Oleh: rumahkita2010 | 8 Maret 2010

COMMUNITY BASED

MENCEGAH MENJADI ANAK JALANAN DAN MENGEMBALIKANNYA KEPADA KELUARGA MELALUI MODEL COMMUNITY BASED

Hari Harjanto Setiawan*)

ABSTRACT

Street children many us meet in Kampung of Pedongkelan. Family in the Kampung Pedongkelan have high risk, because they unable to fulfill need of his life and perforced to employ its child as street musician, sale of newspaper, worker of park and sale of water. This children in general, still live with family. This street children is categorized as children at high risk, so that choose model in handling is with model of Community based that is one of the model handling of street children applying strategy to return to family and prevent children become street children. Handling bases aimed at reinforcement of family function, income generating and utilization of potency had by community. Goal of Community based is to improve ability of family as society member in protecting, mothering and fulfilling of children right.

Key words :  Street Children,, Community Based, Family

PENDAHULUAN

Pendorong anak lari dari rumah dan hidup di jalan adalah penelantaran dan pengabaian oleh keluarga. Penelantaran sebagai dampak kemiskinan keluarga yang ditampilkan dalam bentuk ketidak mampuan fisik dan sosial. Dalam Pola Dasar Pembangunan Kesejahteraan Anak (Departemen Sosial RI, 1996), dikemukakan bahwa anak terlantar dapat dikarenakan orang tua melalaikan kewajibannya, sehingga kebutuhan anak tidak dapat terpenuhi dengan wajar, baik secara rohani, jasmani dan sosial.

Pada seminar Nasional ”Children On Fire” di Hotel Savoy Homan Bandung yang berjudul Kebijakan Penanganan Anak Jalanan Di Indonesia, dikemukakan bahwa pemahaman terhadap situasi anak jalanan saja tidak akan memberikan jalan keluar yang efektif. Agar sebuah intervensi efektif, maka diperlukan pemahaman yang menyeluruh mengenai masyarakat dan keluarga anak jalanan. Pemahaman makro (struktural) dan mikro (dinamika keluarga) sangat dibutuhkan (Irwanto, 1999:2). Dalam hal ini, Departemen sosial sudah melaksanakan beberapa program penangan anak jalanan yang bekerja sama dengan lembaga internasional antara lain United Nation Development Program (UNDP) dalam uji coba 10 rumah singgah di 7 propinsi di Indonesia; Asian Development Program (ADB) dalam progran Social Protection Sector Development Program (SPSDP) dan Health and Nutrition Sector Development Program (HANSDP). Program tersebut diberikan kepada anak jalanan dalam bentuk pendampingan, pelatihan ketrampilan, pemberian makanan tambahan dan pemberian beasiswa bagi anak yang sekolah melalui model rumah singgah.

Ada 3 model penanganan anak jalanan antara lain : penanganan berbasis jalanan (street based), penanganan anak jalanan terpusat (center based), dan penanganan anak jalanan berbasis komunitas (community based). Dalam prakteknya lebih banyak menerapkan model street based dan center based, padahal model community based tidak kalah pentingnya dibandingkan pendekatan yang lainnya karena masing-masing pendekatan mempunyai kelembahan dan kelebihan.

Penanganan anak jalanan sampai saat ini cenderung lebih dititik beratkan pada upaya pemberdayaan langsung kepada anak. Keberadaan keluarga atau orang tua anak jalanan yang cenderung sebagai penyebab anak turun ke jalanan belum tersentuh pelayanan secara optimal. Padahal dilihat dari perkembangannya, penyebab banyaknya anak jalanan dikota-kota besar bersumber dari keluarga yang mengalami kemiskinan maupun keretakan hubungan orang tua. Bila dilihat lebih jauh lagi ada dua faktor utama yaitu: pertama, ketidak siapan orang tua melakukan pernikahan baik fisik maupun mental. Kedua, faktor eksternal yang disebabkan karena faktor ekonomi seperti terjadinya krisis ekonomi yang menyebabkan terjadinya pemutusan kerja secara masal. Anak yang berada dalam kondisi keluarga seperti itu mempunyai resiko sangat tinggi (children at high risk). Dalam kondisi ini, pencegahan yang paling tepat agar anak tidak menjadi anak jalanan adalah penguatan fungsi keluarga. Sehingga Model berbasis masyarakat  (community based) perlu untuk dikembangkan selain kedua model yang lain.

PERMASALAHAN

Konsekuensi logis dari perkembangan kota Jakarta sebagai kota metropolitan adalah lahirnya kantong-kantong pemukiman kumuh sebagai akibat kemiskinan yang dialami oleh warga di wilayah tersebut. Kondisi ini melahirkan tuntutan untuk kontribusi pendapatan dari seluruh keluarga agar dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya tak terkecuali anak-anak dibawah umur. Salah satu wilayah yang termasuk dalam kriteria ini adalah Kampung Pedongkelan. Sebagai akibat ketidak mampuan keluarganya, anak-anak dari wilayah ini terpaksa bekerja sebagai pengamen, pedagang asongan maupun sebagai tukang parkir. Anak seperti ini kita kenal dengan istilah anak jalanan. Mereka dianggap sebagai permasalahan sosial karena selain mengganggu ketertiban umum mereka sebenarnya mereka anak kurang terpenuhinya hak mereka sebagai seorang anak. Kita kembalikan kepada keluarganya dengan memperkuat fungsi-fungsi keluarga. Sehingga dalam penelitian ini akan menjawab permasalahan umum penelitian yaitu ”Bagaimana mencegah anak untuk menjadi anak jalanan dan mengembalikannya kepada keluarga melalui model community Based ?” dari permasalahan umum penelitian tersebut, secara khusus penelitian ini akan menjawab  :

  1. Bagaimana kehidupan keluarga anak jalanan di Kampung Pedongkelan?
  2. Model community based seperti apa yang dapat dikembangkan diwilayah tersebut?

TUJUAN

Penelitian penelitian ini secara umum bertujuan memberikan masukan kepada pemerintah, LSM maupun masyarakat dalam mencegah anak untuk menjadi anak jalanan dan mengembalikannya kepada keluarga melalui model community Based. Dan secara khusus penelitian ini bertujuan :

  1. Menggambarkan kehidupan keluarga anak jalanan di Kampung Pedongkelan
  2. Menggambarkan model community based yang dapat dikembangkan diwilayah tersebut.

DEFINISI KONSEP

Anak Jalanan

Banyak istilah yang ditunjukan kepada anak jalanan seperti anak pasar, anak tukang semir, anak lampu merah, peminta-minta, anak gelandangan, anak pengamen dan sebagainya. Menurut Lusk (1989, 57-58), yang dimaksud anak jalanan adalah “…any girl or boy…for whom the street (in the widest sense of the word, including unoccupied dwellings, wasteland, etc.) has become his or her habitual abode and/or source of livelihood; and who is inadequately protected, supervised, or directed by responsible adults. […setiap anak perempuan atau laki-laki…yang memanfaatkan jalanan (dalam pandangan yang luas ditulis, meliputi tidak punya tempat tinggal, tinggal di tanah kosong dan lain sebagainya) menjadi tempat tinggal sementara dan atau sumber kehidupan; dan tidak dilindungi, diawasi atau diatur oleh orang dewasa yang bertanggung jawab]

Definisi anak jalanan yang disusun peserta lokakarya nasional anak jalanan DEPSOS bulan Oktober 1995, yang dimaksud Anak jalanan adalah anak yang sebagian besar waktunya untuk mencari nafkah atau berkeliaran di jalanan atau tempat-tempat umum lainnya”. Usia anak jalanan berkisar antara 6 sampai dengan 18 tahun. Rentang usia ini dianggap rawan karena mereka belum mampu berdiri sendiri, labil mudah terpengaruh dan belum mempunyai bekal pengetahuan dan ketrampilan yang cukup. Di jalanan memang ada anak usia 5 tahun ke bawah, tetapi mereka biasanya dibawa orang tua atau disewakan untuk mengemis. Memasuki usia 6 tahun biasanya dilepas atau mengikuti temannya. Anak-anak yang berusia 18 sampai dengan 21 tahun dianggap sudah mampu bekerja atau mengontrak rumah sendiri bersama teman-temannya.

Anak jalanan dikelompokkan menjadi 3 tipologi yaitu anak yang mempunyai resiko tinggi (children at high risk), anak yang bekerja di jalan untuk membantu keluarganya (children on the street) dan anak yang hidup kesehariannya di jalan (children of the street). Ketiga tipologi anak jalanan tersebut mempunyai karakteristik yang berbeda sehingga model penanganannya juga berbeda. Dalam penelitian ini anak jalanan yang dimaksud adalah yang tergolong dalam kategori children at high risk dengan usia dibawah 18 tahun.

Model Penanganan Anak Jalanan

Menurut Departemen Sosial RI (1995), ada 3 model penanganan anak jalanan yaitu street based, center based dan community based. Masing-masing model ini memiliki kelemahan dan kelebihan tertentu.

Community based adalah model penanganan yang berpusat di masyarakat dengan menitik beratkan pada fungsi-fungsi keluarga dan potensi seluruh masyarakat. Tujuan akhir adalah anak tidak menjadi anak jalanan dan mereka tetap berada di lingkungan keluarga. Kegiatannya biasanya meliputi peningkatan pendapatan keluarga, penyuluhan dan bimbingan pengasuhan anak, kesempatan anak untuk memperoleh pendidikan dan kegiatan waktu luang dan lain sebagainya. Street based adalah kegiatan di jalan, tempat dimana anak-anak jalanan beroperasi. Pekerja sosial datang mengunjungi, menciptakan perkawanan, mendampingi dan menjadi sahabat untuk keluh kesah mereka. Anak-anak yang sudah tidak teratur berhubungan dengan keluarga, memperoleh kakak atau orang tua pengganti dengan adanya pekerja sosial. Center based yaitu kegiatan di panti, untuk anak-anak yang sudah putus dengan keluarga. Panti menjadi lembaga pengganti keluarga untuk anak dan memenuhi kebutuhan anak seperti kesehatan, pendidikan, ketrampilan waktu luang, makan, tempat tinggal, pekerjaan dan lain sebagainya. Open house (Rumah terbuka/Rumah singgah) mulai berkembang akhir-akhir ini di berbagai negara untuk melengkapi pendekatan yang sudah ada, termasuk di Indonesia. Keunikannya adalah mampu digunakan untuk memperkuat ketiga pendekatan diatas.

Berikut adalah tipologi anak jalanan yang dihubungkan dengan model dan fungsi intervensi :

TIPOLOGI ANAK JALANAN

KATEGORI ANAK MODEL INTERVENSI FUNGSI INTERVENSI

Anak yang mempunyai resiko tinggi (Children at high risk)

Community based

Preventif

Anak yang bekerja di jalanan (Children in the street)

Street based

Street education

Anak yang hidup di jalan (Children of the street)

Center based

Rehabilitatif

Corectional

Sumber : Lusk (1989, 67-74)

Model Community based

Model Penanganan Anak Jalanan Berbasis Masyarakat (Community based ) adalah salah satu model penanganan anak jalanan yang menerapkan strategi pengembalian anak kepada keluarganya dan mencegah anak-anak menjadi anak jalanan. Anak yang menjadi sasaran adalah anak yang masih berhubungan atau tinggal dengan keluarga. Basis penanganan diarahkan pada penguatan fungsi keluarga, peningkatan pendapatan, dan pendayagunaan potensi masyarakat. Anak-anak memperoleh pendidikan formal maupun non formal, memenuhi kebutuhan dasar, pengisian waktu luang dan lain-lain. Tujuan model ini adalah meningkatkan kemampuan keluarga dan anggota masyarakat dalam melindungi, mengasuh dan memenuhi kebutuhan anak-anak.

Childhope Asia (1990, 2) mengemukakan pegertian model community based sebagai pendekatan pencegahan. Pendekatan ini merupakan suatu alternatif untuk melembagakan anak jalanan. Hal itu merupakan suatu usaha yang menunjukkan bahwa permasalahan anak dimulai dari keluarga dan masyarakat. Proses pendekatan berbasis masyarakat adalah ditujukan pada keluarga anak jalanan, anak miskin perkotaan dan masyarakat untuk meyakinkan mereka membuat perubahan terhadap diri mereka sendiri agar tidak memanfaatkan anak mereka untuk mencari nafkah di jalan. Komponen-komponen pendekatan berbasis masyarakat antara lain : advokasi, pengorganisasian masyarakat, peningkatan pendapatan, bantuan pendidikan yang meliputi : klarifikasi nilai dan pelatihan ketrampilan.

Dalam penelitian ini, Community based yang dimaksud adalah penanganan keluarga anak jalanan di Kampung Pedongkelan, Kelurahan Kayu Putih, Kecamatan Pulogadung, Jakarta Timur. Alur pikir model digambarkan sebagai berikut :

Gambar 1 : Model Community Based

KELUARGA ANAK JALANAN DI KAMPUNG PEDONGKELAN
KEBERFUNGSIAN SOSIAL, KELUARGA ANAK JALANAN

Keberhasilan program dalam model community based tidak terlepas dari peranan pekerja sosial. Seseorang pekerja sosial yang bekerja di masyrakat kita sebut dengan pendamping masyarakat (community worker). Seorang community worker harus memiliki sikap yang ditampilkan pribadi, baik bersumber dari kompetensi profesional maupun secara fundamental melekat pada kualitas pribadinya. Kualitas pribadi tersebut disamping diperoleh melalui proses pelatihan, terlebih utama diperoleh dari pengalaman praktek di masyarakat. Kesadaran untuk membangun dan meningkatkan kualitas pribadi secara terus menerus perlu dikembangkan dalam rangka tanggung jawab profesionalnya. Peran seorang pekerja sosial menurut Zastrow (1986, 49-50) antara lain : Pemercepat perubahan (Enabler), Perantara (Broker), Pendidik (Educator), Tenaga Ahli (Ekspert), Perencana Sosial (Social Planer), Advokat (Advocate) dan Aktifis (Activist).

METODE

Data dalam tulisan ini diambil dari penelitian terapan (action research) yang menurut penjabarannya termasuk penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan penelitian kualitatif. Dalam penelitian ini, peneliti terlibat langsung dalam pelaksanaan program di Kampung Pedongkelan.

Tahapan dalam action research diulangi secara terus menerus sampai batas waktu yang telah ditentukan untuk menghasilkan suatu program yang lebih sempurna. Action research paling sedikit berproses dalam satu kali siklus dan dalam penelitian ini berjalan dua kali siklus.  Action research efektif digunakan pada kelompok lokal, keluarga dan setting komunitas, termasuk didalamnya adalah komunitas dimana banyak terdapat anak jalanan.

PEMBAHASAN

Kehidupan Keluarga Anak Jalanan di Kampung Pedongkelan

Kampung Pedongkelan terletak di sebelah perempatan Coca-cola (by Pass) yang sangat strategis untuk menuju pusat-pusat perekonomian kota sehingga penduduk banyak yang memanfaatkan sebagai sumber pendapatan. Kearah timur menuju terminal Pulogadung, kearah utara menuju Tanjung Priuk, kearah barat menuju ke Senen dan ke arah selatan menuju ke Jatinegara. Berdasarkan kondisi geografisnya, daerah Pedongkelan merupakan daerah dataran rendah dan terletak diatas rawa-rawa. Apabila hujan, maka genangan air naik dan membanjiri rumah-rumah penduduk.

Sebagian besar mata pencaharian kepala keluarga di Kampung Pedongkelan adalah pedagang kecil, tukang ojeg dan pengelap mobil. Dengan mata pencaharian tersebut penghasilan mereka rata-rata Rp.10.000,- sampai dengan Rp. 20.000,-perhari perkeluarga. Pendapatan yang sedikit menyebabkan mereka tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarganya, sehingga mereka terpaksa mengajak anaknya untuk membantu mencukupi kebutuhan keluarga. Dalam membantu keluarganya, anak-anak tersebut bekerja sebagai pengamen, pengelap mobil dan ada juga yang berdagang koran. Kondisi yang menyedihkan ini diperburuk lagi ketika ada orang yang memanfaatkan kondisi keluarga tersebut untuk membungakan uang (renternir). Bunga yang ditentukan renternir berkisar antara 20%-30%. Karena terdesak oleh kebutuhan keluarga, tidak jarang dari mereka yang meminjam uang dari renternir. Bunga yang tinggi ini menyebabkan usaha mereka tidak berkembang karena keuntungannya habis dipakai untuk membayar hutang. Untuk mencukupi kebutuhan rumah tangganya, penduduk terbiasa dengan cara gali lobang tutup lobang.

Hampir setiap keluarga memiliki anak jalanan yang pada umumnya berpendidikan hanya sampai tingkat SD dan bahkan ada yang tidak bersekolah. Mereka pulang ke rumah secara teratur (tiap hari bertemu karena tinggal dengan orangtuanya) maupun tidak teratur, secara berkala pulang ke rumah. Keluarga anak jalanan adalah keluarga miskin yang tinggal di daerah-daerah kumuh di perkotaan. Begitupun yang berasal dari luar kota ber­asal dari desa-desa miskin. Lingkungan komunitas mereka biasanya ditandai dengan ku­rangnya sarana drainase dan sanitasi, rumah-rumah yang sempit, kurangnya sarana ber­main untuk anak, merupakan rumah sewaan, dan sebagainya. Padahal ke­luarga-keluarga tersebut biasanya mempunyai jumlah anak yang banyak dan pendapatan mereka di bawah garis kemiskinan. Dalam kondisi seperti itu, anak-anak memperoleh tekanan untuk bekerja dan sebagian besar meluangkan wak­tunya di jalanan. Bagi mereka, persoalan yang utama mereka hadapi adalah bagaimana mempertahankan kelangsungan hidup, bukan lagi bagaimana bisa bersekolah dengan baik seperti anak-anak lainnya.

Model Community Based

Menurut data Yayasan SEKAM (th 2000) jumlah anak jalanan yang dibina di sekitar Jakarta Timur berdasarkan tipologi anak jalanan, antara lain children of the street yang berjumlah 199 orang atau 10%, yang membutuhkan model center based. Anak yang tergolong children in the street berjumlah 493 orang atau 25%, yang membutuhkan model street based, dan anak yang tergolong children at high risk berjumlah 1283 orang atau 65% yang membutuhkan program community based. Apa bila digambarkan kondisi tsebut adalah sebagai berikut :

Gambar 2. Kategori anak jalanan berdasarkan jumlah dan model penanganan

Berdasarkan hasil observasi kondisi anak jalanan dan latar belakang keluarganya, maka model community based dianggap efektif dikembangkan di wilayah Kampung Pedongkelan. Tujuan penanganan dengan model ini adalah Pertama, untuk membangkitkan kesadaran orang tua dan anak-anak mengenai hak-hak anak, serta membangkitkan perasaan bahwa mereka bisa melakukan sesuatu untuk merubah kehidupannya. Kedua, membantu mereka dalam mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan mereka serta mengorganisir penduduk untuk memenuhi kebutuhan mereka. Ketiga, mengembangkan kapabilitas orang tua dan anak-anak untuk memahami dan bertindak berdasarkan kemampuan mereka dalam menggunakan sumber-sumber internal maupun eksternal guna memenuhi kebutuhan-kebutuhan individual, keluarga dan masyarakat serta untuk mengatasi masalah-masalah mereka.

Sasaran dari model community based adalah: Pertama, terwujudnya keluarga dan masyarakat yang mampu mengurus dirinya sendiri dan mampu memecahkan masalah-masalah yang ada dalam masyarakat sendiri serta tidak tergantung pihak lain. Kedua, terciptanya keberfungsian sosial kehidupan anak dengan keluarga dan masyarakat secara harmonis. Ketiga, terwujudnya dan terbinanya kepedulian serta peran aktif keluarga dan masyarakat dalam melindungi anak-anak mereka agar tidak turun ke jalanan.

Target intervensi program secara langsung adalah keluarga anak jalanan dan masyarakat. Sedangkan sasaran tidak langsungnya adalah anak jalanan itu sendiri. Sedangkan fungsinya adalah mencegah agar anak tidak turun ke jalan, mengembalikan anak kepada orang tua atau keluarga pengganti, dan anak mandiri dan bekerja pada tempat yang lebih baik dari pada di jalanan.

Adapun prinsip pelayanan adalah partisipatif, sustainable, pemberdayaan, multiefek, dan kontrol sosial. Partisipatif yaitu menekankan pada kebersamaan atau saling memberikan sumbangan akan kepentingan dan masalah-masalah bersama yang tumbuh dari kepentingan dan perhatian individu keluarga anak jalanan itu sendiri. Partisipasi adalah hasil dari kesepakatan warga masyarakat akan perubahan sosial yang mereka harapkan. Sutainable, yaitu dalam proses pengembangan keluarga dan masyarakat harus berkelanjutan. Program yang dilaksanakan harus berkaitan satu dengan program selanjutnya dan tidak hanya berorientasi pada tuntutan proyek. Pemberdayaan (empowerment) yaitu peningkatan kemampuan keluarga untuk memelihara kelangsungan hidup, tumbuh kembang dan perlindugan anak. Dalam hal ini keluarga anak jalanan tidak tergantung selamanya pada pekerja sosial pendamping. Multiefek, yaitu intervensi yang dilakukan terhadap keluarga anak jalanan tidak hanya berdampak pada dirinya sendiri, tetapi juga berdampak pada lingkungan sekitarnya terutama pada anak mereka. Kontrol sosial  yaitu segala tindakan pencegahan dan pengawasan yang dilakukan oleh keluarga dan masyarakat terhadap tindak kekerasan, perlakuan salah, eksploitasi maupun penelantaran anak yang terjadi pada keluarganya.

Program atau kegiatan dalam model community based antara lain penambahan pendapatan keluarga (income generating) dan pembentukan keluarga yang baik (good parenting). Income generating yaitu bantuan sosial bagi keluarga atau orang tua anak jalanan dengan harapan untuk meningkatkan pendapatan keluarga. Dengan meningkatnya pendapatan keluarga diharapkan dapat memenuhi hak-hak anaknya. Jenis pelayanan yang diberikan antara lain: pemberian bantuan modal usaha ekonomi produktif berupa pinjaman uang untuk berdagang, bimbingan motifasi berwira usaha, pembentukan kelompok swadaya masyarakat dan pelatihan manajemen kelompok. Sedangkan good parenting adalah meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan bagi keluarga bermasalah atau rawan masalah sehingga secara bertahap mampu mendaya gunakan berbagai sumber yang tersedia baik didalam maupun diluar keluarga guna pemecahan permasalahan atau kerawanan yang dialami. Jenis pelayanan yang diberikan antara lain: pemberian informasi tentang kesejahteraan keluarga, mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan, membantu merujuk kepada pelayanan terkait yang dibutuhkan, penyuluhan dan bimbingan tentang hak anak sehingga keluarga tersebut tersentuh untuk berusaha memenuhinya.

Keberhasilan model community based tidak lepas dari peranan pendamping masyarakat yang dilakukan oleh pekerja social. Peran pekerja social dalam mendampingi masyarakat Kampung Pedongkelan antara lain : pertama, sebagai enabler yaitu membantu masyarakat agar dapat mengartikulasikan kebutuhan mereka, mengidentifikasikan masalah mereka, dan mengembangkan kapasitas mereka agar dapat menangani masalah yang mereka hadapi secara lebih efektif. Peranan sebagai enabler ini adalah peran klasik dari seorang community worker. Dasar filosofis dari peran ini adalah ”help people to help them selves”. Kedua, sebagai broker (perantara) yaitu terkait erat dengan upaya hubungkan individu atau kelompok dalam masyarakat yang  membutuhkan bantuan ataupun layanan masyarakat (community services), tetapi tidak tahu dimana dan bagaimana mendapatkan bantuan tersebut, dengan lembaga yang menyediakan layanan masyarakat. Peran sebagai perantara, yang merupakan peran mediasi dalam konteks pengembangan masyarakat.juga diikuti dengan perlunya melibatkan klien dalam kegiatan penghubung ini. Ketiga, pendidik, community worker diharapkan mempunyai kemampuan menyampaikan informasi dengan baik dan jelas, serta mudah ditangkap oleh komunitas yang menjadi sasaran perubahan. Disamping itu ia harus mempunyai pengetahuan yng cukup memadai mengenai topik yang akan dibicarakan. Dalam kaitan dengan hal ini, seorang community worker tidak jarang harus menghubungi rekan dari profesi lain yang menguasai materi tersebut. Keempat, sebagai tenaga ahli (ekspert), community worker diharapkan untuk memberikan masukan, saran dan dukungan informasi dalam berbagai area. Misalnya saja, seorang tenaga ahli diharapkan dapat memberikan usulan mengenai bagaimana struktur organisasi yang bisa dikembangkan dalam suaatu organisasi nirlaba yang menangani lingkungan, kelompok-kelompok mana saja yang harus terwakili, atau memberikan masukan mengenai isu yang pantas dikembangkan dalam suatu komunitas (termasuk organisasi). Kelima, sebagai Perencana Sosial (Social Planer) yaitu mengumpulkan data mengenai masalah sosial yang terdapat dalam komunitas, menganalisisnya dan menyajikan alternatif tindakan rasional untuk menangani masalah. Setelah itu perencana sosial mengembangkan program, mencoba alternatif sumber pendanaan, dan mengembangkan konsensus dalam kelompok yang mempunyai berbagai kepentingan. Jadi perencanaan sosial lebih memfokuskan pada tugas-tugas yang terkait dengan pengembangan dan pelaksanaan program. Keenam, sebagai advokat dalam community work dicangkok dari profesi hukum. Peran advokat pada satu sisi berpijak pada tradisi pembaharuan sosial, dan pada sisi lain berpijak pada tradisi pelayanan sosial. Peran ini merupakan peran yang aktif dan terarah dimana community worker menjalankan fungsi advokasi. Seseorang community worker tidak jarang harus melakukan persuasi terhadap kelompok provesional ataupun kelompok elit tertentu, agar dapat mencapai tujuan yang diharapkan. Ketujuh,  Sebagai activist, seorang community worker mencoba melakukan perubahan institusional yang lebih mendasar, dan seringkali tujuannya adalah mengalihkan sumberdaya ataupun kekuasaan (power) pada kelompok yang kurang mendapatkan keuntungan (disadvantged group). Seorang aktifis biasanya memperhatikan isu-isu tertentu, seperti ketidak sesuaian dengan hukum yang berlaku (injustice), kesenjangan (inequity) dan perampasan hak. Seorang aktifis biasanya mencoba menstimulasi kelompok-kelompok yang kurang diuntungkan tersebut untuk mengorganisir diri dan melakukan tindakan melawan struktur kekuasaan yang ada (yang menjadi penekanan mereka). Taktik yang biasa mereka lakukan adalah melalui konflik, konfrontasi (misalnya melalui demonstrasi) dan negoisasi.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Community based digunakan untuk menggali dan menumbuhkan partisipasi keluarga dan masyarakat setempat dalam menemukan kebutuhan-kebutuhannya, merencanakan kegiatan dalam memenuhi kebutuhan, berpartisipasi aktif dalam melaksanakan kegiatan dan mengawasi pelaksanaan kegiatan. Proses ini dilaksanakan dengan cara mengembangkan sikap-sikap kooperatif dan kolaboratif antar warga masyarakat. Dari tahapan penelitian diatas dapat diambil manfaat bahwa proses community based yang harus dilalui oleh seorang pekerja sosial bukanlah proses alamiah, akan tetapi merupakan proses sosial yaitu serangkaian aktifitas yang terencana untuk memfasilitasi dan mengembangkan kapasitas individu kelompok dan masyarakat guna merespon masalah-masalah yang dipandang dalam kerangka kerja dari tujuan-tujuan dan nilai-nilai spesifik.

Saran

Pertama, Pekerja sosial kadang-kadang terjebak pada kegiatan mikro kredit yang seolah-olah sebagai suatu tujuan. Pekerja sosial harus menyadari bahwa intervensi melalui mikro kredit hanyalah sebagai alat saja, sedangkan tujuan utamanya adalah kesejahteraan anak atau terpenuhinya hak anak.

Kedua, Permasalahan yang dialami keluarga anak jalanan bukan hanya masalah ekonomi saja, tetapi juga masalah nilai-nilai yang diterapkan keluarga terhadap anaknya. Untuk itu selain program income generating, perlu diimbangi dengan program good parenting. Sehingga perlu adanya komitmen orang tua anak jalanan untuk melaksanakan program tersebut.

Ketiga, Pelaksanaan program sering berbenturan dengan pihak-pihak tertentu, misalnya pemerintah setempat, ada LSM yang merasa tersaingi maupun renternir yang kehilangan lahan. Untuk mengatasi masalah tersebut, libatkan stakeholder dan shareholder disekitrar komunitas Kampung Pedongkelan.

–ooOoo–

DAFTAR PUSTAKA

BUKU :

Adi, Isbandi Rukminto (2001) Pemberdayaan, Pengembangan Masyarakat dan Intervensi Komunitas, Lembaga penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Carrizosa and Poertner (1990) International social work : Latin American Street Children.

Childhope Asia, A Guidebook for Community Based Programs Among Street Children and Theit families, National Project on Street Children, Philippines.

Kruenge Richard (1988) Focus Group: A Practical Guide For Aplied Research, Sage publication, Newbury Park Beverly Hills London New Delhi.

Moleong, Lexy J. (1990) Metodologi Penelitian Kualitatif, Remaja Rosdakarya Bandung.

Margaret Alston and Wendy Bowles (1998) Research for Social Workkers; An Introduction to Methods, Allen & Unwin.

Skidmore, Rex (1994) Introduction to Social Work, Sixth Edition, Prentice Hall International Editions.

Siporin, Max   (1975) Introduction to Social Work Practice,: MacMillan Publishing Co. Inc, New York & Coll ier Macmillan Publishers, London.

Stringer T Ernest (1996) Action Research : A Hand For Practitioners, California: Sage publication, Inc.

Zastrow, Charles (1985) The Practice of Social Work, Dorsey Pres, Chicago.

Artikel dan Makalah :

Anwar Jeffry (1994) Ekonomi Jalanan Suatu Pendekatan Alternatif Dalam Penanganan Anak Jalanan di Perkotaan, Makalah seminar.

Balukh, Benyamin (Ketua Komisi VII DPR) 2000 Kerangka Kebijakan Terhadap Perlindungan Hak Anak, Konas III Kesejahteraan Anak, Hotel Sahid Jaya, Jakarta.

Hikmat, Harry (1999) Perlindungan Anak Dalam Perspektif Pendekatan Pembangunan Pada Generasi Selanjutnya, Seminar Hari Anak Nasional STKS Bandung.

Irwanto (1999) Anak Jalanan : Strategi Intervensi Terbaik Untuk Indonesia, Unika Atmajaya, Jakarta.

Sunusi, Makmur (1996) Beberapa Temuan Lapangan Survey Anak Jalanan dan Rencana penanganannya di Jakarta dan Surabaya, Jakarta Departemen Sosial-UNDP.

Sudrajat, Tata (1997) Mengenali Program Penanganan Anak Jalanan, Makalah untuk pelatihan beranting pendamping anak, YKAI

Silva, Theresita L, Memobilisasi Masyarakat Bagi Perlindungan Dan Rehabilitasi Anak Jalanan, Perwakilan Regional Childhope Asia Philipina.

Karya Ilmiah Akhir, Thesis dan Disertasi :

Adi, Isbandi Rukminto (1999) Social Work Macro Intervention, Street Children’s Problem and The Open House For Street Children in Jakarta, School of Social Work, Faculty of Art and Social Sciences, University of New South Wales.

Harjanto S, Hari (1998) Pemberdayaan Anak Jalanan Di Kecamatan Majalaya Kabupaten Dati II Bandung, Karya Almiah Akhir, STKS Bandung.

Kartika, Tuti (1997) Anak Jalanan Dan Model Penanganannya, Tesis Program Magister , Program Studi Sosiologi, Kekhususan Ilmu Kesejahteraan Sosial, Universitas Indonesia, Jakarta.

Wibawa, Dhevi Setia (2000) Anak Jalanan Pun punya ”Waktu Luang” Studi tentang Leisure pada anak jalanan di Jakarta, Tesis Program Pasca Sarjana, Bidang Ilmu Sosial,  Kekhususan Sosiologi, Universitas Indonesia, Jakarta.

Konvensi, Keputusan dan Undang-undang :

Keputusan Menteri Sosial RI Nomor 23/HUK/1996 Tentang Pola Dasar`Pembangunan Kesejahteraan Sosial.

Unicef, Convention On The Right Of The Child. (Konvensi Hak-hak Anak)

Undang-undang No 4 (1979) Tentang Kesejahteraan Anak.

Undang-undang No 23 Tahun 2005 Tentang Perlindungan Anak.


*) Peneliti Pusat Penelitian Dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Depsos RI

Tulisan ini mengambil sebagian data dari tesis yang telah disesuaikan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: