hak untuk berpartisipasi. Hak untuk tumbuh kembang merupakan hak anak untuk memperoleh pendidikan, informasi, waktu luang, kegiatan seni dan budaya, kebebasan berfikir, berkeyakinan dan beragama serta hak anak cacat atas pelayanan, perlakuan dan perlindungan khusus.

Membiarkan anak untuk menjadi pekerja anak merupakan bentuk pelanggaran terhadap hak anak, terutama hak untuk berkembang. Pekerja anak menghabiskan sebagian waktunya untuk bekerja. Ini menyebabkan mereka tidak memiliki kesempatan lagi untuk memperoleh pendidikan, melakukan aktfitas yang berkaitan dengan seni dan budaya, tidak memiliki waktu luang yang memungkinkannya untuk bersosialisasi dengan teman sebaya dan cenderung berada pada situasi yang berbahaya bagi kelangsungan hidupnya.

  1. C. Pekerjaan Sosial Dengan Pekerja Anak

Pekerjaan sosial merupakan suatu sistem kegiatan yang terorganisir dalam menjabarkan konsep-konsep kesejahteraan sosial dengan menggunakan kerangka tertantu yang terdiri dari ilmu pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill) dan nilai (value)/ kode etik. Ada beberapa definisi pekerjaan sosial menurut para ahli antara lain :

  1. Friedlander (1984;4) mendefinisikan “Pekerjaan sosial adalah sebuah pelayanan profesional yang didasarkan pada pengetahuan ilmiah dan keterampilan dalam relasi antar manusia, yang menolong individu, kelompok atau komunitas untuk mencapai kepuasan individual atau sosial dan kebebasan”.
  2. Allen Pincus dan Anne Minahan (1973:9) mendefinisikan Pekerja Sosial sebagai berikut : “Pekerja sosial memiliki kepentingan dengan interaksi antara orang dan lingkungan sosialnya yang mempengaruhi kemampuannya untuk menyelesaikan tugas-tugas kehidupannya, mengurangi ketegangan dan mewujudkan aspirasi serta nilai-nilainya”.
  3. The National Association of Social Work (NASW) dalam Zastrow (1982:12, 1999:5), Sheaford dan Horesjsi (2003:5) mendefinisikan Pekerjaan Sosial sebagai berikut  “Pekerjaan sosial adalah aktivitas profesional dalam menolong individu, kelompok atau komunitas untuk meningkatkan atau memperbaiki keberfungsian sosialnya serta menciptakan kondisi masyarakat yang memungkinkan mereka mencapai tujuannya”.
  4. Siporin (1975:3) mendefinisikan Pekerjaan Sosial sebagai berikut “Pekerjaan sosial merupakan suatu metode institusi sosial untuk menolong orang mencegah  dan memecahkan masalah mereka serta untuk memperbaiki dan meningkatkan keberfungsian sosial   mereka”.
  5. De Gusman (1983:3) mendefinisikan Pekerjaan Sosial sebagai berikut: “Pekerjaan sosial adalah profesi yang perhatian utamanya pada aktifitas pelayanan sosial secara terorganisir untuk memfasilitasi dan memperkuat relasi antara individu dan lingkungan sosialnya untuk kebaikan”.

Definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa Pekerjaan Sosial pada dasarnya merupakan suatu profesi pertolongan yang dilakukan secara terorganisir, untuk menolong individu, kelompok atau komunitas agar dapat berfungsi sosial secara memuaskan melalui penguatan relasi dengan lingkungan sosialnya. Dengan demikian fokus utama profesi pekerjaan sosial adalah pada keberfungsian sosial individu, kelompok atau komunitas. Fokus utama ini sekaligus menjadi pembeda antara profesi pekerjaan sosial dengan profesi pertolongan lainnya.

  1. D. Pelayanan Sosial Dalam Pendidikan

Pelayanan Sosial bagi DuBois (2005:227-248) mengaitkan pekerja sosial dengan fungsi-fungsi pekerjaan sosial. Menurut DuBois pekerjaan sosial memiliki tiga fungsi yaitu fungsi yaitu fungsi konsultasi, managemen sumber dan pendidikan. Fokus dari fungsi konsultasi adalah pemecahan masalah. Managemen sumber meliputi pemanfaatan dan pengkoordinasian sistem penyedia pelayanan sosial, dengan cara menghubungkan sistem konsumen dengan sumber-sumber formal dan informal. Fungsi edukasi memerlukan beberapa tipe instruksi atau proses pembelajaran.

Menurut Undang-undang sistem pendidikan nasional, pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan latihan bagi peranannya dimasa yang akan datang. Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan berbangsa.

Peran yang dilakukan oleh pekerja sosial pada masing-masing fungsi berbeda dan menyesuaikan dengan anak. Peran dan strategi pada pendidikan adalah pekerja sosial menyediakan informasi yang dibutuhkan oleh anak, dengan berpedoman pada prinsip-prinsip pembelajaran orang dewasa. Peran yang dilakukan pekerja sosial ketika berpraktek dengan individu dan keluarga adalah sebagai guru, dengan menggunakan strategi memproses informasi. Dalam praktek dengan kelompok formal dan organisasi, peran yang dilakukan adalah sebagai pelatih dengan menggunakan strategi pelatihan profesional. Dalam praktek dengan komunitas atau anggota mayarakat, peran yang dilakukan adalah sebagai penjangkau dengan menggunakan strategi pendidikan masyarakat.

VI.      HASIL PENELITIAN

Pasar Ujungberung merupakan salah satu pasar yang termasuk dalam wilayah Kelurahan Pasirwangi Kecamatan Ujungberung. Pasar Ujungberung terletak dekat dengan pusat kecamatan Ujungberung, disebelah kanan bersebelahan dengan alun-alun dan Masjid Agung Ujungberung, sedangkan sebelah kiri pasar terdapat pertokoan, pusat pertokoan dan bioskop Astor. Pasar Ujungberung juga berada pada sisi jalan yang dilalui oleh bus antar kota antar propinsi serta dekat dengan kantor kecamatan Ujungberung yang berada dibelakang alun-alun Ujungberung.

Pasar Ujungberung merupakan salah satu bagian wilayah Timur Kota Bandung dengan memiliki luas wilayah sebesar 111,468 Ha. Secara geografis Kelurahan Pasirwangi Kecamatan Ujungberung memiliki bentuk wilayah datar sebesar 30% dari total keseluruhan luas wilayah. Ditinjau dari sudut ketinggian tanah, Kelurahan Pasirwangi berada pada ketinggian 500 m diatas permukaan air laut. Letak pasar Ujungberung yang cukup strategis ini menjadikan pasar ini mudah untuk dijangkau karena mudahnya alat transportasi untuk sampai di pasar ini. Sarana transportasi yang dapat menjangkau pasar ini angkutan kota dari beberapa jurusan, bus umum dan ojek.  Dengan kemudahan ini maka banyak pengunjung pasar yang datang dari berbagai wilayah disekitar kecamatan Ujungberung dan kecamatan yang ada disekitar Bandung Timur. Pedagang di pasar ini mulai berjualan dari jam 03.00 sampai jam 18.00 yang berjualan berbagai kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan-kebutuhan lainnya seperti pakain, sepatu, alat tulis dan lain sebagainya.

Daya tarik yang ada di Pasar Ujungberung membawa anak-anak yang seharusnya menikmati haknya sebagai seorang anak melakukan aktifitas bekerja. Anak-anak di Pasar Ujungberung ini bekerja sebagai penjual kresek dan sesekali membantu membawa belanjaan orang –orang yang membutuhkan bantuan mereka. Anak-anak ini bekerja karena membantu orangtuanya menambah penghasilan keluarga untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari dan ikut-ikutan karena diajak teman. Anak yang bekerja sebagai penjual kresek di Pasar Ujungberung jumlahnya fluktuatif. Pada masa-masa libur sekolah dan menjelang hari raya, anak-anak yang berjualan akan semakin banyak. Jumlah tertinggi bisa mencapai 35 orang anak dan jumlah terendahnya adalah 9 anak, yang berasal dari berbagai kelurahan disekitar Pasar Ujungberung. Pada tahun 2008 jumlah anak-anak yang bekerja sebagai penjual kresek dengan jumlah tertinggi sebanyak 23 orang dan pada tahun 2009 ini ini kecenderungannya mencapai jumlah tertinggi sebanyak 35 orang anak pada saat hari-hari besar dan hari libur.

A. Tahap look (Melihat)

Tahap melihat merupakan suatu tahap setelah persiapan sosial yang bertujuan untuk menggali dan menganalisis dan mengungkapkan situasi sebenarnya yang dihadapi masyarakat. Berdasarkan hasil wawancara dengan bapak lurah Kelurahan Pasirwangi yang berhubungan dengan permasalahan anak dan keluarga diperoleh data bahwa terdapat anak-anak yang bekerja sebagai penjual kresek di Pasar Ujungberung yang berasal dari wilayah di sekitar kecamatan Ujungberung. Faktor penyebab adanya anak-anak yang bekerja adalah karena keterbatasan ekonomi keluarga sehingga anak ingin bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Ikut-ikutan dengan teman juga merupakan salah satu faktor anak berjualan di pasar.

Komunitas anak penjual kresek di Pasar Ujungberung sudah berjualan rata-rata satu sampai dua tahun dan memulai berjualan dari usia yang beragam yang dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 1

Data Karakteristik Komunitas Anak Penjual Kresek

Di Pasar Ujungberung

Tahun  2009

No Nama (alias) Umur

th

Sekolah Anak Ke Mulai Berjualan Tinggal dengan
1 Bolang 7 Tdk Sekolah 2 dr 3 Usia 6 Th Nenek
2 Ucok 8 DO Klas 1 SD 2 dr 2 Usia 6 Th Nenek
3 Kabayan 10 DO kls 3 SD 3 dr 4 Usia 9 Th Orang Tua
4 Ado 10 4 SD 3 dr 5 Usia 10 Th Orangtua
5 Dowan 10 4 SD 5 dr 5 Usia 10 Th Orang Tua
6 Enjang 10 DO Kls 4 SD 1 dr 2 Usia 9 Th Nenek
7 Asep 10 4 SD 5 dr 6 Usia 10 Th Orangtua
8 Entong 11 4 SD 2 dr 3 Usia 10 Th Nenek
9 Ipin 11 DO Kls 3 SD 5 dr 5 Usia 9 Th Orangtua
10 Yayan 14 1 SMP 5 dr 5 Usia 12 Th Orang Tua
11 Uje 14 DO Kls 6 SD 1 dr 3 Usia 9 Th Orang Tua
12 Cepot 15 DO Kls 3 SMP 3 dr 4 Usia 14 Th Bapak
13 Jack 15 DO Kls 3 SMP 1 dr 2 Usia 11 Th Mama

Sumber : hasil penelitian Sp1 STKS Bandung

Ke-13 anak ini adalah komunitas anak penjual kresek di Pasar Ujungberung, 7 orang anak putus sekolah dan 1 anak tidak sekolah. 5 orang anak lainnya masih sekolah. Mereka tinggal dengan nenek atau salah satu dari orangtuanya bapak atau mamanya karena sebagian besar komunitas anak ini berasal dari orangtua yang sudah bercerai. Anak yang bekerja terutama sebagai penjual kresek berada di Pasar Ujungberung Kelurahan Pasirwangi sebagian besar tidak sekolah atau putus sekolah dan yang masih bersekolah mengalami hambatan disekolahnya seperti tidak naik kelas karena keterbatasan orangtuanya dirumah dan keterbatasan mereka sendiri. Namun, komunitas anak penjual kresek ini khususnya yang putus sekolah ingin melanjutkan sekolah dan yang sekolah menginginkan adanya suatu wadah yang dapat membantu mereka dalam belajar.

Kasus E (usia 11 tahun).

E adalah seorang anak pertama dari dua bersaudara. Adiknya juga bekerja sebagai penjual kresek, E tinggal dengan neneknya yang tidak bekerja, karena kedua orangtuanya telah bercerai. Ayahnya telah menikah lagi dan tinggal di Cimahi sedangkan ibunya bekerja sebagai TKW di Singapura.  E bekerja sejak berusia 10 tahun, karena diajak oleh pamannya E dan ingin membantu neneknya untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. E putus sekolah sejak kelas IV SD karena pindah rumah dan tinggal dengan neneknya. Nenek E hidup hanya dengan 2 anaknya salah seorangnya juga bekerja sebagai penjual kresek  dan 4 orang cucunya, suaminya jarang pulang sehingga status mereka juga tidak jelas antara cerai atau tidak.

E bekerja dari jam 05.00 sampai dengan jam 11.00 setiap hari dengan penghasilan sekitar Rp. 10.000,- sampai dengan Rp. 15.000,- sehari. Hasil penjualan kresek tersebut diberikan kepada neneknya Rp. 2.000,- sampai Rp. 5.000,- (sesuai hasil penjualan kreseknya) sisanya untuk modal Rp. 5.000,- dan sisanya lagi untuk jajan.   E masih ingin melanjutkan sekolah tetapi tidak ke sekolahnya yang dulu karena malu dengan teman-temannya. E ingin sekolah di sekolah yang non formal agar bisa bersekolah walaupun tidak berseragam. E bercita-cita ingin menjadi tentara sehingga dia berharap bisa sekolah untuk menggapai cita-citanya tersebut. E tinggal bersama neneknya di sebuat rumah kontrakan. Nenek E memiliki 5 orang anak, ayah E anak pertama dan anak-anak yang masih tinggal dengannya adalah E yang juga berjualan kresek berusia 11 tahun dan seorang lagi berusia 19 tahun yang bekerja  di bengkel. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya nenek E hanya mengandalkan penghasilan dari anak-anak dan cucu-cucunya. Nenek E sudah tidak kuat lagi untuk bekerja karena pernah sakit typus yang mengakibatkannya tidak bisa lagi bekerja. Masa mudanya nenek E bekerja sebagai tukang cuci pakaian, sedangkan kakeknya tidak jelas pulangnya sehingga status perkawinan merekapun tidak jelas dikatakan cerai tidak tetapi sangat jarang pulang. Sebenarnya nenek E tidak ingin anak dan cucunya bekerja tetapi karena keadaan yang membuatnya membiarkan anak dan cucunya bekerja. Kegiatan nenek E sehari-hari adalah mengasuh cucunya dan memasak untuk anak-anak dan cucunya dirumah.  Nenek E juga berharap anak dan cucunya bisa sekolah agar dapat mencapai cita-citanya dan hidup layak tidak seperti mereka. Mengenai pendidikan gratis yang diberikan pemerintah, menurut nenek E memang biaya sekolah gratis tetapi untuk membeli buku, sepatu dan seragam mereka tidak punya biaya.  Karena itu beliau sangat berharap anak dan cucunya bisa bersekolah dengan segala keterbatasan yang mereka miliki.

Kasus K (usia 10 tahun

K mulai berjualan kresek sejak usia 9 tahun, ketika itu K putus sekolah kelas III SD karena sakit yang lama. Sehingga K tertinggal pelajaran di sekolah dan tidak naik kelas yang mengakibatkan Kabayan tidak lagi melanjutkan sekolah. K adalah anak ke 3 dari 4 bersaudara. K tinggal dengan kedua orangtuanya, bapaknya bekerja sebagai pedagang asongan di terminal cicaheum dan ibunya tidak bekerja.

K berjualan kresek awalnya diajak oleh temannya dan adanya keinginan untuk membantu orangtuanya. Kabayan berjualan kresek dari jam 06.00 sampai jam 11.00 setiap hari dengan penghasilan Rp. 15.000,- sampai Rp. 20.000,- sehari. K ingin bersekolah lagi tapi tidak mau ke sekolah yang dulu. K termasuk anak yang cerdas dan semangat dalam belajar, pada waktu sekolah pernah mendapat ranking 5 di kelasnya.

Ibu K adalah ibu rumah tangga yang memiliki 4 orang anak. Suami ibu K bekerja sebagai pedagang asongan di terminal Cicaheum dengan penghasilan rata-rata Rp. 35.000,- sehari. Mereka tinggal dirumah panggung yang ditempati oleh 3 orang anak dan suaminya, anak pertamanya sudah menikah. K adalah anak ketiganya, yang ikut membantu orangtuanya dengan bekerja sebagai penjual kresek.

Kasus En (usia 11 tahun)

En adalah anak ke 2 dari 3 bersaudara yang tinggal dengan neneknya. Orangtua En sudah bercerai, ayahnya sudah menikah lagi dan ibunya bekerja sebagai En di Arab. En masih bersekolah kelas IV SD di SDN Panggungsari dengan biaya dari neneknya yang berjualan gorengan. Dengan penghasilan neneknya yang pas-pasan, untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari dan menambah biaya untuk sekolahnya En mulai berjualan sejak usia 10 tahun. Pada saat mulai berjualan En tidak naik kelas sehingga masih duduk di kelas IV. En berjualan dari jam 05.00 sampai dengan jam 10.00 apabila sekolahnya jam 12.00. Jika sekolahnya jam 07.00 sampai jam 10.00, Entong mulai berjualan dari jam 11.00 sampai jam 12.30.  En tidak pernah belajar atau mengerjakan PR/ tugas sekolahnya karena keterbatasan neneknya yang tidak dapat membantunya belajar dan ketebatasan waktunya setelah berjualan. En mempunyai semangat untuk tetap sekolah, walaupun kadang mengeluh capek setelah berjualan kresek. Dengan semangat belajarnya yang tinggi En berharap ada wadah/ kelompok yang dapat membantunya belajar.

Komunitas anak-anak ini tidak menyisakan waktunya untuk belajar, kecuali disekolah untuk anak yang masih sekolah.Kegiatan yang dilakukan sehari-hari, komunitas anak penjual kresek dapat dilihat pada gambar berikut :

Gambar 1

Kegiatan Sehari-hari yang dilakukan Komunitas Anak Penjual Kresek yang

Bersekolah dan Tidak Sekolah

Nonton TV

24.00

Sumber : hasil penelitian Sp1 STKS Bandung

Berdasarkan daily activity yang mereka buat dapat dilihat bahwa komunitas anak penjual kresek yang masih bersekolah dan anak yang putus sekolah menghabiskan waktunya untuk bekerja selama 6 jam dalam sehari. Untuk anak yang masih sekolah satu jam kemudian mereka melanjutkan untuk sekolah, sehingga mereka mengalami hambatan disekolah karena capek setelah bekerja. Sedangkan anak yang putus sekolah tidak ada waktu yang untuk belajar, karena itu mereka membutuhkan wadah yang dapat menyalurkan keinginan mereka untuk sekolah lagi.

B. Tahap Think (Memikirkan)

Kebutuhan atau harapan komunitas anak penjual kresek terhadap diri sendiri adalah untuk kembali bersekolah dan untuk anak penjual kresek yang sekolah menginginkan tetap sekolah agar mereka bisa mencapai cita-cita yang diharapkan. Keluarga diharapkan dapat mendukung keinginan anak dengan memberikan perhatian dan motivasi.Teman sebaya diharapkan dapat memberi pengaruh yang positif dengan melibatkan komunitas anak penjual kresek ini dalam kelompok bermain dan belajar yang ada di lingkungannya. Sedangkan pemerintah diarapkan dapat lebih memberikan perhatian kepada mereka agar mereka dapat mengakses pendidikan dengan lebih mudah dan menyediakan wahana bermain yang edukatif secara gratis.

Asesmen lanjutan untuk mengetahui permasalahan/kebutuhan, sumber dan potensi serta menentukan prioritas masalah yang akan dipecahkan. Hasil dari community meeting teridentifikasi permasalahan/ kebutuhan yang berhubungan dengan permasalahan komunitas anak penjual kresek di Pasar Ujungberung meliputi :

  1. Status pendidikan komunitas anak yang sebagian besar putus sekolah.
  2. Berjualan untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya.
  3. Keinginan komunitas anak untuk melanjutkan sekolah, namun
  4. Tidak adanya wadah atau  kelompok belajar bagi komunitas anak penjual kresek.
  5. Uang hasil penjualan diberikan kepada orangtuanya/ eksploitasi.

Berdasarkan temuan tersebut, maka prioritas yang dipilih adalah masalah : ”Keinginan komunitas anak untuk sekolah namun  tidak adanya wadah atau kelompok belajar bagi komunitas anak penjual kresek”. Penyebab permasalahan tersebut adalah :

  1. Kurangnya pemahaman masyarakat tentang hak pendidikan bagi anak. Selama ini masyarakat belum memahami bahwa pendidikan merupakan hak setiap anak. Pemahaman masyarakat bahwa sekolah adalah tanggungjawab anak dan orangtuanya, sehingga apabila melihat di lingkungannya ada anak yang tidak sekolah itu bukan merupakan tanggungjawab mereka.
  2. Ketiadaan lembaga/ organisasi lokal yang secara sistematis menangani permasalahan anak dan keluarga terutama yang berkaitan dengan komunitas anak penjual kresek. Organisasi lokal seperti kelompok pengajian, PKK, dan LPM tidak memiliki program dan pelayanan sosial yang khusus menangani permasalahan anak dan keluarga.
  3. Kurangnya sosialisasi Undang-Undang Perlindungan Anak No. 23 Tahun 2002. Ketidakpahaman  masyarakat tentang hak-hak  anak terutama hak akan pendidikan disebabkan karena kurangnya sosialisasi tentang UU Perlindungan Anak No. 23 Tahun 2002 baik kepada orangtua maupun masyarakat.

Potensi dan sistem sumber yang dapat  dimanfaatkan untuk membantu memecahkan permasalahan, yaitu :

  1. Sumber Internal : meliputi harapan atau cita-cita yang ingin dicapai anak untuk masa depannya. Setiap anak cenderung punya cita-cita yang merupakan keadaan ideal tentang masa depan yang diinginkan. Untuk mencapai cita-cita tersebut mereka menyadari harus bersekolah setinggi-tingginya yang menjadi faktor pendorong anak untuk tetap sekolah. Adapun cita-cita yang diinginkan anak-anak ini bervariasi dari ingin menjadi tentara, polisi, pegawai dan kerja kantoran Cita-cita ini merupakan potensi yang dapat dijadikan faktor pendorong dan motivasi bagi anak untuk mencapai keinginannya dimasa yang akan depan yang lebih baik. Hal tersebut harus dimulai dengan belajar yang rajin, disiplin, tekun dan sungguh-sungguh

Orang tua mereka menginginkan anak-anaknya memiliki masa depan yang lebih baik dan sejahtera dari kondisi orangtuanya. Untuk mempersiapkan anak-anaknya menjadi lebih baik mereka menyadari bahwa anak-anaknya harus sekolah yang tinggi tapi karena keterbatasan ekonomi yang menyebabkan mereka membiarkan anak-anaknya bekerja. Kesadaran orangtua akan pentingnya pendidikan bagi anak-anaknya merupakan salah satu sumber yang dapat digunakan untuk terus memotivasi anak-anaknya belajar dan sekolah.

  1. Sumber Eksternal : meliputi fasilitas / program dari Dinas Pendidikan Kecamatan Ujungberung, Yayasan Saudara Sejiwa dan PKBM Patrakomala

C. Tahap Act (Bertindak)

  1. 1. Perencanaan Program Intervensi

Perencanaan program merupakan salah satu tahap yang dilaksanakan dalam praktek pertolongan pekerjaan sosial. Tahap perencanaan program memuat proses suatu kegiatan intervensi yang akan dilaksanakan untuk penanganan prioritas masalah yang telah dirumuskan oleh komunitas anak penjual kresek di Pasar Ujungberung Kecamatan Ujungberung Bandung. Berdasarkan proses perencanaan yang telah dilakukan, maka hasil perencanaan program intervensi sebagai berikut :

  1. a. Nama Program

Adapun nama program tersebut adalah Kelompok belajar ”Kancil” sebagai upaya pemenuhan hak pendidikan anak penjual kresek di Pasar Ujungberung Bandung”.

b. Latar Belakang Program

Komunitas anak penjual kresek di pasar Ujungberung merupakan salah satu fenomena sosial yang menunjukkan bahwa kondisi anak belum sepenuhnya sejahtera. Pada masa pertumbuhannya yang seharusnya mereka mendapatkan hak-haknya sesuai dengan tahap perkembangannya, yaitu hak untuk mendapatkan pendidikan. Komunitas anak penjual kresek di pasar Ujungberung setiap tahun mengalami peningkatan. Pada tahun 2009 ini jumlah komunitas anak pada saat ramai-ramainya pasar bisa mencapai angka 35 orang anak. Yang menjadi target group (komunitas) adalah sebanyak  13 anak, 8 anak diantaranya mengalami putus sekolah dan 5 anak masih bersekolah tetapi membutuhkan wadah agar dapat membantu mereka belajar bersama dalam mengerjakan tugas-tugas sekolah/PR, karena keterbatasan kemampuan dan pengetahuan keluarga anak-anak ini tidak dapat belajar di rumah.

  1. c. Tujuan Program

Jangka Panjang program ini adalah ; pertama, terpenuhinya hak pendidikan anak khususnya pada komunitas anak penjual kresek di pasar Ujungberung Kelurahan Pasirwangi dan pada semua komunitas pekerja anak pada umumnya. Kedua, semua komunitas anak penjual kresek di pasar Ujungberung terpenuhi hak pendidikannya pada tahun 2011. Ketiga, terciptanya sistem sumber yang dapat diakses komunitas anak dalam pemenuhan hak pendidikan tahun 2011.

Tujuan Jangka Pendek adalah : pertama, terbentuknya kelompok belajar pada komunitas anak penjual kresek di pasar Ujungberung dalam rangka pemenuhan hak pendidikan anak. Kedua, terpenuhinya hak pendidikan komunitas anak penjual kresek di pasar Ujungberung melalui sekolah non formal di PKBM Patrakomala pada tahun 2010. Ketiga, tersosialisasinya Undang-undang Perlindungan Anak No. 23 Tahun 2002 di lingkungan keluarga komunitas anak penjual kresek di pasar Ujungberung.

d. Strategi

Strategi yang digunakan dalam mewujudkan tujuan program intervensi pemenuhan hak pendidikan pada komunitas anak penjual kresek di pasar Ujungberung. Secara rinci adalah sebagai berikut :

  1. Penyadaran akan pentingnya pendidikan kepada komunitas anak penjual kresek di pasar Ujungberung.
  2. Membentuk kelompok belajar sebagai sarana pelatihan penghubung (bridging course) agar memuluskan proses pengembalian komunitas anak penjual kresek ke bangku sekolah.
  3. Membangun jaringan relasi kerjasama dengan berbagai instansi terkait dengan pelaksanaan program.
  4. e. Sasaran

Sasaran kegiatan ini adalah komunitas anak penjual kresek di pasar Ujungberung.

  1. f. Langkah-langkah kegiatan

Adapun langkah-langkah kegiatan meliputi : pertama, Persiapan, mencakup kegiatan komunitas anak, membentuk kelompok belajar, menyiapkan tutor dan meminta kesediaan, menjalin kerjasama dengan organisasi lokal, dan. penyiapan anggaran untuk kegiatan. Kedua, Pelaksanaan, mencakup kegiatan pengorganisasian sumber-sumber yang ada (manusia, keuangan, perlengkapan, metode kerja dan waktu pelaksanaan) yang telah disiapkan. Ketiga, Monitoring dan evaluasi, meliputi kegiatan yang dilakukan untuk memantau dan mengukur tingkat keberhasilan dari pelaksanaan program.

g. Analisa SWOT

Analisa kelayakan program adalah alat untuk menguji layak atau tidaknya suatu program akan dilaksanakan untuk memecahkan suatu masalah. Dalam analisa ini praktikn menggunakan teknil analisa SWOT (Strenghts, Weakness, Opportunities, Threats). Analisa tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :

Kekuatan (Strenghts) : 1) Adanya potensi belajar pada diri komunitas anak penjual kresek di Pasar Ujungberung. 2) Adanya dukungan dari pihak kebijakan baik dari tingkat kota Bandung sampai tingkat kelurahan dalam pendidikan anak. 3) Adanya Yayasan Saudara Sejiwa yang mempunyai visi dan misi yang sama yaitu ”Kepentingan Terbaik Bagi Anak”. 4) Adanya dukungan dari PKBM yang bersedia memberikan pengajaran sampai ujian secara gratis.

Kelemahan (Weakness) : 1) Motivasi anak yang terkadang tidak stabil sehingga harus terus didampingi. 2) Adanya harapan orang tua anak yang masih mengharapkan dari penghasilan anak. 3) Anak-anak yang sudah terbiasa mendapat penghasilan sehingga merasa berat meninggalkan pekerjaannya yang dapat mengganggu sekolah.

Peluang (Opportunities) : 1) Adanya program pendidikan gratis. 2) Adanya dukungan dari Yayasan Saudara Sejiwa dan PKBM Patrakomala berupa tempat belajar dan tutor.  3) Adanya bantuan peralatan sekolah dari panitia Bakti Sosial IKA STKS Bandung.

Ancaman (Threats) : 1) Ketergantungan anak terhadap materi yang didapat dari jualan kresek. 2) Bagi yang masih sekolah terancam untuk putus sekolah. 3) Adanya pengaruh untuk terlibat penggunaan alkohol dan NAPZA.

  1. 2. Pelaksanaan Program Intervensi

Intervensi adalah penerapan rencana yang telah disusun menjadi suatu bentuk kegiatan untuk mencapai tujuan perubahan atau tujuan pelayanan. Intervensi merupakan aktivitas bersama antara pekerja sosial dengan masyarakat dalam hal ini komunitas anak penjual kresek dalam suatu kerangka sistemik. Pelaksanaan intervensi yang dilakukan bersama komunitas anak penjual kresek antara lain :

  1. Membentuk opini komunitas anak penjual kresek

Strategi yang digunakan adalah dengan pendekatan persuasive dan partisipatif sehingga kelompok anak ini dapat menerima dengan antusias. Kegiatan ini dilakukan praktikan cukup lama dan harus dilakukan dengan intensif karena pada umumnya kelompok anak penjual kresek di pasar Ujungberung agak eksklusif dalam menghadapi orang diluar mereka.  Pendekatan dilakukan dengan informal ketika mereka melakukan aktifitas menjual kresek. Pada awalnya pendamping membeli kresek sebagai awal mula ketika mau melakukan pembicaraan dengan mereka. Setelah kenal satu orang maka teknik yang dilakukan adalah dengan snowballing yaitu anak tersebut akan mengenalkan teman-temannya yang lain dan seterusnya sampai menemukan semua anak yang beraktifitas di pasar Ujungberung.

  1. Melakukan Community Meeting

Community Meeting dilakukan guna menggali permasalahan yang terkait dengan aktifitas anak penjual kresek, sumber dan potensi yang mendukung program intervensi serta menginventarisir instansi baik pemerintah maupun swasta yang akan dilibatkan dalam implementasi dalam program intervensi. Hasil pertemuan kegiatan Community Meeting adalah terinventarisirnya permasalahan-permasalahan yang dirasakan komunitas anak penjual kresek, terinventarisirnya permasalahan-permasalahan yang dirasakan komunitas anak penjual kresek dan ditentukan prioritas masalah yang akan dipecahkan pada proses intervensi yaitu memprioritaskan pada pembentukan kelompok belajar.

  1. Membentuk Kelompok Belajar

Adapun langkah awal yang dilaksanakan dalam pembentukan Kelompok Belajar adalah dengan melakukan community meeting yang bertempat di sekretariat Yayasan Saudara Sejiwa. Pendamping bersama-sama dengan peserta mengawali kegiatan community meeting dengan melakukan pemilihan ketua Kelompok Belajar dan nama kelompok belajar. Dari hasil pemilihan tersebut terpilihlah Roynard Christian sebagai ketua Kelompok Belajar dengan nama kelompok belajar “Kancil”.

Setelah ketua Kelompok Belajar terpilih, kemudian ketua dibantu dengan peserta lainnya membentuk susunan kepengurusan dan semua peserta membuat janji hati. Langkah selanjutnya adalah mengelompokkan anak berdasarkan usia anak. Untuk anak yang berusia 7 dan 8 tahun yang terdiri dari 2 anak diberikan materi pelajaran yang bersifat CALISTUNGPAL (Membaca, Menghitung dan Menghapal). Untuk anak yang berusia 10-11 tahun yang jika bersekolah kelas IV SD sehingga diberi pelajaran sekolah untuk kelas IV SD, anak yang berusia 10-11 tahun ini berjumlah 7 orang. Anak-anak yang berusia 14 tahun berjumlah 2 orang anak, sekolah pada kelas 1 SMP atau kelas VII  mendapat pelajaran untuk tingkat kelas 1 SMP dan 2 orang anak yang berusia 15 tahun telah lulus SMP diberikan pelajaran untuk anak kelas I SMA dan juga membantu teman-temannya yang membutuhkan bantuan pelajaran untuk SD.

  1. 3. Evaluasi Terminasi dan Rujukan

Evaluasi merupakan tahapan kegiatan untuk menilai keberhasilan proses pelaksanaan kegiatan yang telah dilaksanakan. Bagian ini menjadi sangat penting manakala pelaksanaan program ini dilakukan secara berkesinambungan. Prinsip yang digunakan adalah keterbukaan dan partisipatif, dengan tujuan elemen yang terlibat dalam perencanaan maupun pelaksanaan kegiatan dapat memberikan masukan sebagai bagan perbaikan pada kegiatan-kegiatan selanjutnya. Hasil evaluasi proses didasarkan pada hasil observasi mulai dari proses persiapan, proses perencanaan, proses implementasi program intervensi.

  1. Tahap Persiapan

Hasil evaluasi menunjukkan bahwa proses persiapan yang dilakukan oleh kelompok belajar yang dibantu oleh pengurus yayasan Saudara Sejiwa pada awalnya kurang mendapat perhatian dan dukungan. Hal ini ditandai dengan banyaknya peserta yang tidak hadir dalam rapat persiapan, yang hadir dalam rapat persiapan ini hanya tiga orang saja. Namun, hal ini tidak membuat pertemuan langsung dibubarkan. Dengan tiga orang peserta, pendamping berusaha mengakomodir pendapat dan saran yang nantinya akan dibahas kembali pada persiapan selanjutnya.

  1. Tahap Perencanaan

Proses dalam tahap perencanaan yang dilaksanakan pada tanggal 24 Oktober 2009 yang bertempat di sekretariat Yayasan Saudara Sejiwa mulai terlihat adanya dukungan dan antusias dari peserta yang hadir. Perserta yang hadir sebanyak 14 orang, yang sebagian besar dari komunitas anak. Para peserta cukup aktif walaupun pada awalnya anak-anak masih malu. Dalam pertemuan ini membahas waktu pelaksanaan kegiatan dan rencana-rencana kegiatan dalam kegiatan intervensi. Hasil yang diperoleh dalam pelaksanaan intevensi adalah peserta mampu membuat rencana program kegiatan.

  1. Tahap Implementasi

Proses tahap implementasi yang sudah disepakati bersama pada tanggal  7 Nopember 2009 adalah pembentukan kelompok belajar. Kegiatan kelompok belajar mulai dilaksanakan pada tanggal 13 Nopember 2009 dengan pertemuan dua kali dalam seminggu. Dalam kegiatan kelompok belajar dapat dikatakan sesuai dengan harapan, dimana komunitas anak penjual kresek sebagai peserta kelompok belajar banyak yang hadir dan mengikuti kegiatan dengan semangat. Pengurus dan anggota kelompok belajar merasakan kepuasan yang diekspresikan dengan kesungguhan dan keaktifan mereka mengikuti kegiatan belajar dari awal hingga akhir kegiatan.

Namun, kesesuain metode mengajar dengan materi belajar masih perlu mendapatkan perhatian. Seperti materi yang bersifat keterampilan, belum diberikan dan materi pelajaran harus dilakukan dengan simulasi dan praktek agar lebih menarik dan mudah diingat oleh anak. Terkait dengan waktu, pada saat aktifitas di pasar sedang ramai seperti menjelang Idul Adha maka kegiatan belajar kelompok harus disesuaikan dengan waktu anak. Sehingga kegiatan belajar dimulai agak mundur dari yang direncanakan.

  1. Tahap Evaluasi

Tahap evaluasi merupakan tahap penilaian terhadap suatu proses dimana diperlukan berbagai alat yang dapat mendukung penilaian / evaluasi tersebut. Terkait dengan proses evaluasi baik terhadap proses persiapan, proses perencanaan, proses implementasi program dan tahap evaluasi terhadap proses evaluasi sendiri, pendamping menilai masih belum dikatakan sempurna sebab masih banyak kekurangan didalamnya.

Terminasi merupakan tahapan pengakhiran dari proses intervensi yang dilakukan pendamping atas dasar kesepakatan awal dan telah disampaikan disaat pertemuan awal. Secara keseluruhan proses terminasi ini dikakukan oleh adanya beberapa pertimbangan seperti halnya :

  1. Kesepakatan bersama antara sistem perubahan dan sistem sasaran terkait batas waktu pelaksanaan intervensi serta batasan waktu penelitian yang ada.
  2. Pencapaian tujuan proses dan hasil intervensi yang dilakukan dianggap telah mencpai sasaran dan sesuai dengan harapan, dimana terjadinya berubahan dalam segi pemahaman dan kemampuan komunitas penjual kresek terhadap permasalahan pendidikan.
  3. Baik sistem perubahan maupun sistem sasaran telah mampu menjalin relasi dengan berbagai lembaga yang ada di sekitar Pasar Ujungberung yang peduli terhadap pendidikan anak. Disamping mereka juga dianggap sudah memiliki kemampuan dalam mempersiapkan, merencanakan dan melaksanakan program kelompok belajar, mereka juga sudah mampu mengevaluasi berbagai program intervensi yang mereka lakukan guna meningkatkan hasil belajar mereka.
  4. Adanya komitmen dari lembaga terkait yang memberikan dukungan positif bagi anak yang berupa pendampingan maupun substansi belajarnya.

Rujukan atau referal merupakan proses pengalihan relasi pertolongan dari pekerja sosial pendamping kepada pihak lain yang dianggap memiliki potensi untuk memberi pelayanan yang lebih tepat atau atau memfasilitasi kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi. Rujukan dilakukan guna menindaklanjuti intervensi yang sudah dilakukan agar program-program yang direncanakan dalam jangka panjang dapat direalisasikan serta kapasitas kelompok sasaran dalam mengatasi masalahnya. Langkah-langkah kegiatan yang dilakukan dalam kegiatan rujukan adalah sebagai berikut :

  1. Membuat dokumentasi rujukan dari kelompok sasaran yang telah diberikan intervensi.
  2. Melakukan koordinasi dan negoisasi dengan pihak-pihak yang akan menerima rujukan dalam hal ini Yayasan Saudara Sejiwa dan PKBM Patrakomala.
  3. Menyerahkan lembar dokumen rujukan sebagai tindak lanjut pelayanan yang dibutuhkan kelompok sasaran selanjutnya.

VII. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

  1. A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, talah ditemukan beberapa permasalahan diantaranya :

  1. Banyak komunitas anak penjual kresek yang putus sekolah dan bahkan ada yang tidak pernah sekolah.
  2. Sebagian anak yang bersekolah terkadang sering bolos sehingga anak ini rentan untuk keluar dari sekolahnya.
  3. Keluarganya masih menginginkan anaknya bekerja untuk menopang kebutuhan ekonomi keluarganya.
  4. Salah satu alasan keluarga tidak menyekolahkan anaknya adalah ”walaupun sekolahnya gratis tapi masih harus mengeluarkan uang untuk seragam , buku maupun transportasi.

Permasalahan yang menjadi prioritas utama adalah tidak terpenuhinya hak pendidikan pada komunitas anak penjual kresek. Untuk mengatasi permasalahan tersebut maka dilakukan prioritas penanganan permasalahan yaitu dengan membentuk kelompok belajar pada komunitas anak penjual kresek. Pembentukaan kelompok belajar dimaksudkan anak-anak dapat belajar tanpa ada ikatan waktu dan bisa menyesuaikan dengan pekerjaan mereka. Sedangkan kelompok belajar yang telah dibentuk melalui kesepakatan bersama, diberi nama dengan kelompok belajar ”Kancil”.

  1. B. Rekomendasi

Berdasarkan hasil kegiatan yang dilakukan selama action research terlihat masih ada kekurangan yang belum dapat dilaksanakan. Ada beberapa rekomendasi yang diusulkan adalah sebagai berikut :

  1. Untuk pemerintahan setempat (kelurahan), diharapkan dapat memperhatikan orang tua dari anak penjual kresek dengan diikutkan dalam program-program yang sifatnya meningkatkan pendapatan keluarga seperti program PKH, BLT yang diharapkan selain dapat menarik anaknya untuk tidak bekerja juga sebagai pencegah agar anak tidak turun ke pasar.
  2. Untuk  Yayasan Saudara Sejiwa, diharapkan dapat lebih memperhatikan anak-anak penjual kresek ini karena kelompok yang telah terbentuk membutuhkan pendampingan dan terus harus diberikan motivasi.
  3. Untuk PKBM Patrakomala, diharapkan dapat menjangkau lebih aktif kepada komunitas anak penjual kresek.
  4. Untuk orangtua anak, diharapkan terus memberikan motivasi kepada anaknya untuk tetap sekolah dan bagi yang tidak sekolah dimotivasi untuk belajar di kelompok belajar. Idealnya para orangtua tidak lagi memberikan kesempatan anaknya untuk bekerja di pasar.
  5. Untuk semua pihak, agar mengkoordinasikan bentuk-bentuk pelayanan kepada anak supaya tidak tumpang tindih sehingga akan tercapai tujuan pelayanan yaitu ”Kepentingan Terbaik Bagi Anak”.

–o0o–

Daftar  Pustaka

Abu Huraeroh (2008), Pengorganisasian & Pengembangan Masyarakat, Bandung Humaniora

Adhani Wardianti, Laporan Praktikum Sp1 STKS Bandung, 2009

Arikunto, Suharsini, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, Jakarta, Bumi Aksara, 1992

Bailon, S.G. dan Maglaya, A.S.,. 1997. Family health Nursing: The Process. Philiphines: UP College on Nursing Diliman

Depsos RI.,2006. Indikator Ketahanan Sosial Keluarga.

Pusata Pengembangan Ketahanan Sosial Masyarakat, Badilit Kessos Departemen Sosial Republik Indonesia.

Hurlock, Elizabeth B (1993) Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Rentang Kehidupan : Jakarta, Erlangga.

Ife, Jim W. 1995. Community Development: Alternatif pengembangan masyarakat di Era Globalisasi, Melbourne : Longman.

Isbandi Rukminto Adi, 2008, Intervensi Komunitas Pengembangan Masyarakat Sebagai Upaya Pemberdayaan Masyarakat, Rajawali Pers, J akarta

ILO-IPEC, , Konvensi no 182 tentang penghapusan bentuk-bentuk pekerjaan terburuk bagi anak.

ILO-IPEC,  Panduan Tentang Pelaksanaan Pemantauan Dan Pelaporan Penerima Manfaat Langsung Pada Proyek Pendukung Terikat Waktu Indonesia Untuk Penghapusan Bentuk-Bentuk Pekerjaan Terburuk Untuk Anak – Tahap II. Jakarta, 2008.

Jowith and Steve, Social Work with Children & Families, Learning Matters

Konsorsium Pengembangan Dataran Tinggi Nusa Tenggara, Berbuat Bersama Berperan Setara. Driya Media : Bandung, 1996.

Pengkajian Hak untuk Pendidikan dan Pengajaran bagi Anak Pidana di Lembaga Pemasyarakatan Anak, 26 Desember 2005.

Potter dan Perry. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses dan Praktik. Jakarta: EGC

Robert T, at all, School Social Work Practice And Research Perspektif, The Dorsey Press, 1982

Robert L Schneider & Lori Lester, Advokasi Pekerjaan Sosial ; Kerangka Baru Untuk Bertindak, Pustaka Societa, Jakarta,  2008.

Suharto, Edi (2005), Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat : Kajian Strategis Pembangunan Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial, Bandung: Refika Aditama

Suhendi, at all (2001), Pengantar Sosiologi Keluarga, Bandung: Angkasa

Suparlan, Parsudi (ed). 1993. Kemiskinan di Perkotaan: Bacaan untuk Antropologi Perkotaan. Jakarta: Yayasan Obor

Shirley, M. H. H. 1996. Family Health Care Nursing : Theory, Practice, and Research. Philadelphia : F. A Davis Company

Theodore J. Stein; Social Work Practice in Child Welfare, Prentice-Hall, Inc, Englewood Cliffs, New Yersey, 1981.

Zastrow, Charles, 2004, Introduction to Social Work and Social Welfare, USA :Brooks/Cole-Thompson

Unicef, Convention On The Right Of The Child. (Konvensi Hak-hak Anak)

Undang-Undang No. 4 tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak

Undang-Undang No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak

Undang-undang No 11 tahun 2008 tentang kesejahteraan sosial

Webb, Nancy Boyd, Social Work Practice With Children, The Guilford Press, 2003

BIODATA PENULIS :

Penulis Pertama, Hari Harjanto Setiawan, Alumnus STKS Bandung, Telah menyelesaikan S2 di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial Tahun 2001 pada Universitas Indonesia dan sedang menempuh pendidikan S3 Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial  pada Universitas Indonesia. Saat ini bekerja sebagai peneliti pertama di Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Departemen Sosial RI.

Penulis Kedua, Adhani Wardianti, Alumnus STKS Bandung, sedang menyelesaikan pendidikan pada Program Pascasarjana Spesialis satu (Sp 1) STKS Bandung. Saat ini bekerja di Departemen Hukum Dan HAM.  Data lapangan dalam tulisan ini adalah berasal dari laporan praktikum Sp1 STKS Bandung.

About these ads

Responses

  1. semoga tulisan ini bisa bermanfaat sebagai referensi. Kalau sempat silahkan datang ke eRKa atau lembaga yang lebih besar seperti ILO-IPEC. Ada lagi jaringan lembaga2 yang menangani pekerja anak namanya JARAK (jaringan pekerja anak.


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: