Oleh: rumahkita2010 | 21 Juli 2010

PORNOGRAFI DAN PERKEMBANGAN ANAK

PORNOGRAFI DAN PERKEMBANGAN ANAK

Oleh : Hari Harjanto Setiawan

Bencana alam sudah sering melanda negri ini, dari gempa, tsunami, longsor maupun ada yang kekeringan. Sekarang negeri ini dilanda bencana yang lebih besar lagi yang dapat melenyapkan generasi penerus kita. Mereka telah teracuni otaknnya sehingga dapat mengganggu perkembangannya. Akhir-akhir ini kita semua dikejutkan oleh video porno yang pelakunya adalah mirip artis yang menjadi idola masyarakat terutama generasi muda. Terlepas dari pelakunya siapa dan apakah video tersebut pelakunya artis atau mirip artis, yang jelas semua itu termasuk pornografi. Akibat peredaran video tersebut, tanggapan masyarakat sangat beragam. Sebagian besar dari masyarakat menolak dan bahkan mengecam aksi pornografi, terutama dari para orang tua yang memiliki anak-anak. Para orang tua sangar mengkhawatirkan anaknya akan terpengaruh untuk nonton yang akhirnya akan terpengaruh untuk berbuat seperti perbuatan idolanya. Perbuatan pornografi semacam ini akan dapat mempengaruhi perkembangan anak-anak mengingat masa anak adalah masa perkembangan dan masa mencari jati diri.

PERSPEKTIF EKOLOGI SOSIAL

Perkembangan anak (usia dibawah 18 tahun) dipengaruhi oleh berbagai faktor baik secara langsung maupun yang tidak langsung berhubungan dengan anak. Sebagai makhluk sosial, anak dengan segala aspek perkembangannya harus berinteraksi dengan individu lain dalam lingkungan sosialnya dan saling mempengaruhi. Model ekologi menjadi satu ruang lingkup perkembangan yang sifatnya eksternal dan memberikan kontribusi besar bagi konsep perkembangan anak. Menurut Bronfenbrenner’s dalam Santrock (2009) model ekologi memperlihatkan bagaimana anak dipengaruhi oleh struktur lingkungan dimana ia tinggal, yang terdiri dari : “microsystem, mezosystem, exosystem dan macrosystem.”(h.29). Microsystem, menunjukkan setting dimana individu hidup, memiliki aktivitas, peran, dan interaksi dengan orang-orang penting yang berpengaruh langsung terhadap perkembangannya. Misalnya, orangtua, teman sebaya, guru dan masyarakat. Mesosystem, menunjukkan hubungan antara dua atau lebih mikrosistem atau hubungan beberapa konteks. Misalnya, hubungan antara rumah dan sekolah (anak dengan orangtua yang menolak dirinya dapat mengalami kesulitan mengembangkan hubungan positif dengan guru), hubungan antara rumah dan tempat kerja (anak dengan orangtua yang dipecat akan berpeluang besar menjadi korban kekerasan oleh orangtunya), dst. Echosystem, menunjukkan setting sosial dimana individu tidak terlibat secara aktif, tetapi akan mempengaruhi individu tersebut. Misalnya, penyediaan fasilitas perpustakaan bagi anak, televisi, internet, dll. Macrosystem, merupakan suatu sistem yang berpengaruh secara tidak langsung terha­dap perkembangan individu. Misalnya, agama, ideologi, kebudayaan, krisis ekonomi, peristiwa-peristiwa politik, dll.

Media yang dijadikan penyebaran video porno merupakan faktor pada level exosystem yang dapat mempengaruhi perkembangannya. Media yang berupa internet dan ponsel masih sulit dikontrol. Televisi, radio dan koran juga harus turut bertanggung jawab karena walaupun tidak fulgar namun dapat membuat penasaran orang untuk mencari. Apalagi usia anak yang yang masih mencari jati dirinya, rasa penasaran sangat kuat untuk menonton film tersebut. Dalam masa pencarian ini anak masih tergantung pada orang dewasa yang membentuknya. Mass media adalah sebuah alat yang tergantung pada yang mengendalikannya. Mass media bisa bernilai positif maupun negatif. Mass media akan bernilai positif bagi perkembangan anak apabila diisi dengan sesuatu yang bernilai pendidikan. Namun sebaliknya mass media akan bernilai negatif apabila diisi dengan sesuatu yang dapat merusak moral bangsa, yang salah satunya adalah video porno.

KESEJAHTERAAN SOSIAL ANAK

Pada masa perkembangannya, anak tidak terlepas dari beragam kebutuhan baik fisik, mental, emosional yang semuanya merupakan alat dan sarana untuk mencapai keberfungsiannya secara utuh. Kesejahteraan anak hanya akan tercapai bila kebutuhan-kebutuhan anak dapat terpenuhi secara wajar, baik fisik, mental spiritual, maupun sosial. Kebutuhan anak menjadi tanggung pemerintah, masyarakat dan keluarga (orang tua). Tinjauan tersebut menunjukkan bahwa kesejahteraan anak terimplisit dalam pemenuhan kebutuhan dan hak-hak mereka. Prasyarat utama agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara normal adalah terpenuhinya kebutuhan dasar anak yang meliputi kebutuhan psikologis, kasih sayang, pendidikan, pemeliharaan kesehatan, perlindungan terhadap segala diskriminasi dan perlakuan salah (termasuk didalamnya pornografi), serta kesempatan untuk menyuarakan pendapatnya dalam berbagai keputusan menyangkut nasib dirinya.

Anak mempunyai kebutuhan yang harus dipenuhi, seperti yang dikemukakan oleh Dubois (2000) menyebutkan bahwa kebutuhan dasar anak adalah: “Makanan yang memadai, pakaian, perumahan, perawatan dan kesehatan, pendidikan, pengawasan, perlindungan dari lingkungan yang berbahaya, perawat asuhan, kasih sayang dukungan dan cinta”(h.11). Dalam penerapannya di Indonesia kesejahteraan sosial untuk warganya yang didalamnya termasuk anak telah dibuat Undang Undang No.11 Tahun 2009 bahwa “Kesejahteraan adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan material, spiritual dan sosial warga negara agar dapat hidup layak dan mampu mengembangkan diri, sehingga dapat melaksanakan fungsi sosialnya”.

Kebutuhan-kebutuhan tersebut merupakan kebutuhan yang khas bagi anak yang terdiri dari berbagai tingkat intensitas, di mana masing-masing kebutuhan tersebut dibatasi oleh beberapa faktor antara lain faktor individual, faktor sosial, kultural dan religius termasuk nilai-nilai. Kebutuhan-kebutuhan yang bersifat psikologis-sosiologis yang mendorong anak untuk bertingkah laku yang khas. Apabila kebutuhan psikologis-sosiologis dapat terpenuhi secara memadai, maka akan mendatangkan keseimbangan dan keutuhan integrasi pribadi; anak dapat merasa gembira, harmonis, bahagia, dan sebagainya. Akan tetapi apabila kebutuhan tersebut tidak dapat terpenuhi maka tidak ada kepuasan dalam hidup seorang, anak dapat mengalami frustrasi, serta terhalang dan terhambatnya perkembangan sikap positif, sehingga akan mengalami hambatan-hambatan dan merasa tidak berarti dalam hidupnya. Demikian pula apabila semua aspek kebutuhan anak terpenuhi, maka tercapailah suatu tingkat kesejahteraan bagi anak.

Dalam konteks kesejahteraan anak, pemerintah telah mengeluarkan peraturan perundang-undangan, misalnya Konvensi Hak Anak yang diratifikasi oleh pemerintah dalam UU Nomor 23 Tahun 2003 Tentang Perlindungan Anak. Salah satu hak anak adalah “The Right to Life, Survival and Development” atau Kelangsungan hidup dan perkembangan anak (Pasal 6). Hak hidup yang melekat pada diri setiap anak harus diakui atas perkembangan hidup dan perkembangannya harus dijamin. Dengan demikian penyebaran film porno termasuk dalam pelanggaran anak karena menggangu perkembangannya. Kesejahteraan anak tidak terlepas pula dengan bagaimana pola pengasuhan terhadap anak.

Agar anak dapat menjadi generasi penerus bangsa yang dapat diandalkan maka kita harus mempersiapkan masa depan anak dari sekarang dalam berbagai level. Pada level microsystem, bahwa pendidikan dalam keluarga harus kuat, yang dalam hal ini orangtua harus menjadi contoh yang baik bagi anak-anaknya Selain keluarga yang diperkuat, pendidikan dilakukan dari sekolahan, kelompok pertemanan, kelompok keagamaan dan teman bermain harus diarahkan kepada hal yang positif. Pada level mezosystem, komunikasi antara keluarga dengan pihak sekolah, kelompok sebaya, kelompok bermain dan kelompok keagamaan harus diperkuat sehingga ada kesamaan visi dalam mengarahkan anak dalam masa perkembangannya. Pada level exosystem, terutama yang banyak mempengaruhi adalah media baik berupa televisi maupun internet harus ada kontrol dari masyarakat, sehingga tidak menampilkan hal-hal yang dapat merusak otak anak dalam masa perkembangannya. Dan pada level macrosystem, kepedulian dan kebijakan pemerintah diharapkan dapat berpihak pada anak. Seiring dengan lamanya waktu maka akan terbentuk pola dalam membentuk anak dalam masa perkembangannya (cronosystem).

Apabila pola yang baik dalam perkembangan anak ini dapat terbagun, maka kita tidak perlu lagi khawatir dengan adanya video porno yang beredar, karena sudah pasti akan tertolak oleh masyarakat. Selama ini di masyarakat kita sudah terbentuk pola tersebut terbukti dengan adanya aksi-aksi yang dilakukan oleh masyarakat dan adanya kebijakan tentang pelarangan terhadap ketiga artis tersebut merupakan pola yang harus terus menerus dikuatkan dan dikembangkan. Dengan demikian diharapkan kita mempunyai generasi penerus yang baik dalam membangun negeri ini dimasa yang akan datang.

HARI HARJANTO SETIAWAN, Kandidat Doktor Ilmu Kesejahteraan Sosial UI.

e-mail : hari_harjanto@yahoo.com

Hp. 081383373943


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: