Oleh: rumahkita2010 | 10 Desember 2010

COMMUNITY DEVELOPMEN

ANAK JALANAN

DIKAMPUNG MISKIN PERKOTAAN

(Studi Kasus Penerapan Metode Community development di “Pedongkelan”)

HARI HARJANTO SETIAWAN

 

ABSTRACT

The Community development programs are preventive in aproach. This approach offers an alternative to institutionalization of street children. It is a atemt address the problem where it stars the family and the community of the child. The Community development process on the families of street children and others urban poor children and their community to enable them to make those change within themselves that will lead to change in opportunities for their children to keep them of the streets. It has several main components: advocacy, community organization, livelihood development and educational assistance including value clativication and skills trainimg. Family in the Kampung Pedongkelan have high risk, because they unable to fulfill need of his life and perforced to employ its child as street musician, sale of newspaper, worker of park and sale of water. This children in general, still live with family. This street children is categorized as children at high risk, so that choose model in handling is with model of Community development that is one of the model handling of street children applying strategy to return to family and prevent children become street children. Handling bases aimed at reinforcement of family function, income generating and utilization of potency had by community. Goal of Community development is to improve ability of family as society member in protecting, mothering and fulfilling of children right.

Key words : Street Children, Kampung Miskin Perkotaan, Community development.

  1. 1. PENDAHULUAN

Dunia anak jalanan merupakan sebuah dunia yang ada dalam dunia kita. Mereka hadir bersama kita, tetapi kebanyakan masyarakat menganggap mereka sebagai gangguan. Mereka diperlakukan sebagai suatu kelompok yang berada di luar lingkungan masyarakat sendiri (sub kultur spesifik). Anak-anak jalanan akan selalu ada bahkan mungkin untuk seterusnya, ketika pembangunan itu sendiri tidak berhasil menghentikan penggusuran terhadap kelompok-kelompok marjinal perkotaan. Sayangnya lembaga-lembaga yang beregerak dalam program-program anak jalanan sering kali menggunakan ukuran kesuksesan mereka dalam hitungan ”jumlah anak yang kembali ke keluarga atau keluar dari jalanan”. Petugas bahkan menggunakan metode represif yang disebut ”garukan” dengan melakukan penangkapan dan memindahkan mereka ke jalanan ketempat lain. Kalau ukuran ”jumlah” digunakan sebagai indikator, maka seorang aktivis yang bekerja untuk anak jalanan bergurau bahwa program pembangunan di Indonesia yang paling berhasil adalah program anak jalanan, karena setiap tahun kita berhasil meningkatkan jumlah anak jalanan. Sebagian lembaga lain cenderung untuk merancang tujuan program anak jalanan untuk ”memanusiakan kembali anak jalanan” (yang biasa dikenal dengan istilah ”resosialisasi”) karena nilai-nilai anak jalanan dianggap tidak manusiawi dan liar. Dengan pandangan ini, anak dipandang sebagai klien atau orang yang penyakitan. Mengapa kita tidak membuang jauh-jauh semua angka statistik dan segala penilaian mengenai anak jalanan? Ketika kita kita memasuki dunia ”mereka”, sudut pandang siapa yang seharusnya kita gunakan sebagai kacamata? Sudut pandang kita atau sudut pandang anak jalanan? Pertanyaan ini menjadi sangat penting karena hingga saat ini perlakuan terhadap anak jalanan benar-benar tidak adil. Program-program anak jalanan lebih banyak dibuat bukan untuk kepentingan anak jalanan dan tidak menempatkan sebagai dirinya sendiri.

Tulisan berikut akan mengupas kehidupan anak jalanan yang hidup di salah satu kampung miskin perkotaan di Jakarta Timur yaitu kampung Pedongkelan. Metode yang dipakai dalam hal ini adalah dengan Community development yang lebih menyoroti tentang kondisi masyarakat dan keluarga anak jalanan karena anak sebenarnya adalah korban akibat dari kesalahan sistem keluarga, masyarakat dan bahkan kebijakan negara.

 

  1. 2. GAMBARAN LOKASI KAMPUNG PEDONGKELAN

Kampung Pedongkelan adalah bagian dari RW.15, Kelurahan Kayu Putih, Kecamatan Pulogadung, Jakarta Timur. Kampung ini mempunyai kepadatan penduduk yang cukup tinggi. Menurut data dari RW.15, kampung ini dihuni kurang lebih 1.000 kepala keluarga, baik yang legal maupun ilegal.  Dari 1.000 kepala keluarga tersebut, lebih dari 200 keluarga yang tergolong miskin. Penduduk kampung pedongkelan bersifat heterogen dan sebagian besar adalah pendatang sehingga warga cenderung hidup dalam kelompok-kelompok menurut asal daerahnya. Masyarakatnya bertempat tinggal  diatas air yang rumahnya terbuat dari bilik-bilik kayu. Dilihat dari sisi ekonomi dan fasilitasnya, kampung ini tergolong miskin dan tertinggal dibanding di wilayah lain di Kelurahan Kayu Putih, selain miskin, kumuh dan padat penduduk, Kampung Pedongkelan sering terkena banjir kalau hujan. Rumah-rumah umumnya sempit dan tidak ada pembagian fungsi ruangan yang jelas, sehingga tidak memenuhi syarat fungsi sebuah rumah terutama untuk privacy.

 

Status tanah ini sebagian adalah milik perumahan Pulo Mas dan Adam Malik. Dengan kata lain status tanah mereka adalah ilegal, bahkan sudah beberapa kali akan diadakan penggusuran. Dilihat dari sisi tata kota, lokasinya berdekatan dengan pusat kegiatan perekonomian yang terletah di sebelah perempatan Coca-cola (by Pass), kearah timur menuju Terminal Pulogadung, arah utara menuju ke Tanjung Priuk, arah barat menuju ke Senen dan arah selatan menuju ke jatinegara. Jika malam hari, daerah ini dikenal daerah rawan. Kedekatan dengan berbagai pusat kegiatan ekonomi itu berpengaruh terhadap kegiatan penduduknya. Pusat-pusat tersebut memberi peluang pekerjaan sektor informal terutama perempatan Coca-cola yang selalu ramai dan macet oleh kendaraan. Penduduk banyak memanfaatkan tersebut dengan berdagang koran, air mineral, mengelap mobil, meminta-minta dsb. Sebagian besar dari mereka melibatkan anak-anak untuk menghidupi keluarganya.

Penyebab anak turun ke jalan adalah masalah ekonomi keluarga yang menuntut anak untuk ikut andil dalam mencukupi kebutuhan keluarganya. Rata-rata penghasilan keluarga sangat minim sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan keluarganya terutama anak-anaknya. Dengan pendapatan yang kurang tersebut, mereka terpaksa mengkaryakan anaknya untuk membantu perekonomian keluarganya. Sebagian besar mata pencaharian keluarga adalah sebagai pedagang asongan dan pengelap mobil,  dengan penghasilan rata-rata Rp.10.000,- sampai dengan Rp. 20.000,- perhari. Pendapatan yang minim menyebabkan keluarga tidak bisa mencukupi kebutuhannya sehingga memaksa mereka mengajak anak-anak membantu mencukupi kebutuhan. Anak-anak tersebut bekerja sebagai pengamen, pengelap mobil dan ada juga yang dagang koran. Kondisi yang menyedihkan, diantaranya adalah adanya praktek renternir. Bunga yang ditentukan renternir berkisar antara 20-30%. Karena terdesak oleh kebutuhan keluarga, maka tidak jarang dari mereka yang meminjam uang dari renternir. Bunga yang tinggi ini menyebabkan usaha mereka tidak berkembang karena keuntungannya habis dipakai untuk membayar hutang. Penduduk sudah terbiasa mencukupi kebutuhan rumah tangganya dengan cara ”gali lobang tutup l

Hampir setiap keluarga memiliki anak (jalanan) yang pada umumnya pendidikannya hanya sampai tingkat SD dan bahkan ada yang tidak bersekolah. Mereka pulang ke rumah baik secara teratur, tiap hari bertemu dengan orangtuanya tidak teratur pulang ke rumah. Dalam lingkungan komunitas mereka, sarana drainase dan sanitasi, rumah yang sempit, kurang sarana ber­main. Mempunyai jumlah anak banyak dan pendapatan mereka di bawah garis kemiskinan. Dalam kondisi seperti itu, anak-anak memperoleh tekanan untuk bekerja dan sebagian besar meluangkan wak­tunya di jalanan. Bagi mereka persoalan menjadi bagaimana mempertahankan kelangsungan hidup, bukan lagi bagaimana bisa bersekolah dengan baik seperti anak-anak lainnya.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, dilakukan Program pengembangan masyarakat (Community development) yang diarahkan untuk me­ngatasi masalah-masalah keluarga dan masyarakat dalam persfektif ko­munitas yang menyebabkan anak-anak menjadi anak-anak jalanan. Komunitas seperti ini biasanya miskin, kurang akses terhadap sumber-sumber dan pela­yan­an, kurang akses dan kekuatan terhadap peluang-peluang dengan pendapatan yang memang terbatas. Program pengorganisasian dan pengembangan masyarakat bertujuan untuk membantu komunitas mengidentifikasi masalah-masalah dan kebutuhan, mobilisasi sumber-sumber internal dan eks­ternal dan melibatkan mereka dalam pemecahan masalah, sebagai bagian partisipasi seluruh masyarakat dalam kehidupan mereka.

 

Dalam prosesnya, mencakup peningkatan kesadaran masyarakat terhadap permasalahan dan sumber-sumber yang dimiliki, melatih wakil-wakil dan kader-kader masyarakat untuk advokasi dan mobiliasi sumber-sumber eksternal, dan menyusun jaringan kerja untuk akses terhadap pelayanan dan kesempatan yang mendukung pengembangan masyarakat. Fokus program adalah keluarga anak jalanan, anak-anak miskin lainnya, dan komu­ni­tas yang mampu mengadakan perubahan-perubahan dan memperi peluang anak-anak mereka untuk keluar dari jalanan.

 

 

  1. 3. PERMASALAHAN SOSIAL ANAK JALANAN DI KAMPUNG PEDONGKELAN

Permasalahan yang dihadapi masyarakat Kampung Pedongkelan adalah anak-anak yang kurang terpenuhi hak-haknya sebagai seorang anak antara lain hak untuk memperoleh pendidikan, kesehatan seperti banyaknya anak usia sekolah tidak bersekolah atau terancam putus sekolah, kekurangan gizi dimasa pertumbuhan, dan banyaknya anak yang putus sekolah. Hal ini menunjukan bahwa kampung tersebut mempunyai tingkat kerawanan keluarga yang cukup tinggi, karena keluarga tersebut tidak mampu memenuhi kebutuhan dan terpaksa mengkaryakan anaknya untuk bekerja di jalan sebagai pengamen, pedagang koran dan lain-lain. Anak-anak ini pada umumnya masih tinggal bersama orang tuanya dan ke jalan hanya beberapa jam saja membantu orang tuanya. Anak jalanan ini dikategorikan anak yang mempunyai resiko tinggi untuk menjadi anak jalanan (children at hight risk).

 

Keberadaan orang tua anak jalanan dan masyarakat yang berada di wilayah tersebut menciptakan suatu ciri-ciri social budaya  tertentu. Pertama, Kondisi keluarga tua anak jalanan di daerah tersebut sangat rawan dan rapuh dimana banyak yang single parents dan rata-rata bapaknya kawin lagi sehingga mereka tinggal dengan ibu atau dengan kakek/neneknya, nilai kekeluargaan saling mneghormati masih tumbuh diantara mereka namun kadang rapuh, sering terjadi cecok diantara mereka sehingga anak yang menjadi korbannya. Pemicu perselisihan tersebut disebabkan masalah ekonomi. Kedua, keuletan bekerja dan mencari nafkah orang tua anak jalanan sangat tinggi. Pekerjaan yang mereka lakukan antara lain pemulung, pengasong, pedagang kecil, dan lain sebagainya. Ketiga, rata-rata mereka tidak pernah sekolah sehingga masih ada diantara mereka yang melek huruf abjad. Keempat, agama mereka mayoritas Islam, ada yang rajin melaksanakan agamanya dan ada yang masa bodoh untuk melaksanakan ibadah agamanya, hal ini disebabkan kesibukkan dan pergulatan kehidupan yang sulit. Kerapuhan agama memudahkan sekelompok agama lain mengajak mereka untuk mengikutinya dengan memberikan bantuan makanan, pendidikan, kesehatan dan lain-lain. Kelima, nilai-nilai ketetanggaan diantara keluarga di wilayah tersebut disatu sisi mereka sangat dekat dan bermasyarakat namun sisi lain kurang saling kenal. Keenam, kebanyakkan penduduk adalah pendatang, mereka kontrak rumah petakkan, biasanya pendatang asal daerah tertentu akan berkumpul dan berbaur disitu, misalnya Jawa, Madura, Sunda, Medan, Palembang, Padang, sehingga menimbulkan keberagaman nilai budaya, selain itu menimbulkan kelompok-kelompok kedaerahan yang dapat memicu dan rawan akan terjadinya masalah apabila kurang hati-hati dalam bersosialisasi. Ketujuh Kriminalitas, tingginya kejahatan dan masalah social lainnya, menyebabkan wilayah ini sangat rawan akan kriminalitas dan kejahatan. Orang-orang yang melakukan kejahatan, biasanya akan membagikan hasil kejahatannya diwilayah tersebut. Permasalahan social lainnya yaitu tempat daerah ini merupakan tempat berkumpulnya kapak merah, waria dan PSK. Penjualan togel serta pereedaran narkoba juga sangat tinggi. Kedelapan, keterlibatan mereka dalam bekerjasama menjaga kebersihan lingkungan dan keamanan masih kurang dikarenakan sibuk dengan urusan masing-masing dan mereka telah membayar iuran wajib kebersihan dan keamanan secara rutin sehingga mereka kurang peduli terhadap kondisi lingkugan disekitarnya. Kesembilan, memberikan bantuan kepada mereka menyebablan masyarakat menjadi tergantung terhadap bantuan dan subsidi dari pemerintah maupun LSM. Kesepuluh, Kondisi ekonomi rendah dan berpenghasilan antara 10.000 – 25.000 perharinya. Kesebelas, status tempat tinggal mereka kebanyakan di daerah garapan dan tidak resmi seperi dipinggir kali, pinggir danau maupun lokasi yang bukan diperuntukkan untuk rumah.

 

Penanganan anak jalanan ini sangat penting karena anak berhak untuk mendapatkan pelayanan kesejahteraan yang terbaik bagi anak dan  berhak untuk mendapatkan perlindungan. Kita harus menyadari bahwa terhambatnya pemenuhan hak-hak anak terutama pada anak jalanan akan berdampak pada kelangsungan hidup anak itu sendiri, maupun bangsa dan negara Indonesia. Untuk itu kebijakan pemerintah harus lebih memberdayakan kaum miskin dengan meningkatkan akses kaum miskin terhadap sumberdaya produktif  dan pelayanan serta meningkatkan keterkaitan kebijakan program pemerintah yang berfihak terhadap anak dengan menyediakan lapangan pekerjaan bagi orang tua anak jalanan, progran pendidikan murah dengan memperhatikan hak-hak anak sehingga mereka menjadi generasi yang terbaik (the best) dan tidak menjadi generasi yang hilang di masa mendatang (lost generation)

 

 

  1. 4. PROGRAM PENANGANAN ANAK JALANAN BERBASIS MASYARAKAT (COMMUNITY DEVELOPMENT PROGRAME)

 

Program penanganan anak jalanan sampai saat ini cenderung lebih dititik beratkan pada upaya pemberdayaan langsung kepada anak. Pelayanan kepada keluarga atau orang tua sebagai penyebab anak turun ke jalan, belum tersentuh. Menurut perkembangannya penyebab banyaknya anak anak jalanan di kota-kota besar bersumber dari keluarga baik yang mengalami kemiskinan maupun keretakan hubungan orang tua. Irwanto (1999, h.1) mengemukakan asumsi dasar intervensi terhadap permasalahan anak jalanan bahwa “Pemahaman terhadap situasi anak jalanan saja tidak akan memberikan jalan keluar yang efektif. Agar sebuah intervensi efektif, maka diperlukan pemahaman yang menyeluruh mengenai masyarakat dan keluarga anak jalanan.Pemahaman makro (struktural) dan mikro (dinamika keluarga) sangat dibutuhkan”.

 

Community development adalah salah satu model penanganan anak jalanan yang menerapkan strategi pengembalian anak kepada keluarga dan mencegah anak-anak menjadi anak jalanan. Anak yang menjadi sasaran adalah anak yang masih berhubungan atau tinggal dengan keluarganya. Basis penanganan diarahkan pada penguatan fungsi keluarga, peningkatan pendapatan dan pendayagunaan potensi yang dimiliki masyarakat. Anak-anak semacam ini memperoleh pendidikan formal dan non formal memenuhi kebutuhan dasar, pengisian waktu luang, dan lain sebagainya. Tujuan Community development adalah meningkatkan kemampuan keluarga dan angguta masyarakat dalam mellindungi, mengasuh dan memenuhi kebutuhan anak-anak. Menurut Childhope Asia (1990, h.2) mengemukakan bahwa “Program pendekatan berbasis masyarakat adalah pendekatan pencegahan. Pendekatan ini merupakan pendekatan alternative untuk melembagakan anak jalanan. Hal ini merupakan suatu usaha mengatasi masalah yang dimulai dari keluarga dan masyarakat. Proses pendekatan berbasis masyarakat berlangsung pada keluarga anak jalanan, anak miskin perkotaan, dan masyarakatnya yang memungkinkan mereka menciptakan perubahan dan peluang-peluang bagi mereka dan anak-anaknya. Beberapa bagian komponennya antara lain ; advokasi, pengorganisasian masyarakat, peningkatam pendapatan, bantuan pendidikan yang meliputi (klarivikasi nilai dan pelatihan ketrampilan). Community development yang dimaksud disini adalah penanganan anak jalanan dengan mengembangkan wilayah dampingan yang keluarganya mempunyai anak jalanan. Biasanya mereka berkelompok dalam suatu wilayah yang illegal serta kondidimua kumuh.

Dalam mengembangkan suatu program, khususnya Community development tidak dapat dilepaskan dari suatu proses yang harus dilalui. Proses tersebut sebelumnya secara sistematis harus direncanakan. Perubahan percepatan tersebut biasanya dipengaruhi oleh beberapa factor antara lain factor perencanaan program dan kondisi masyarakat yang akan kita ubah. Tahapan pengembangan masyarakat yang biasa dilakukan beberapa organisasi pelayanan masyarakat menurut Adi (2001. h.173-179) adalah ; 1) Tahap Persiapan yang didalamnya meliputi penyiapan tugas dan penyiapan lapangan, 2) Asessment, yang dilakukan dengan mengidentifikasi masalah (kebutuhan yang dirasakan) dan juga sumber daya yang dimiliki, 3) Perencanaan alternative, Tahap ini community worker secara partisipatif mencoba melibatkan warga untuk berpikir tentang masalah yang mereka hadapi dan bagaimana caya mengatasinya, 4) Pemformulasian rencana aksi, Pada tahap ini agen perubahan(community worker membantu masing-masing kelompok masyarakat untuk memformukasi gagasan mereka dalam bentuk tertulis, terutama bila ada kaitanya dengan pembuatan proposal kepada pihak penyandang dana, 5) Pelaksanaan program atau kegiatan, tahap ini merupakan salah satu tahap yang paling krusial (penting) dalam proses pengembangan masyarakat, karena sesuatu yang sudah direncanakan dengan baik akan dapat melenceng dalam pelaksanaan dilapangan bila tidak ada kerjasama antara petugas dan warga masyarakat, maupun kerjasama antar warga, 6) Evaluasi, sebagai suatu proses pengawasan dari warga dan petugas terhadap program yang sedang berjalan pada pengembangan masyarakat sebaiknya dilakukan dengan melibatkan warga, 7) Terminasi, merupakan tahap ‘pemutusan’ hubungan secara formal dengan komunitas sasaran. Tahapan tersebut merupakan siklus guna mencapai perubahan yang lebih baik terutama setelah dilakukan monitoring pelaksanaan kegiatan. Meskipun demikian siklus dapat berbalik di beberapa tahapan yang lain.

 

Program penanganan anak jalanan berbasis masyarakat bertujuan agar tercipta keberfungsian social keluarga dan masyarakat, sehingga akan berdampak pada salah satu anggota keluarga yaitu anak terpenuhi hak-hanya sebagai seorang anak. Berikut adalah proses pemberdayaan orang tua anak jalanan rumah singgah. Adapun tahapan pelaksanaan program adalah sebagai berikut :

 

Tahap Persiapan

 

Proses pada tahap ini antara lain : Pertama, Memasuki masyarakat yang merupakan prasyarat bagi organisasi yang memiliki program anak, generasi muda dan keluarga untuk memiliki perijinan sebelum melakukan kegiatan.  Pemilikan perijinan ini dapat dilakukan pada Rt/Rw atau kelurahan setempat. Tujuan perijinan ini adalah supaya kita mendapat dukungan dari pemerintahan setempat untuk menghindari permasalahan di kemudian hari dan proses ini dimaksudkan untuk menjamin bahwa pelayanan yang akan diberikan sesuai dengan standar-standar yang ditentukan. Setelah selesai meminta ijin kepada pemerintahan setempat maka proses selanjutnya bisa langsung dengan masyarakat yang bersangkutan. Masyarakat biasanya telah dipersiapkan untuk masuknya pekerja sosial yang akan bekerja dengan masyarakat tersebut. Persiapan yang biasanya dilakukan oleh pekerja sosial antara lain dengan: Penjajagan awal tentang masyarakat yang bersangkutan dan pertemuan ramah tamah yang diselenggarakan oleh masyarakat setempat, terutama dengan pimpinan masyarakat, pimpinan agama dan pemuka lainnya, kepala sekolah, para pekerja pemerintahan, para pekerja sosial, yang memberikan pelayanan pada masyarakat. Dalam pertemuan tersebut masing-masing mengemukakan visi dan tujuan mengenai situasi anak jalanan. Hal ini merupakan orientasi serta awal mula membangkitkan kesadaran mereka. Dengan demikian tujuan khusus dan strategi dari proses ini harus direncanakan dengan baik. Pada proses ini kehati-hatian harus benar-benar dijalankan sehingga tidak ada seorangpun yang dianggap sebagai pemuka masyarakat atau orang berpengaruh atau ada yang dianggap tersisihkan. Diantara mereka bisa jadi adalah pemimpin formal yang berperan atau dapat mempengaruhi sikap dan perilaku didalam komunitas. Mereka harus dilibatkan dalam pertemuan ramah-tamah untuk mengemukakan pendapat tentang masalah anak jalanan dan penangannya.Setelah proses ini berjalan, Pekerja Sosial mengadakan kunjungan ke keluarga yang memiliki anak jalanan dan mewawancarai mereka tentang situasi yang mereka hadapi dan situasi masyarakat dimana mereka tinggal. Dengan demikian pekerja sosial melibatkan diri dalam masyarakat dan memiliki cara pandang yang sama dengan masyarakat mengenai situasi tersebut. Suatu hal yang penting selama proses berlangsung, Pekerja Sosial tidak mengesankan bahwa dia akan memberikan sesuatu pada masyarakat. Dari semenjak awal, proses ini harus menekankan pada pelibatan keluarga dan anak-anak dan memberikan mereka kesadaran bahwa mereka bisa melakukan sesuatu dalam situasi yang mereka hadapi.Hal penting yang harus diperhatikan adalah masalah dan kebutuhan yang dikumpulkan oleh pekerja sosial dikomunikasikan kembali kepada masyarakat untuk memunculkan kesadaran dan motivasi untuk melakukan sesuatu yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan mereka.

 

Kedua, Melakukan Assesment yaitu suatu tahapan dalam proses pertolongan berupa memahami suatu masalah. Masalah merupakan kesulitan-kesulitan yang dihadapi individu maupun kelompok. Masalah sosial merupakan kesulitan-kesulitan yang dihadapi seseorang dalam keberfungsian sosial dan tugas-tugas kehidupannya, maladaptive, akibat pelanggaran norma dalam hubungan antara kesatuan manusia dalam lingkungan. Garis besar dari penyebab masalah adalah sosial dan kultur nilai susunan komunitas yang yang menghasilkan sumber pertolongan untuk masalah tertentu, ideologi teknologi dan teori praktisi yang mendukung profesi, pedoman politik, fungsi dari pelayanan sumber yang baik dan faktor situasional. Prinsip-prinsip yang digunakan untuk mendefinisikan masalah yaitu :

  1. Masalah harus didefinisikan dalam suatu istilah disfungsi sosial yang spesifik, yang dimanifestasikan dalam tingkah laku yang spesifik. Masalah tingkah laku harus digambarkan sebagai hal yang mempercepat, mempertajam atau menetap primer dan sekunder.
  2. Pegertian dari masalah harus difungsikan dan difokuskan kepada lingkungan dan kepentingan umum kelayan.
  3. Walaupun pengertian atau definisi dari masalah harus menunjukan kebutuhan-kebutuhan dan tugas-tugas itu tidak atau belum selesai, kesulitan-kesulitan yang dapat diselesaikan dalam beberapa cara tanpa pedoman masalah yang khusus.

 

Pada hakekatnya assesment yang dilakukan di masyarakat mempunyai hal pokok sebagai berikut :

  1. Apa permasalahannya, bagaimana hal ini dinyatakan sebagai masalah dan bagaimana mendefinisikan masalah tersebut, siapa saja yang kena masalah dan siapa yang menyebutnya sebagai masalah.
  2. Penjelasan apa saja yang diperlukan untuk membantu memahami kesulitan yang ada, khususnya kesulitan yang berkaitan untuk menganalisa orang, situasi masalah dan interaksi antar ketiganya.
  3. Apa saja yang sebaiknya dilakukan demi kebaikan kelayan. Kegiatannya meliputi : kegiatan perubahan, tugas-tugas strategi dan sumber yang dapat dimanfaatkan serta tujuan yang ingin dicapai.
  4. Bagaimana tugas intervensi dapat dimonitor sehingga dapat diketahui kemajuan dan keberhasilan proses perubahan atau pertolongan, juga melakukan perbaikan terhadap hal-hal yang menyimpang.

 

Sedangkan tujuan dari assessment yang dilakukan di masyarakat antara lain adalah :

  1. Mengidentifikasi dan membagi kebutuhan dan tuntutan kelayan (orang tua anak jalanan) yang berbeda.
  2. Memastikan tindakan pertolongan yang selektif, dalam pelayanan kebutuhan yang spesifik.
  3. Menetapkan sesuatu yang rasional, secara khusus yang mendasari pelayanan dan rencana pelayanan.
  4. Menetapkan sebuah konsensus definisi dari realita dan kesulitan pemenuhan kebutuhan, situasi masyarakat dan kegiatan yang dilakukan.
  5. Memberi pola dan rencana untuk mengatasi kesulitan kelayan
  6. Menyediakan evaluasi jenis pelayanan melalui kebijakan normatif yang layak dari lingkungan dan beberapa kebijakan normatif yang layak dari lingkungan dan beberapa kebijakan moral yang dialami.
  7. Membantu pekerja sosial untuk dapat memprediksi kemungkinan akibat yang diberikan dalam hubungan keberlanjutan program.
  8. Memungkinkan pekerja sosial untuk membuat cara dan program administrasi dari kegiatan untuk pemenuhan kebutuhan.

 

Ketiga, Membentuk Tim Inti yaitu orang tua anak jalanan dan anak jalanan itu sendiri diidentifikasi yang berhak menjadi peserta dan penerima program kegiatan serta untuk terlibat dalam pengembangan program tersebut. Mereka dibentuk dalam kelompok, memilih pimpinan mereka sendiri dan menjadi sebuah kelompok inti didalam masyarakat.

 

Sepanjang tahapan pengembangan kelompok, orang tua anak jalanan yang menjadi anggota perlu menyadari bahwa mereka memiliki dan diterima dalam kelompok. Pemberian pemahaman tentang kesadaran diri serta pembentukan kelompok harus diprakarsai dan ditunjukan pada pengembangan kohesivitas kelompok. Kelompok-kelompok ini biasa disebut dengan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM).

 

Salah satu Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) yang telah terbentuk di Kampung Pedungkelan adalah berhubungan dengan micro finance (koperasi). KSM yang dimaksud adalah sekelompok orang-orang yang mempunyai kepentingan sama yang berpartisipasi aktif untuk meningkatkan kesejahteraannya.

Yang dapat menjadi anggota KSM adalah :

  1. Mampu melakukan tindakan hukum yaitu :
    1. Orang-orang yang sudah dewasa (berumur lebih dari 18) atau sudah menikah.
    2. Orang-orang yang tidak dibawah pengampunan (tidak dalam keadan dungu, gila, mata gelap dan pemboros).
    3. Orang-orang yang tidak dilarang undang-undang untuk melakukan perbuatan hukum tertentu, misalnya orang yang tidak dinyatakan pailit.
  2. Sanggup dan bersedia melakukan kewajiban,hak dan tanggung jawab sebagai anggota   :
    1. Hak anggota

1)    Menghadiri, menyatakan pendapat dan memberikan suara dalam  rapat anggota.

2)    Memilih dan/atau dipilih menjadi anggota pengurus.

3)    Meminta diadakan  rapat anggota

4)    Mengemukakan pendapat atau saran kepada pengurus diluar rapat anggota baik diminta atau tidak.

  1. Kewajiban anggota

1)    Mematuhi aturan dan keputusan  lainnya yang telah disepakati dalam rapat anggota.

2)    Berpartisipasi kegiatan dalam usaha yang diselenggarakan oleh KSM.

3)    Mengembangkan dan memelihara kebersamaan berdasarkan azas kekeluargaan.

4)    Membayar cicilan modal bergulir sesuai waktu yang telah ditentukan dalam rapat anggota.

  1. Tanggung jawab anggota

1)    Menanggung kerugian usaha yang dialami sesuai jumlah yang telah ditetapkan.

2)    Menutup kerugian/membayar hutang sampai lunas.

 

Kepergurusan KSM yang dimaksud adalah sebagai berikut :

  1. Pengurus terdiri dari ketua sekretaris dan bendahara.
  2. Pengurus dipilih dari dan oleh anggota KSM.
  3. Pengurus adalah pemegang kuasa rapat anggota.
  4. Masa jabatan pengurus adalah 1 tahun.

 

KSM yang dibentuk mempunyai prinsip-prinsip yang digunakan sebagai pedoman dalam menjadi anggota. Prinsip-prinsip KSM yang harus diikuti oleh setiap anggota adalah :

  1. Keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka.
  2. Pengelolaan dilakukan secara demokratis.
  3. Kemandirian anggota.
  4. Mau bekerja sama.

Keempat,  persiapan pelatihan social yaitu kelompok orang tua anak jalanan mengikuti pertemuan-pertemuan yang membahas tentang klarifikasi nilai, pendidikan keagamaan pembentukan kelompok, pengembangan kepemimpinan, pemecahan masalah pengembangan kegiatan dan manajemen. Semua itu akan membantu orang tua anak jalanan untuk memulai proses kerja secara kelompok, mengembangkan nilai-nilai yang diakui bersama serta menetapkan tujuan-tujuan umum. Ini merupakan proses yang secara sadar dipelihara dan didukung oleh para pekerja sosial melalui program yang terencana dan serangkaian aktivitas melibatkan anggota-anggota orang tua anak jalanan dari kelompok itu sendiri.

Selama tahap pengembangan kelompok ini, anggota-anggota orang tua anak jalanan telah dihadapkan pada dua kebutuhan utama kelompok yaitu :

  1. Menyadari akan adanya interelasi antara kebutuhan-kebutuhan individual, kelompok dan masyarakat, menemukan sebab-sebab dan tujuan umum
  2. Kebutuhan akan sistem dan prosedur dalam keorganisasian; kebutuhan akan kesepakatan dalam proses pembuatan keputusan dan struktur organisasional.

 

Ketrampilan kelompok yang harus dikembangkan antara lain adalah :

  1. Pengumpulan dan analisis data tentang kondisi-kondisi sosial ekonomi masyarakat.
  2. Analisis struktur ekonomi dan sosial;
  3. Survey pengidentifikasian kebutuhan dan sumber.

 

Pembinaan tentang mekanisme dan manajemen organisasional ; bagaimana memimpin pertemuan, mempersiapkan agenda sederhana, keputusan tentang pengorganisasian sistem dan prosedur utama struktur-struktur yang dapat membimbing kelompok dalam operasi mereka.

 

Kelima, pelatihan dan pengembangan kader, Proses pemeliharaan dan peningkatan kelompok organisasi masyarakat tidak boleh tergantung pada pekerja sosial. Beberapa orang tua, pimpinan pemuda dari masyarakat tersebut, biasanya mereka selalu aktif di masyarakat sebagaimana halnya mereka yang menampakkan kesiapan dan keinginan untuk terlibat biasanya menjadi kader. Mereka adalah jajaran utama program dan seharusnya diperlakukan baik sebagai penghubung maupun motivator didalam masyarakat mereka. Kader biasanya ikut dalam training manajemen dan pengorganisasian masyarakat. Setelah mengikuti training tersebut, mereka harus mampu merekrut dan melatih anggota baru berdasarkan pandangan masyarakat. Sebagai bagian dari pelatihan dan pengembangan yang berkelanjutan, pekerja sosial harus tetap memperhatikannya sehingga pertemuan secara teratur harus diselenggarakan dengan organisasi kader baik secara kelompok maupun individual. Perlu adanya pemberian dukungan lanjutan untuk keperluan bantuan teknis, supervisi, penstrategian dan pembagasan secara mendalam akan isu-isu dan masalah-masalah yang dihadapi oleh parakader dalam melaksanakan pekerjaan mereka.

 

 

Pihak masyarakat juga harus memberikan pelatihan bagi orang tua dan pemuka remaja dari jajaran kedua. Para pemuka dari garis kedua ini bisa dimobilisasi untuk membantu kader atau menggantikan para kader dalam kasus dimana mereka keluar atau pindah dari lingkungasn masyarakat tersebut. Beberapa fungsi kader dalam pengembangan masyarakat adalah sebagai berikut :

  1. Bertindak  sebagai negoisator atau pendukung program atas nama anak-anak jalanan dan keluarganya serta masyarakat secara keseluruhan.
  2. Bertindak sebagai nara sumber bagi masyarakat dan berhubungan dengan agen dan kelompok-kelompok masyarakat.
  3. Membantu kelompok mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan, masalah-masalah serta sumber-sumber baik internal maupun eksternal.
  4. Bekerja dengan kelompok-kelompok dan panitia-panitia kecil serta mengatur serta memfasilitasi / mempermudah pertemuan-pertemuan.
  5. Bersama-sama dengan para petugas kelompok memonitor dan mengevaluasi implementasi proyek-proyek kelompok.
  6. Membantu masyarakat membentuk dan memperkuat panitia-panitia lokal untuk perlindungan anak.

(Fungsi kader ini akan sangat tergantung pada seting masyarakat yang bersangkutan)

 

Kualifikasi seorang kader :

Perhatian yang teliti harus diberikan dalam penyeleksian pemuka orang tua atau generasi muda untuk dilatih sebagai kader. Kelompok inti tersebut harus dilibatkan dalam penyeleksian para pimpinan yang ditraining debagai kader, karena setelah training, kader tersebut akan membutuhkan dukungan dan kerjasama dengan para anggota kelompok yang bekerja sama dengannya. Beberapa kriteria yang dicari dalam memilih kader yang potensial adalah :

  1. Dia harus dipercaya oleh anggota masyarakat.
  2. Dia harus memiliki hasrat dan waktu untuk melayani masyarakat meskipun tanpa memperoleh bayaran.
  3. Mampu untuk berkomunikasi secara lancar dengan penduduk.
  4. Menunjukan kemampuan kepemimpinan.

Keenam, pembentukan formasi dan pengembangan kepemimpinan Proses ini bertujuan mengembangkan pemimpin-pemimpin yang ditaati diatara para orang tua dan generasi muda yang menuntut adanya pengetahuan, sikap dan ketrampilan-ketrampilan yang dibutuhkan oleh seorang pemimpin yang pada dasarnya berupa ketrampilan-ketrampilan dalam pemberian kemudahan (facilitating), pemberian kemungkinan (enabling), pemecahan masalah (problem solving) dan management.

Training tersebut biasanya terdiri dari analisis, diskusi dan praktek kesadaran diri, pembangunan kelompok, pemecahan masalah, pengembangan organisasional, kepemimpinan, perencanaan, pengawasan, dan ketrampilan-ketrampilan relasi interpersonal. Seminar-seminar kepemimpinan seharusnya diadakan untuk melengkapi para anggota kelompok dengan kertampilan-ketrampilan pemberian kemudahan (facilitating) bagi kelompok-kelompok yang berorientasi pengembangan.

Para pemimpin dan kader terpilih diharapkan/dituntut untuk meluangkan waktunya guna menyelesaikan tugas-tugas serta mengembangkan keahlian mereka dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Biasanya, para pekerja sosial menyelenggarakan seminar-seminar pelatihan kepemimpinan. Nantinya seminar-seminar seperti itu diselenggarakan oleh pimpinan-pimpinan orang tua sendiri di daerah mereka sendiri setelah training yang mereka ikuti.

 

 

 

Fungsi-fungsi yang mungkin dilakukan para pemimpin di kelompok masyarakat :

  1. Initiator; terutama untuk mengambil tindakan dan pengambil alihan kelompok. Dari initiator orang-orang lainnya akan mengambil motif dan melaju dengan pekerjaan tersebut.
  2. Regulator; membimbing para anggota kelompok pada fokus pekerjaan atau topik diskusi. Membantu meredam orang-orang yang menyeleweng dan mendorong anggota-anggota lain untuk berpartisipasi.
  3. Information giver; seorang pemimpin bisa menjadi somber informasi bagi kelompoknya terutama bila dia kebetulan banyak mengetahui tentang topik yang dibahas.
  4. Information seeker; mencari informasi dari para anggota dan memberikan penjelasan untuk membantu kelompok membuat keputusan-keputusan.
  5. Suporter; seorang yang mendorong/meningkatkan dan mengakui partisipasi para anggota kelompok serta memberikan penghargaan yang layak.
  6. Evaluator; memahami langkah-langkah kelompok dalam batas-batas penyelesaian/ pencapaian tujuan kelompok tersebut serta aktivitas-aktivitasnya yang telah direncanakan, memberikan umpan balik atas langkah penyelesaian dan unjuk kerja para anggota kelompok tersebut.

 

Ketujuh, Perencanaan program dan mobilisasi sumber yaitu Pekerja Sosial memberikan perbekalan dan dukungan teknis. Para peserta dalam workshop harus berasal dari anggota-anggota kelompok inti, para pimpinan terpilih serta penduduk lainnya yang tertarik. Analisis kebutuhan diselenggarakan oleh para kader berdasarkan penjajagan awal yang dipresentasikan kepada para peserta. Kemudia dikembangkan dalam rencana tindakan yang meliputi tujuan-tujuan spesifik kerangka waktu dan sumber-sumber yang dibutuhkan; strategi yang dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan serta program yang diajukan untuk mengimplementasikan strategi-strategi tersebut. Hal penting yang harus diperhatikan bahwa program-program yang direncanakan harus simpel dan feasible (sumber-sumber yang dibutuhkan bisa diperoleh dengan mudah pada masyarakat)  sehingga program bisa diatur serta hasil dan output yang diharapkan bisa dilihat dengan mudah. Pekerja sosial harus membantu para peserta untuk merencanakan program yang realistis.

 

Program yang berjalan efektif (sesuai dengan hasil yang diharapkan) bisa ditiru dan dikembangkan. Satu hal penting bahwa program-program pemula biasanya akan efektif dan berjalan baik dikarenakan proses pencapaian tujuan yang diharapkan membantu masyarakat memahami agar mereka mampu membuat beberapa perubahan, merupakan tahap awal menuju pembangunan kapasitas yang memberikan para orang tua kesadaran kontrol atas kehidupan mereka. Ini adalah awal pemberdayaan. Untuk memudahkan tercapainya output yang diharapkan sepanjang tahapan ini, perlu dikembangkan berbagai keterampilan masyarakat antara lain :

  1. Keahlian dalam pemecahan masalah dan pembuatan keputusan.
  2. Keahlian dalam perencanaan, implementasi dan evaluasi program.
  3. Keahlian dalam menggalang partisipasi anggota dan panitia kerja.
  4. Keahlian dalam mengevaluasi pelaksanaan/operasi dan unjuk kerja yang berjalan secara terus menerus.

 

Kedelapan, Pengembangan jaringan kerja dan kemitraan yaitu Bagi warga masyarakat miskin perkotaan (urban), jaringan kerja dan pembentukan hubungan dengan agen-agen pelayanan lain, baik lembaga-lembaga maupun organisasi-organisasi penduduk merupakan hal yang vital. Hal ini menjamin bukan hanya pelayanan bisa jadi diperoleh tetapi sama pentingnya bahwa mereka bisa menjadi bagian dari sistem dukungan (suport system) masyarakat tersebut.

Untuk memperoleh tempat berlangsungnya koordinasi regular, rujukan-rujukan serta pembaharuan program dan pelayanan, di wilayah, pertemuan regular antar agen dapat diatur (diorganisir) dan difasilitasi diantara agen-agen tersebut pada wilayah (area) yang lebih disukai apakah setiap dua bulan atau setiap bulan.

Kesembilan, Peningkatan Pendapatan salah satu diantara alasan yang menyebabkan anak turun ke jalan adalah income yang diperoleh keluarga, maka merupakan hal penting bahwa program Community development memiliki program mata pencaharian yang kuat dengan komponen bantuan pinjaman atau kredit sosial. Pekerja sosial dan komite mata pencaharian membantu mengidentifisikan para partisipan program asistensi mata pencaharian. Mungkin terdapat beberapa interest orang tua dalam berbagai proyek peningkatan pendapatan (income generating projects) yang mungkin bisa dilakukan dengan sumber yang diperoleh untuk mata pencaharian keluarga.

 

Biasanya terdapat aktivitas enterprenueral kecil seperti jahitan gament, pemeliharaan warung sari, penjajakan masakan, pembelian dan penjualan makanan kering, dan sebagainya ; mungkin di ikut sertakan dalam produksi kain lap dan kerajinan tangan.

Untuk mempersiapkan para orang tua dan anak jalanan yang lebih besar untuk melakukan proyek peningkatan pendapatan, serangkaian seminar tentang management bisnis kecil, pembukuan sederhana, mempersiapkan proposal proyek sederhana serta pendidikan dan klarifikasi nilai /spiritual adalah diperlukan. Para orang tua dan anak-anak jalanan yang lebih dewasa diminta untuk membuat proposal untuk program-program mata pencaharian jika disetujui, mereka diberikan bantuan pinjaman untuk mengawali bisnis. Para peminjam membuat suatu kontrak persetujuan dianjurkan agar ajuan punjaman semestinya dibuat oleh kelompok para orang tua atau anak-anak jalanan, akan tetapi implementasinya bisa dikerjakan oleh individu. Program peningkatan pendapatan di pusat masyarakat (community centre) atau seperti penjualan makanan, pembuatan lilin, pembuatan kartu, serta kerajinan-kerajinan tangan lainnya dapat diorganisir untuk memberikan aktivitas-aktivitas tambahan pendapatan anak-anak, remaja dan para orang tua. Rujukan-rujukan kepada agen-agen lain (seperti, pusat pelatihan ketrampilan, jurusan/kelas sore sekolah umum, dsb) dapat dilakukan bila pelayanan-pelayanan tersebut tidak tercakup di program pusat (centre’s program). Meskipun tujuan utama dari komponen mata pencaharian didalam program Community development adalah peningkatan pendapatan. Namun dia juga berfungsi sebagai laboratorium untuk belajar. Ini adalah saat dimana para anggota kelompok remaja dan orang tua dapat medemonstrasikan konsep-konsep kohesivitas kelompok, dukungan dan kerjasama timbal balik / mutualisme, mempercayai dan menyelesaikan konflik, membuat perencanaan dan memecahkan masalah. Selain memberikan tambahan pendapatan kepada keluarga tujuan jangka panjang dari program mata pencaharian ini adalah mempersiapkan para orang tua menjelang pembentukan organisasi koperasi atau asosiasi simpan pinjam. Koperasi tersebut akan memberikan pinjaman untuk para anggota kelompok dan secara bersamaan mengembangkan program pendidikan berlanjut untuk anggota dan anak-anak.

 

Yang bisa memperoleh manfaat dari bantuan modal adalah :

1      Keluarga-keluarga yang memiliki anak jalanan dan memiliki anak-anak yang kekurangan gizi.

  1. Keluarga-keluarga dengan kepala keluarga istri / single.
  2. Para orang tua yang memiliki catatan perjalanan yang baik atas pembayaran kembali pinjaman-pinjaman.
  3. Para orang tua yang telah memprakarsai sendiri program-program mata pencaharian.
  4. Mereka yang telah menyelesaikan seminar-seminar dan pelatihan-pelatihan yang disyaratkan untuk memegang program mata pencaharian.

 

Untuk kepentingan manajemen program mata pencaharian, kelompok harus membentuk struktur dan para petugas atau pengurus yang akan dilibatkan. Penting untuk dimiliki seorang kolektor yang akan melakukan urusan penagihan, seorang akuntan untuk memonitor dan memeriksa masalah keuangan. Sejauh mungkin kita harus mendukung pemohon-pemohon pinjaman oleh anggota-anggota individu untuk dialirkan melalui kelompok, meskipun implementasi program mungkin dapat dilakukan oleh individu-individu. Selanjutnya membantu mengembangkan spirit kerja secara kelompok dan untuk membangun kepercayaan individu melalui usaha kelompok.

 

Tahap Pelaksanaan

 

Setelah dilakukan tahap persiapan atau assessment diatas hal yang dilakukan berikutnya adalah tahap pelaksanaan atau kita kenal sebagai Pemberdayaan.

 

Pemberdayaan disini adalah langsung yang diperoleh orang tua anak jalanan yaitu permasalahan ekonomi dan permasalahan keluarga, maka pemberdayaan yang diberikan berupa :

  1. In come generating yaitu pemberian bantuan berupa modal usaha bergulir dimana modal tersebut dapat dikembalikan dan diputarkan kepada keluarga lainnya.
  2. Good parenting yaitu bimbingan keluarga bagi keluarga yang mempunyai permasalahan keluarga baik anak, istri, suami, sehingga diharapkan mereka menjadi keluarga yang baik hal tersebut dapat dilakukan melalui, penyuluhan dan pengajian tentang keluarga sakinah, kewajiban suami istri dan anak serta konsultasi berbagai permasalahan keluarga lainnya.
  3. Pendidikan, Yaitu program memberikan pendidikan dan pengetahuan yang bermanfaat bagi perubahan prilaku dan kehidupan mereka berupa, pelatihan-pelatihan manajemen usaha, bimbingan social, diskusi, penyuluhan tentang narkoba dan lain-lain.
  4. Kesehatan, Yaitu program pelayanan kesehatan dengan memberikan informasi dan rujukan kesehatan kepada puskesmas, rumah-rumah sakit bagi masyarakat didaerha tersebut apa bila mengalami gangguan kesehatan, informasi mengenai pengobatan bagi mereka sangat sulit, mereka tidak tahu namanya Kartu Gakin, Kartu Kesehatan dan bagaimana prosesnya serta kemana mereka harus   berobat apabila ada anggota keluarganya sakit.
  5. Kelompok, Kelompok disini adalah suatu pendekatan dan kerjasama yang dibentuk oleh mereka sendiri sehingga mereka dapat berdiskusi dan memecahkan permasalahan mereka sendiri, dimana mereka selama ini sibuk dengan pekerjaan dan urusannya masing, maka dengan pembentukkan kelompok yang di awasi oleh pengurus mereka dapat lebih baik dan berkehidupan saling menghormati dan menghargai.
  6. Keluarga, yaitu  menguatkan fondasi-fondasi keluarga yang selama ini banyak dialami oleh mereka, sementara mereka tidak sadar dan tidak tahu akan artinya sebuah keluarga bagi anak-anak mereka, sehingga mereka tidak lagi menyuruh dan memperkerjakan anak mereka dijalanan, kewajiban merekalah untuk membiaya kebutuhan anak-anak mereka baik sekolah, makanan dan minuman, bermain dan lain-lain.

 

Proses perguliran dana tersebut adalah sebagai berikut :

Dalam tahap permohonan kerjasama dengan lembaga funding/sumber dana ada beberapa hal yang dilakukan, yaitu :

  1. Informasi, berdasarkan informasi bahwa salah satu lembaga funding membutuhkan mitra dalam program pemberdayaan masyarakat.
  2. Identifikasi permasalahan, berdasarkan informasi tersebut apabila sesuai dengan permasalahan di masyarakat terutama kebutuhan dan permasalahan orang tua anak jalanan, maka
  3. Membuat proposal, setelah dilakukan identifikasi kebutuhan dan permasalahan maka dibuatlah proposal sesuai dengan format proposal sesuai keinginan lembaga funding/donor tersebut.
  4. Penyeleksian, apabila seleksi administrasi diterima maka dilakukan pemanggilan untuk melakukan audensi dihadapan pimpinan lembaga funding tersebut.
  5. Observasi kelapangan, setelah audensi diterima maka lembaga funding melakukan observasi kelapangan untuk menentukkan apakah permasalahan dan kebutuhan sesuai dengan proposal yang dibuat.
  6. Kesepakatan akhir tentang program yang akan dilaksanakan dan penentuan biaya/anggaran.
  7. MOU, apabila telah disepakatinya program yang akan dilaksanakan dan anggaran maka dibuatlah MOU kesepakatan bersama yang berisikan masa waktu projek, proses pengiriman dana, pelaporan dan hak dan kewajiban bagi pihak pertama dan kedua dan di tanda tangani diatas materai.

 

Dalam permohonan dan bantuan program pemberdayaan masyarakat  ada tiga point pokok yang dapat didanai oleh Funding/sumber dana dan juga tidak semua kebutuhan dan permasalahan dipenuhi sehingga Yayasan perlu mengeluarkan dan mengolah dana swadaya baik dari LSM maupun dimasyarakat serta memanfaatkan fasilitas dan sarana yang ada. Adapun tiga pokok bantuan yaitu :

  1. projek Dana Personalia, Dana yang diperuntukkan bagi pelaksana.
  2. Dana Pendukung, yaitu Dana yang diperuntukkan untuk mendukung program projek tersebut seperti, ATK, Trans[portasi, Dokumentasi dll.
  3. Dana Program, yaitu dana yang diperuntukkan untuk melaksanakan atau membiayai kegiatan diperuntukkan bagi sasaran program, ada 2 jenis dana program yaitu : 1. Dana program kegiatan yaitu dana diperuntukkan mengolah dan mendukung  kegiatan dimasyarakt seperti, dana pelatihan, dana penyuluhan, konsumsi dll. 2. dana modal bergulir yaitu dana diperuntukkan  anggota masyarakat yang mempunyai usaha untuk diberikan modal bergulir yang dikelola secara kredit yang dilakukan oleh petugas mikro kredit  bersama koordinator kelompok penerima modal bergulir.

 

Adapun proses pemberian modal usaha terhadap penerima bantuan odal usaha sebagaia berikut :

  1. Pendataan, Mendata calon penerima bantuan modal usaha
  2. Kelayakan Usaha, melakukan uji kelayakan berupa kemampuan usaha, kebutuhan usaha, keuntungan dan peluang usaha
  3. Pelatihan manajemen usaha, setiap calon penerima modal harus mengikuti pelatihan manajemen usaha yang berisikan materi, cara mengelola usaha, cara mengelola modal dan keuangan, cara menabung, peluang usaha, pencatatan keuangan keluarga dan lain-lain.
  4. Penandatangan Surat perjanjian diatas materai, yaitu adanya kesepkatan bersama yang saling menguntungkan dan mengikat diantara kedua pihak, pihak pertama LSM yang memberikan modal usaha dan pihak kedua sebagai pemanfaat modal usaha tersebut, adapun isi dari surat perjanjian tersebut yaitu, Jumlah uang yang dipinjam, masa pengembalian, besarnya biaya pengembalian, hak dan kewajiban serta denda bagi yang terlambat.
  5. Pemberian modal usaha, Setelah surat perjanjian ditanda tangani maka modal usaha dapat diberikan tunai sebesar yang tercantum di dalam surat perjanjian.
  6. Pembentukkan kelompok, sebelumnya anggota telah memilih-milih siapa calon koordinator mereka maka didepan Pengurus LSM mereka secara demokrasi menentukan dan mengangkat koordintaor diantara mereka sendiri, adapun syarat dari seorang koordinor bagi mereka adalah : – Tegas, – bertanggung jawab, – rajin, dan bias dipercaya.
  7. Pengangkatan koordinator dan sekretaris, Setelah pemilihan koordinator dan sekretaris maka dikukuhkan dan siap melakukan tugas-tugas sesuai dengan kesempatan seluruh anggota kelompok.

Setelah Pemberian modal dan pengangkatan koordinator maka diikuti dengan kegiatan-kegiatan, yaitu :

  1. Pertemuan kelompok, ditentukkan dalam surat perjanjian bahwa setiap anggota harus mengikuti pertemuan kelompok tersebut, adapun materi diskusi yaitu : – membahas tentang permasalahan dan kesulitan usaha, kemajuan dan keberhasilan usaha, masalah keluarga, dan diskusi tentang kegiatan-kegiatan lainnya yang menimbulkan kebersamaan da saling kerjasama diantara mereka seperti ; adanya kegiatan arisan, tabungan dan uang sukarela dan lain-lain. Dan itu dikelola oleh mereka dan atau dipercayakan kepada Petugas yayasan untuk dimanfaatkan oleh mereka sendiri.
  2. Penarikkan Angsuran, yaitu menarik uang angsuran dari anggota, yang sebelumnya telah ditarik dan dicatat oleh koordinator kemudian disetor kepada petugas dari yayasan dan kemudian dicatat dalam buku besar oleh  bendahara umum dan uang tersebut  disimpan di bank, begitu seterusnya diputar dan digulirkan.

 

 

Tahap Monitoring, Evaluasi Dan Pelaporan

 

Sistem monitoring dan evaluasi harus disetujui berdasarkan kesepakatan pengurus dengan masyarakat berdasarkan indikator-indikator keberhasilan (efektivity) dan out put harus disetujui bersama. Penyelenggaraan monitoring secara regular atas program pemberdayaan tersebut diperlukan untuk memberikan informasi kepada kelompok untuk mengetahui apakah hasil-hasil yang diharapkan telah dicapai atau belum. Kunjungan ke tempat pelaksanaan program, perbicangan-perbincangan dengan para partisipan program serta penyelenggaraan sesi refleksi dan assesment adalah beberapa diantara alat-alat monitoring.

 

Di dalam semua proses tersebut, pekerja sosial/community worker untuk pertama kalinya memainkan peranan sebagai catalyst, enabler, organizer, planner, trainner, evalator, dan fasilisator. Pekerja sosial harus berpandangan bahwa melalui trainning dan tutorial (bimbingan) individual, pekerja social dan pimpinan masyarakat akan mampu secara berangsur-angsur melakukan peran-peran tersebut. Kriteria penilaian (evaluasi) kelompok masyarakat untuk bergerak kedalam tingkatan ini harus di kembangkan bersama-sama dengan pimpinan –pimpinan masyarakat yang bersangkutan

 

Berikut ini adalah indikator-indikator untuk memenuhi keperluan-keperluan (persyaratan) kader masyarakat :

Keterampilan pemecahan masalah ;

  • Mengidentifikasi dan menganalisa kebutuhan-kebutuhan serta masalah-masalah yang mempengaruhi anak-anak jalanan dan anak-anak miskin perkotaan, generasi muda serta keluarga mereka.
  • Menentukan prioritas-prioritas dan mengidentifikasi aksi-aksi (tindakan) berdasrkan masalah-masalah dan kebutuhan-kebutuhan yang disepakati.
  • Secara terus menerus memperbaharui data atau informasi anak-anak jalanan, generasi muda dan anak-anak mereka.
  • Mengidentifikasi agen-agen sumber di dalam dan di luar masyarakat.
  • Mengadakan koordinasi dan jaringan kerja regular dengan agen-agen lain untuk keperluan referal dan bantuan teknis.
  • Menyusun rencana aksi kelompok jangka pendek (6 bulan) dan jangka panjang (1-3 tahun).

Keterampilan-keterampilan organisional :

  • Mempersiapkan, mengorganisir dan memfasilitasi kegiatan-kegiatan pertemuan, seminar dan advokasi komite/kelompok.
  • Memelihara laporan- laporan pertemuan kelompok dan cara-cara kerja seminar.
  • Mengkomunikasikan kepada orang tua, anak-anak dan remaja lain tentang pentingnya kerja sama di dalam kelompok/komite (LPPC) dalam rangka mengatasi masalah-masalah yang mempengaruhi anak-anak\remaja dan para orang tua.
  • Berpartisipasi secara aktif dan regular dalam pertemua-pertemuan kelompok, seminar dan aktifitas-aktifitas lainnya yang di rencanakan oleh kelompok/komite.
  • Melaksanakan kebijakan-kebijakan sistem dan prosedur-prosedur kelompok.
  • Mengadakan pertemuan kelompok dan pertemuan antar agen yang telah di tetapkan.
  • Mentrainning kelompok inti dari anak-anak, remaja atas indikator orang tua untuk mengadakan pembangkitan kesadaran serta aktifitas-aktifitas edukasi.
  • Mendaftarkan komite lokal untuk pelindungan anak (LPPC) untuk memperoleh akreditas (pengakuan).

 

Keterampilan-keterampilan relasi :

  • Mengungkapkan, menjelaskan dan menerima feed back positif serta negatif tentang diri dan anggota-anggota lain dari kelompok tersebut.
  • Memberikan umpan balik tentang unjuk kerja para pimpinan dan anggota seta pengaruhnya atas semua pencapaian tujuan-tujuan komite/kelompok.
  • Secara sukarela menolong orang-orang lain yang memerlukan.
  • Menyelesaikan konflik-konflik personal dan organisional.
  • Mengimplementasikan schedul untuk terlaksananya perencanaan evaluasi dan monitoring kelompok/komite secara regular.
  • Memberikan pelatihan para COV dan pimpinan-pimpinan dari jajaran kedua yang memberikan pengawasan kepada komite/kelompok orang tua dan remaja tentang program-program dan pelayanan untuk anak-anak jalanan, generasi muda.

 

Pertama Monitoring, Dilakukan oleh pengurus setiap melakukan kegiatan di masyarakat yaitu dengan melakukan pengamatan melalui pendampingan, Tanya jawab/diskusi, Rapat-rapat serta melakukan monitoring dengan mengisi quitioner yang dijawab tertulis oleh anggota masyarakat dan Monitoring ini juga dilakukan oleh lembaga mitra kerjasa sama yang memberikan bantuan dalam setiap kegiatan yang dilakukan dimasyarakat, biasanya mereka melakukan monitoring yaitu diawal program, ditengah kegiatan dan diakhir kegiatan.

Kedua evaluasi, Dilakukan oleh pengurus dimana masyarakat diberikan kebebasan untuk menilai kegiatan-kegiatan selama ini apakah bermanfaat dan sesuai dengan kebutuhan mereka, dan juga evalusi dilakukan langsung oleh lembaga mitra ke masyarakat yang memperoleh manfaat  dari hasil kerjasama tersebut.

Ketiga Pelaporan, Pelaporan dilakukan setiap bulan, tiga bulanan dan setiap akhir program membuat laporan tertulis yang ditujukan kepada Pimpinan, Pimpinan wilayah setempat dan lembaga Mitra yang memberikan bantuan dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat tersebut.

 

 

  1. 5. DAMPAK PROGRAM COMMUNITY DEVELOPMENT

 

Program Community development mempunyai dampak yang positif bagi masyarakat. Berkaitan dengan anak, program Community development memandang penyebab dari masalah anak jalanan adalah dorongan dari masyarakat itu sendiri. Strategi pencegahan berusaha memberikan pendidikan dan pembelaan serta menemukan penyelesaian diri terhadap apa yang diperkirakan menjadi penyebab permasalahan yaitu dengan cara berusaha menghentikan kemunculan anak jalanan. Mengatasi masalah anakan jalanan bukan hanya anak jalanan yang dijadikan fokus untuk apa penyesuaian diri dalam masyarakat, mengingat masyarakat sendiri terus mengalami perubahan sesuai dengan pembangunan yang berlangsung.

 

Pengembangan masyarakat yang dilakukan akan berdampak : Pertama, adanya jalur komunikasi antar segmen masyarakat. Masyarakat membangun komunikasi diantara anggota masyarakat yang biasanya berada dalam kelompok-kelompok kecil yang sesungguhnya apabila diberdayakan memiliki kekuatan yang sangat besar untuk menangani suatu masalah. Kedua, adanya pemahaman tentang kondisi obyektif masyarakat yang berarti masyarakat mengerti akan masalah atau kebutuhan yang sesungguhnya dalam masyarakat sehingga memudahkan dalam penyelesaian masalah tersebut. Ketiga, adanya partisipasi masyarakat yaitu keikutsertaan masyarakat didalam menangani masalah anak jalanan baik berupa materi, pemikiran maupun dukungan moral. Keempat, adanya perencanaan dalam memberdayakan masyarakat dalam hal ini masyarakat merencanakan sendiri kegiatan apa yang akan dilakukan dalam rangka penanganan masalah anak jalanan. Kelima, adanya penguatan kebijakan yaitu kesepakatan-kesepakatan dalam sebuah kelompok masyarakat, kesepakatan antar kelompok masyarakat atau aturan-aturan pada level komunitas lokal dibuat dan dipatuhi oleh seluruh anggora masyarakat dalam rangka upaya pencapaian keteraturan sosial. Keenam, adanya pengembangan jaringan yang merupakan suatu upaya untuk membuat koneksi antar kelompok masyarakat dan antar stake holder merupakan kegiatan yang juga penting dilakukan untuk memperkaya penguasaan masyarakat akan berbagai sistem sumber yang ada di luar diri mereka. Secara tidak langsung program ini juga berdampak bagi anak yaitu anak tidak tidak lagi turun ke jalan karena orang tuanya sudah mampu memenuhi kebutuhan anaknya.

 

 

  1. 6. KESIMPULAN

 

Penanganan anak jalanan sampai saat ini cenderung lebih dititik beratkan pada upaya pemberdayaan langsung kepada anak. Keberadaan keluarga atau orang tua anak jalanan yang cenderung sebagai penyebab anak turun ke jalan belum tersentuh pelayanan secara optimal. Dilihat dari perkembangannya penyebab banyaknya anak jalanan di kota-kota besar bersumber dari keluarga baik yang mengalami kemiskinan maupun keretakan hubungan orang tua. Pengembangan masyarakat sebagai strategi adalah proses perubahan yang sistemik, terencana dan membebaskan dari transformasi kelompok yang puas dengan diri sendiri (pasrah), kehilangan atau mengalami deprivasi, penuh ketakutan serta penuh kemiskinan, kedalam kondisi masyarakat yang teratur penuh kesadaran, memiliki keberdayaan, penuh percaya diri, adil dan manusiawi. Pengembangan masyarakat  adalah salah satu model penanganan anak jalanan yang menerapkan strategi pengembalian anak kepada keluarga dan mencegah anak-anak menjadi anak jalanan. Anak yang menjadi sasaran adalah anak yang masih berhubungan atau tinggal dengan keluarga. Basis penanganan diarahkan pada penguatan fungsi keluarga, peningkatan pendapatan, dan pendayagunaan potensi masyarakat. Anak-anak memperoleh pendidikan formal maupun non formal, memenuhi kebutuhan dasar, pengisian waktu luang dan lain-lain. Tujuan model ini adalah meningkatkan kemampuan keluarga dan anggota masyarakat dalam melindungi, mengasuh dan memenuhi kebutuhan anak-anak.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Adi, Isbandi Rukminto (2001) Pemberdayaan, Pengembangan Masyarakat dan Intervensi Komunitas, Lembaga penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

 

Childhope Asia Philipina, Community development Aproach, Pilipina, 1996

 

Siporin, 1975 Siporin, Max (1975). Introduction to Social Work Practice, New York : MacMillan.

 

Laporan progran ”Pemberdayaan Anak Jalanan”, Sekam , Jakarta 2004

 

Margaret Alston and Wendy Bowles (1998) Research for Social Workkers; An Introduction to Methods, Allen & Unwin.

 

Morales, Armando dan Bradford W. Sheafor, (1989). Social Work: A profesion of Many Faces Massachusset  Allyn and Bacon.

 

Onny S Prijono dan AMW Pranarka (penyunting), 1996, Pemberdayaan Konsep, Kebijakan dan Implementasi, CSIS, Jakarta

 

Skidmore, Rex (1994) Introduction to Social Work, Sixth Edition, Prentice Hall International Editions.

 

Siporin, Max   (1975) Introduction to Social Work Practice,: MacMillan Publishing Co. Inc, New York & Coll ier Macmillan Publishers, London.

 

Stringer T Ernest (1996) Action Research : A Hand For Practitioners, California: Sage publication, Inc.

 

Zastrow, Charles (1985) The Practice of Social Work, Dorsey Pres, Chicago.

 

 

 

BIODATA PENULIS :

 

Hari Harjanto Setiawan, Alumnus STKS Bandung, Telah menyelesaikan S2 di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial Tahun 2001 pada Universitas Indonesia, aktif di salah satu NGO (eRKa) yang bergerak pada pelayanan sosial terhadap anak. Saat ini bekerja sebagai staf di Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Departemen Sosial RI. Tulisan ini sebagai refleksi pengalaman dalam menangani anak yang melalui pendekatan Community development approach di Kampung Pedongkelan Jakarta Timur dari tahun 2003-2006.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: