Oleh: rumahkita2010 | 15 Juni 2011

PENGASUHAN KELUARGA

PENTINGNYA POLA PENGASUHAN KELUARGA

DALAM PROSES PERKEMBANGAN ANAK

 

Oleh :

Hari Harjanto Setiawan

 

ABSTRAK

Keluarga merupakan individu yang berinteraksi dengan subsistem yang berbeda yaitu ada yang bersifat dyadic (melibatkan dua orang) dan polyadic (melibatkan lebih dari dua orang). Subsistem ini mempunyai pengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap satu sama lainnya. Hubungan pengaruh yang positif bisa berpengaruh positif pada pengasuhan pada anak. Ada empat model pengasuhan keluarga terhadap anak sebagai suatu pilihan bagi keluarga antara lain adalah Otoritatif, Otoritarian, Mengabaikan,dan Menuruti. Untuk mendapatkan pola pengasuhan yang baik maka keluarga tersebut juga harus sejahtera. Dalam tulisan ini juga mengemukakan kriteria keluarga sejahtera menurut BKKBN. Peran kognisi dalam proses keluarga mencakup kognisi, keyakinan, dan nilai orang tua tentang peran mereka sebagai orang tua dan juga mereka mempersepsi, mengelola dan memahami perilaku dan keyakinan anak mereka. Dengan demikian pengasuhan keluarga sangat penting dalamproses perkembangan anak.

 

Key words :  Child, Family, parenting, Child Development

 

I.     PENDAHULUAN

Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat yang memegang peranan penting dalam pembentukan kepribadian anak hingga menjadi dewasa. Karena itu keluarga sebagai lembaga pertama dalam kehidupan anak akan memberikan pola dan corak bagi konsep diri anak yang berbeda-beda sesuai dengan perkembangannya. Pengalaman interaksi dalam keluarga akan menentukan pola tingkah laku anak terhadap orang lain dalam masyarakat. Kesalahan interaksi dalam keluarga yang dikarenakan kurang optimalnya anggota keluarga dalam melaksanakan peran dan fungsinya masing-masing dapat menimbulkan berbagai permasalahan dalam keluarga. Pandangan konstruksi perkembangan percaya bahwa ketika individu itu tumbuh mereka mendapatkan model berhubungan dengan orang lain. Ada dua variasi utama dalam pandangan ini yang satu menekankan kontinuitas dan stabilitas dalam hubungan (pandangan kontinuoitas) dan satu lagi berfokus pada diskontinuitas dan perubahan dan hubungan (pandangan diskontinuitas). Bagi sebagian orang, peran orang tua direncanakan dan dikoordinasikan dengan baik. Bagi orang lain, peran orang tua datang sebagai kejutan. Ada banyak mitos tentang pengasuhan, termasuk mitos bahwa kelahiran anak akan menyelamatkan perkawinan yang gagal. Tren yang makin berkembang adalah memandang orang tua sebagai manajer atas kehidupan anak. Orang tua memegang peranan penting sebagai manajer atas kesempatan anak, dalam memantau hubungan anak dan sebagai inisiator dan pengatur hubungan sosial. Orang tua perlu menyesuaikan pengasuhan mereka seiring dengan bertambahnya usia anak, mengurangi penggunaan manipulasi fisik dan lebih menggunakan logika dan prosesnya. Orang tua menghabiskan waktu yang lebih sedikit dalam perawatan, instruksi, membaca, berbincang dan bermain dengan anak pada pertengahan masa kanak-kanak dibandingkan dengan pada awal masa perkembangan anak. Pada pertengahan dan akhir masa kanak-kanak, kontrol menjadi lebih bersifat regulasi bersama. Otoritarian, otoritatif, mengabaikan dan menuruti adalah empat kategori utama gaya pengasuhan. Pengasuhan otoritatif diasosiasikan dengan perilaku sosial anak yang lebih kompeten dibanding dengan gaya yang lain. Ada sejumlah alasan untuk tidak menggunakan hukuman fisik dalam mendisiplinkan anak dan dibeberapa negara hukuman fisik telah dilarang. Perlakuan yang salah terhadap anak adalah dengan banyak sisi. Memahami perlakuan yang salah terhadap anak membutuhkan informasi tentang konteks budaya dan pengaruh keluarga. Perlakuan yang salah terhadap anak membuat anak beresiko mengalami sejumlah masalah perkembangan. Pengasuhan yang baik membutuhkan waktu dan usaha.

Banyak orang tua kesulitan menangani tuntutan remaja akan otonomi. Keterikatan yang aman terhadap orang tuameningkatkan kemungkinan remaja untuk menjadi kompeten dalam hubungan sosial. Konflik dengan orang tua seringkali meningkat pada masa ini namun biasanya bersifat ringan. Konflik ini merupakan fungsi positif bagi perkembangan. Namun apabila konflik terlalu tinggi maka akan berakibat negatif bagi remaja. Saudara saling berinteraksi dengan cara yang lebih negatif dan kurang bervariasi dibanding interaksi antara orang tua dan anak. Urutan kelahiran pasti berhubungan dengan karakteristik anak, namun beberapa kritikus percaya bahwa faktor urutan kelahiran telah dipandang berlebihan sebagai penentu perilaku anak.

 

II.  PERMASALAHAN

Seiring dengan perkembangan waktu ada beberapa yang berubah dalam perannya. Sebagian penelitian menunjukan bahwa ibu yang bekerja diluar rumah secara umum tidak memiliki efek yang buruk terhadap perkembangan anak. Namun dalam keadan tertentu efek negatif dari ibu yang di bekerja ditemukan, seperti ketika ibu bekerja lebih dari 30 jam pada tahun pertama kehidupan bayi. Keluarga dalam keadaan bercerai menunjukan lebih banyak masalah penyesuaian dibanding anak-anak dari keluarga yang tidak bercerai. Seperti keluarga yang bercerai, anak-anak dalam keluarga tiri memiliki lebih banyak masalah dibandingkan dengan anak-anak dari keluarga utuh. Keluarga berpendapatan tinggi lebih cenderung untuk menggunakan disiplin yang menimbulkan internalisasi; keluarga berpendapatan rendah cenderung menggunakan disiplin yang mendorong eksternalisasi. Dari berbagai permasalahan tersebut diatas maka tulisan ini akan menjawab beberapa pertanyaan berikut :

  1. Bagaimana peranan keluarga dalam perkembangan anak ?
  2. Bagaimana bentuk pola pengasuhan keluarga dalam konteks perlindungan anak?

 

III.   TUJUAN PENULISAN

Tulisan ini bertujuan untuk :

  1. Menggambarkan peranan keluarga dalam perkembangan anak.
  2. Menggambarkan  bentuk pola pengasuhan keluarga dalam konteks perlindungan anak

 

IV.   PERANAN KELUARGA

Keluarga memiliki peranan yang sangat penting dalam upaya mengembangkan pribadi anak. Perawatan orang tua yang penuh kasih sayang dan pendidikan tentang nilai-nilai kehidupan, baik agama maupun sosial budaya yang diberikannya merupakan faktor yang kondusif untuk mempersiapkan anak menjadi pribadi dan anggota masyarakat yang sehat. Keluarga juga dipandang sebagai institusi (lembaga) yang dapat memenuhi kebutuhan insani (manusiawi), terutama kebutuhan bagi pengembangan kepribadiannya dan pengembangan ras manusia. Definisi keluarga menurut Eichler’s (1988) dalam Collins (2010) sebagai berikut :

A family is a social group that may or may not include one or more children (e.g.’ childless couples), who may or may not have been born in their wedlock (e.g.’ adopted children, or children by one adulth partner of a previous union). The relationship of the adults may or may not have its origin in marriage (e.g.’ common-law couples); they may or may not occupy the same residence (e.g.’ commuting couples). The adults may or may not cohabit sexually, and the relationship may or may not involve such socially patterned feelings as love, attraction, piety and awe. (h.28)

Pengertian yang lain dikemukakan oleh Bowes & Hayes (1999) adalah sebagai berikut : “The definition of ‘family’ may be changing generally but, even within an individual family group, family membership alters as children are borm, parent divorce and remarry and grandparents die.” (h.79). Dalam kehidupan berkeluarga, orang tua (family) memilki peran yang cukup besar antara lain : (1) Menyediakan sumber pendapatan yang akan memungkinkannya untuk memenuhi kebutuhan anaknya seperti makanan, pakaian, tempat tinggal, pendidikan, perawatan kesehatan dan aktifitas sosial serta rekreasional. (2) Memenuhi kebutuhan anak seperti rasa cinta, rasa aman, perhatian dan dukungan emosional yang diperlukan untuk perkembangan emosional anak. (3) Menyediakan rangsangan terhadap perkembangan intelektual, sosial dan spritual secara normal. (4) Melakukan sosialisasi anak. Sosialisasi merupakan proses “perekrutan anggota baru” ke dalam kelompok dan mengajarkan kepada mereka perilaku yang menjadi kebiasaan dan dapat diterima oleh kelompok.(5) Mendisiplinkan anak dan menjaganya dari perkembangan pola perilaku dan sikap yang tidak dapat diterima oleh masyarakat. (6) Melindungi anak dari kerugian fisik, emosional dan sosial. (7) Menampilkan suatu model untuk perilaku yang berkaitan dengan jenis kelamin. (8) Memelihara kestabilan interaksi dalam keluarga secara memuaskan yang memungkinkannya untuk memenuhi kebutuhan seluruh anggota keluarga. (9) Menyediakan tempat kediaman yang jelas untuk anak dan memberikan definisi yang jelas tentang tempat untuknya dalam masyarakat. (10) Sebagai perantara antara anak dengan dunia luar, membela hak-hak anak dalam masyarakat dan melindungi anak dari ketidakadilan dalam masyarakat.

Milley (1992) mengemukakan beberapa bentuk keluarga yang tidak mampu melaksanakan fungsinya, yaitu : Pertama, Peran orang tua yang tidak lengkap; yaitu sutau keluarga yang salah satu orang tuanya tidak ada, baik sementara maupun untuk selamanya, sehingga peran orang tua menjadi tidak lengkap, karena tidak ada salah satu figur yang bisa dijadikan panutan. Kedua, Menolak Peran; yaitu keluarga yang menolak peran sebagai orang tua. Orang tua tersebut merasa terbebani dengan tugas pengasuhan anak, sehingga anak-anaknya menjadi terlantar dan atau bahkan mengalami kekerasan. Ketiga, Sumber-sumber kemasyarakatan yang terbatas; adalah suatu keluarga yang hidup dan tinggal dalam lingkungan yang sumber kemasyarakatannya terbatas, seperti perumahan yang tidak layak, pengangguran, kemiskinan, diskriminasi, dan tidak dapat menjangkau pelayanan kesehatan dan pelayanan kemanusiaan lainnya. Keempat, Orang tua yang mengalami hambatan kemampuan; adalah orang tua yang tidak bisa maksimal dalam melakukan pengasuhan yang disebabkan karena kecatatan atau sakit yang menahun, ketergantuangan obat, pemabuk, dsb. Kelima, konflik peran dalam pengasuhan (intrarole conflict); Terjadi ketidakcocokan dalam proses pengasuhan antara ibu dan bapak. Mereka memiliki harapan yang berbeda terhadap anak, sehingga berdampak pada konflik model pengasuhan antara ibu dan bapak. Ketujuh, konflik peran orang tua (interrole conflict), sering kali orang tua mengalami konflik peran antara peran orang tua yang bertanggung jawab dalam memberikan pengasuhan secara optimal kepada anak dengan perannya dalam melaksanakan tugas pekerjaannya dan peran sosial lainnya. Kedelapan, anak yang mengalami hambatan aktivitas / cacat; Milley kemudian menambahkan apabila suatu keluarga atau orang tua tidak mampu melaksanakan perannya yang disebabkan karena sesuatu hal, maka masyarakat seharusnya berperan sebagai parent patriae, yaitu peran yang mengambil alih peran orang tua yang tidak mampu memberikan pengasuhan / perlindungan pada anaknya. Di samping itu masyarakat juga melakukan pelarangan untuk mencegah timbulnya perlakuan kesewenangan dan penelantaran anak.

Fungsi sosial keluarga menurut perspektif Zastrow (1999) ada lima adalah sebagai berikut :

  1. Replace of population (pembaharu populasi) yaitu setiap masyarakat memiliki system tersendiri untuk menambah jumlah anggota masyarakatnya, dan keluarga dianggap sebagai unit sosial yang menghadirkan anak-anak sebagai anggota masyarakat.
  2. Care of the young (perawatan anak) adalah anak-anak yang dilahirkan memerlukan perawatan dan perlindungan yang dilakukan oleh keluarga.
  3. Socialization of new members (Sosialisasi) adalah keluarga menyediakan anggota-anggota masyarakat yang produktif, dimana keluarga menjadi tempat untuk mensosialisasikan nilai dan norma yang ada di masyarakat.
  4. Regulation of sexual behavior (regulasi perilaku seks) adalah keluarga menyediakan tempat untuk mengatur pelaksanaan hubungan seksual.
  5. Source of affection sumber kasih sayang) adalah keluarga memberikan pemuasan kebutuhan yang manusiawi, dukungan emosional dan aturan-aturan yang positif yang dapat membantu terwujudnya keteraturan kehidupan sosial.

V.  PENGASUHAN KELUARGA DALAM KONTEKS PERLINDUNGAN ANAK

A.      Pengasuhan Salah Terhadap Anak

Kobin dalam Bowes & Hayes (1999) mengidentifikasi ada 3 level definisi abuse antara lain :

The first level includes ‘practices which are viewed as acceptable in the culture in which they occur, but as abusive or neglectful by outsiders’. The second involves ‘indiosyncratic abuse or neglect’, which includes those behaviors that ‘fall outside the range of acceptability’ for that society. The third level concerns societal conditions such as poverty, homelessness and laclk of health care that are beyond the control od individual parents. (h.140)

Permasalahan yang dihadapi oleh anak (child maltreatment) menurut Crosson & Tower (2007) menggolongkan menjadi empat sebagai berikut : “Child abuse and neglect fall into specific categories with different symptoms and different etiologies. The four categories most often used are physical abuse, physical neglect, sexual abuse, and emotional or psychological abuse” (h.190). Hal yang sama juga dikatakan oleh Dubois, 2005) bahwa kesewenang-wenangan terhadap anak (child maltretment), dapat dikatagorikan dalam empat jenis yaitu : perlakuan salah secara fisik (physical abuse), perlakuan salah secara emosional (emotional abuse/ psychological maltreatment), penelantaran anak (child neglect), dan perlakuan salah secara seksual (sexual abuse) ( h.375). Menurut Suharto (2005) beberapa permasalahan anak yang termasuk dalam katagori perlakuan salah terhadap anak (child maltretment), meliputi :

1)Anak yang mengalami pengabaian (child neglect) dan eksploitasi (child exploitation), 2)Anak yang berada dalam kondisi darurat 3)Anak yang diperdagangkan (child traficking) 4) Anak yang terlibat kriminalitas atau berkonflik dengan hukum 5)Anak yang terlibat dalam produksi dan perdagangan obat terlarang,termasuk anak korban penyalahgunaan NAPZA, 6) Anak korban HIV \ AIDS dan 7) Anak korban diskriminasi sosial. (h.161)

Dubois (2000) mendefinisikan physical abuse sebagai sebuah tindakan yang berakibat pada luka-luka secara fisik atau yang berisiko dapat menyebabkan luka (h.15). Sedangkan Crosson Tower (2007) mendifinisikan “physical abuse of children as a nonaccidental injury inflicted on a child”(190). Dari kedua definisi tersebut child abuse merupakan tindakan dengan cara disengaja yang dilakukan oleh orang lain baik oleh orang dewasa maupun oleh sesama anak.

Phisical neglect menurut Polansky dan Colleagues (1975) yang dikutip oleh Crosson & Tower (2007) mendefinisikan sebagai berikut :

Child neglect may be defind as a condition in which a caretaker responsible for the child either deliberately or by extraordinatory inattentiveness permits the child to experience available suffering and/or fail to provide one or more of the ingredients generally deemed essential for developing a person’s physical, intellectual and emotional capacities. (195)

Child neglect merupakan tindakan pengabaian terhadap pemenuhan kebutuhan dasar anak untuk mencapai kesehatan dan keselamatan. Lebih lanjut Dubois (2005) menjelaskan bahwa yang termasuk dalam penelantaran anak meliputi penelantaran secara fisik (pengabaian terhadap pelayanan kesehatan), penelantaran pendidikan (pengabaian terhadap anak sehingga tidak dapat bersekolah), dan penelantaran secara emosional (pengabaian terhadap pemenuhan kebutuhan kasih sayang) (h.373). Penelantaran terhadap anak (child neglect) merupakan tindakan yang disengaja dan kebanyakan dilakukan oleh orangtuanya sendiri yang seharusnya bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhannya. Penelantaran ini dapat berakibat buruk bagi anak antara lain perkembangan fisik dan emosional dan intelektual menjadi terganggu.

Sexual abuse seringkali berupa tindakan seksual terhadap seorang anak dimana anak tersebut tidak menghendakinya, biasanya dilakukan dengan melalui paksaan menggunakan kekuatan, ancaman dengan tindakan kekerasan. Menurut Crosson & Tower (2007) “sexual abuse refer to sexual activity with a child where the child is being used for sexual stimulation by the other person, usually an adult (Myersat et.al.’2002) (h.200). Sexual abuse dapat berupa sodomi, pornografi anak, berbagai bentuk kegiatan seksual yang pada dasarnya belum dipahami oleh anak, merayu dan persetubuhan baik dengan orang lain maupun dengan saudara sekandung (incest). Crosson & Tower (2007) mengemukakan tipe sexual abuse sebagai berikut “sexual abuse may be devided into several categories : incest or familial abuse; extra familial molestation; exploitation through pornography, prostitution, sex rings, or cults; and abuse within institution”.(h.200)

Emotional or Psychological abuse adalah perilaku orangtua atau pengasuh yang secara sadar dilakukan sehingga merugikan anak secara emosional. Definisi yang dikemukakan Crosson & Tower (2007) bahwa :

Emotional abuse refers to undermining the self-esteem of a child, or humiliating, belitting, rejecting, isolating, or terrorizing a child. Some authors suggest that the term emotional abuse be amended to physical abuse as this type af abuse is a pattern of physically destructive behavior (Bingeli and Jart, 2001). Although psychologically abuse is an integral part of neglect and physical and sexual abuse, it is one type of assault that can also stand alone. (h.210)

Perilaku yang dapat dikatagorikan sebagai emotional maltreatment meliputi : penolakan, pengisolasian, teror atau tindakan yang menimbulkan kengerian, pengabaian dan penyalahgunaan.

Akibat pengasuhan yang salah pada anak pada perkembangan antara lain adalah pengendalian emosi yang huruk, masalah keterikatan, masalah dalam hubungan dengan peer group, kesulitan beradaptasi di sekolah dan masalah psikologis lainnya (Azar, 20022); Cicchetti & Toth, 2005, 2006).

 

B.       Model Pengasuhan Anak Dalam Keluarga

Gaya pengasuhan menurut Diana Baumrid (1971) dalam Santrok (2007, h.167) mengemukakan empat gaya pengasuhan keluarga terhadap anak adalah sebagai berikut :

  1. Pengasuhan ototitarian adalah gaya yang membatasi dan menghukum dimana orang tua mendesak anak untuk mengikuti arahan mereka dan menghormati pekerjaan dan upaya mereka. Orang tua yang otoriter menerapkan batas dan kendali yang tegas pada anak dan meminimalisir perdebatan verbal. Orang tua yang otoriter akan berkata “lakukan dengan caraku atau tak usah.” Orang tua yang otoriter mungkin juga memukul anak, memaksakan aturan secara kakutanpa menjelaskannya. Dan menunjukan amarahnya pada anak. Anak dari orang tua yang otoriter sering kali tidak bahagia, ketakutan, minder ketika membandingkan diri dengan orang lain, tidak mampu memulai aktivitas dan memiliki kemampuan komunikasi yang lemah. Anak dari orang tua yang otoriter mungkin berperilaku agresif.
  2. Pengasuhan otoritatif,  mendorong anak untuk mandiri namun masih menerapkan batas dan kendali pada tindakan mereka. Tindakan verbal member dan menerima dimungkinkan, orang tua bersifat hangat dan penyayang terhadap anak. orang tua yang otoritatif mungkin merangkul anak dengan mesra dan berkata, “Kamu tahu, kamu tak seharusnya melakukan hal itu. Bari kita bicarakan bagaimana kita bisa menangani situasi tersebut lebih baik lain kali.” Orang tua yang otoritatif menunjukkan kesenanganan dan dukungan sebagai respon terhadap perilaku konstruktif anak. mereka juga mengharapkan perilaku anak yang dewasa, mandiri dan sesuai dengan usianya. Anak yang memiliki orang tua yang otoritatif sering kali ceria, bisa mengendalikan diri dan mandiri, dan berorientasi pada prestasi. Mereka cenderung untuk mempertahankan hubungan yang ramah dengan teman sebaya, bekerja sama dengan orang dewasa, dan bisa mengatasi stress dengan baik.
  3. Pengasuhan yang mengabaikan, adalah gaya dimana orang tua sangat tidak terlibat dalam kehidupan anak. anak yang memiliki orang tua yang mengabaikan merasa bahwa aspek lain kehidupan orang tua lebih penting dari pada diri mereka. Anak-anak ini cenderung tidak memiliki kemampuan sosial. Banyak diantaranya mereka pengendalian yang buruk dan tidak mandiri. Mereka seringkali memiliki harga diri yang rendah, tidak dewasa, dan mungkin terasing dari keluarga, dalam masa remaja, mereka mungkin menunjukan sikap suka membolos dan nakal.
  4. Pengasuhan yang menuruti, adalah gaya pengasuhan dimana orang tua sangat terlibat dengan anak namun tidak terlalu menuntut atau mengontrol mereka. Orang tua macam ini membiarkan anak melakukan apa yang ia inginkan. Hasilnya, anak tidak pernah belajar mengendalikan perilakunya sendiri dan selalu berharap mendapatkan keinginannya. Beberapa orang tua sengaja membesarkan anak mereka dengan cara ini karena mereka percaya bahwa kombinasi antara keterlibatan yang hangat dan sedikit batasan akan menghasilkan anak yang kreatif dan percaya diri. Namun anak yang memiliki orang tua yang selalu menuruti jarang belajar menghormati orang lain dan dan mengalami kesulitan untuk mengendalikan perilakunya. Mereka mungkin mendominasi, egosentris, tidak menuruti aturan dan kesulitan dalam hubungan dengan teman sebaya.

Keempat klasifikasi pengasuhan ini melibatkan kombinasi antara penerimaan dan sikap responsif di satu sisi serta tuntutan dan kendali di sisi lain (Maccoby & Martin, 1983) digambarkan dalam tabel berikut:

  Menerima, responsif Menolak, tidak responsif
Menuntut dan mengontrol

Otoritatif

Otoritarian

Tidak menuntut dan tidak mengontrol

Mengabaikan

Menuruti

 

Gambar diatas memperlihatkan bahwa pengasuhan otoritatif cenderung merupakan gaya yang paling efektif, dengan alasan (Hart, Newell, & Olsen, 2003; Steinberg & Silk, 2002) dalam (Santrok, 2007, h.168) sebagai berikut :

  1. Orang tua yang otoritatif menerapkan keseimbangan yang tepat antara kendali dan otonomi, sehingga member anak kesempatan untuk membentuk kemandirian sembari member standar, batas dan panduan yang dibutuhkan anak (Reuter &Conger, 1995).
  2. Orang tua yang otoritatif lebih cenderung melibatkan anak dalam kegiatan member dan menerima secara verbal dan memperbolehkan anak mengutarakan pandangan mereka (Kuczynski & Lollis, 2002). Jenis diskusi keluarga ini membantu anak memahami memahami hubungan sosial dan apa yang dibutuhkan untuk menjadi orang yang kompeten secara sosial.
  3. Kehangatan dan keterlibatan orang tua yang diberikan oleh orang tua yang oleh orang tua yang otoritatif membuat anak lebih bisa menerima pengaruh orang tua (Sim, 2000).

 

C.      Keluarga Sejahtera

Keluarga sejahtera merupakan bentuk ideal dalam proses perkembangan pada anak. Konsep keluarga sejahtera ini dituangkan dalam Undang-undang Nomor 10 tahun 1992 tentang perkembangan kependudukan dan pembangunan kesejahteraan keluarga pada Pasal I Ayat (2) sebagai berikut : “Keluarga adalah keluarga yang dibentuk berdasarkan atas perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan dan material yang layak, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki hubungan yang serasi, selaras dan seimbang antar anggota dan antara keluarga dan masyarakat dengan lingkungan.” Definisi tersebut  maka keluarga dikatakan sejahtera jika memenuhi hal berikut ini :

  1. Ada kebersamaan hidup antara seorang pria dan wanita yang diikat oleh perkawinan sah. Perkawinan yang sah adalah perkawinan sebagaimana diatur dalam ketentuan pasal 2, Ayat (1) Undang Undang No 1 tahun 1974 tentang perkawinan bahwa “Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya itu.”
  2. Keluarga tersebut anggota-anggotanya minimal terdiri dari seorang suami, istri dengan atau tanpa anak.
  3. Keluarga tersebut terjadi hubungan yang serasi, selaras dan seimbang antar anggota dan antara keluarga dengan masyarakat dan lingkungan.
  4. Tiap-tiap anggota keluarga baik sebagai individu maupun sebagai anggota keluarga mampu melaksanakan kewajiban dan memperoleh hak sesuai dengan peran dan kedudukannya dalam keluarga.
  5. Sesuai dengan fungsinya, maka keluarga tersebut harus mampu memenuhi kebutuhan spiritual dan material yang layak bagi anggota-anggotanya.
  6. Mengingat bahwa ukuran kesejahteraan sangat dinamis, maka dalam pemenuhan kebutuhan sangat ditentukan oleh kondisi masing-masing keluarga.

Tahapan keluarga sejahtera menurut BKKBN dirumuskan kedalam 5 tahapan sebagai berikut :

  1. Keluarga Pra Sejahtera, yaitu keluarga yang belum dapat memenuhi kebutuhan dasarnya secara minimal seperti kebutuhan spiritual, sandang, papan dan kesehatan.
  2. Keluarga sejahtera I, merupakan keluarga yang telah dapat memenuhi kebutuhan dasar secara minimal, tetapi belum dapat memenuhi kebutuhan sosial psikologisnya seperti kebutuhan pendidikan, KB, interaksi dalam keluarga, interaksi dengan lingkungan tempat tinggal dan transpotrasi.
  3. Keluarga sejahtera II, adalah keluarga yang disamping telah dapat memenuhi kebutuhan sosial psikologisnya, tetapi belum dapat memenuhi kebutuhan untuk menabung dan memperoleh informasi.
  4. Keluarga Serjahtera III, adalah keluarga yang telah dapat memenuhi seluruh kebutuhan dasar, sosial, psikologis dan pengembangan keluarganya, tetapi belum dapat memberikan sumbangan yang teratur bagi masyarakat seperti sumbangan materi dan berperan aktif dalam kegiatan kemasyarakatan.
  5. Keluarga Sejahtera III Plus, adalah keluarga yang telah dapat memenuhi seluruh kebutuhan dasar, sosial psikologis, pengembangan serta memberikan sumbangan yang teratur dan berperan aktif dalam kegiatan kemasyarakatan.

Keluarga yang sejahtera akan mempengaruhi pola pengasuhannya terhadap anak dalam masa perkembangannya. Hubungan timbal balik adalah sosialisasi yang berpengaruh dua arah, seperti yang dilustrasikan berikut adalah hubungan perkawinan, pengasuhan dan perlaku anak saling mempengaruhi baik secara langsung maupun tidak langsung (Belsky,1981 dalam Santrock, 2007, h.158).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Meningkatnya kepuasan perkawinan seringkali menghasilkan pengasuhan tang baik dan hubungan perkawinan memberikan dukungan yang penting bagi perkawinan (Cumings dkk, 2002; Fincham &Hall, 2005 dalam Santrock, 2007). Sehingga program penguatan perkawinan dapat memperbaiki kualitas pengasuhan terhadap anak.

 

 

VI.   KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

A.      Kesimpulan

Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat yang posisi strategis bagi perkembangan kepribadian anak. keluarga yang ideal akan membentuk pribadi-pribadi anak-anak yang ideal pula dan pada akhirnya anak-anak yang ideal akan mewujudkan  masa depan masyarakat dan Negara yang ideal juga. Perwujudan kesejahteraan keluarga tidak terlepas dari pelaksanaan fungsi-fungsi keluarga yaitu dalam suatu keluarga diharapkan ada suatu keharmonisan, hubungan yang penuh kemesraan dan kasih sayang yang merupakan dambaan setiap orang. Keharmonisan tersebut akan diperlihatkan melalui jalinan relasi baik yang bersifat fisik maupun relasi psikis.  Pengasuhan (parenting) keluarga pada anak-anak memerlukan sejumlah kemampuan interpersonal dan mempunyai tuntutan emosional yang besar, namun sangat sedikit pendidikan formal mengenai tugas ini. Kebanyakan orang tua mempelajari praktek pengasuhan dari orang tua mereka sendiri. Sebagian praktik tersebut mereka terima, namun sebagian lagi mereka tinggalkan. Suami dan istri mungkin saja membawa pandangan yang berbeda mengenai pengasuhan ke dalam pernikahan.

 

B.       Rekomendasi

Dari tulisan tersebut diatas maka dapat direkomendasikan kepada berbagai pihak antara lain:

  1. Pengasuhan dalam keluarga tidak boleh di abaikan atau berjalan seadanya, namun pengasuhan adalah tugas utama didalam hidup berumah tangga dan jangan sampai kesibukan pekerjaan melupakan tugas pengasuhan.
  2. Konflik perkawinan, berbagai bentuk kekerasan, dan penggunaan hukuman harus dihindari dalam proses pengasuhan terhadap anak.
  3. Pemerintah, diharapkan dapat membuat kebijakan yang ketat  berupa perumusan undang-undang dalam hal pengasuhan keluarga pada anaknya karena apabila pengasuhan anak baik, maka akan tumbuh menjadi manusia yang baik dan berprestasi serta akan memajukan negara di masa mendatang.
  4. Sosialisasi pentingnya pola pengasuhan keluarga terhadap anak harus terus dilakukan baik oleh pemerintah maupun lembaga swadaya masyarakat.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Buku :

 

Bowes & Hayes, (1999), Children, Families and Communities, Contexts and Consequences, Oxford University Press.

Collins, Donald at al. (2010), An Introduction to Family Social Work, Third Edition, Brooks/cole, Cengage Learning

Crosson, Cynthia & Tower (2007), Exploring Child Welfare, A Practical Perspective, Fourth Editions, Pearson Education Inc.

Dubois, Brenda & Karla Krogsrud Miley (2005) edisi ke lima, Social Work: An Empowering Provession, Boston : Pearson

Jowith and Steve, Social Work with Children & Families, Learning Matters

Miller-Perrin, Cindy L & Perrin, Robin D, (2007), Child Maltreatment, An Introduction, Second Edition, Sage Publication.

Santrock, John W (2009), Child Development, Twelfth Edition, University of Texas at Dallas, McGraw-Hill International Edition.

Shireman, Joan, (2003) Critical Issues In Child Welfare, Columbia University Press, New York.

Van Hook, Mary Patricia (2008), Social Work Practice with Families, a resiliency-based approach, Lyceum Books Inc

Webb, Nancy Boyd,  (2003) Social Work Practice With Children, The Guilford Press,

Zastrow, Charles (1996), Introduction to Social Work and Social Welfare, Sixth Edition, Thomson Publishing Company.

———————(2004) Introduction to Social Work and Social Welfare, eight Edition, Thomson Publishing Company.

 

 

Konvensi dan Undang-undang :

 

Undang-undang No 4  Tahun 1979 Tentang Kesejahteraan Anak.

Undang-undang No 23 Tahun 2005 Tentang Perlindungan Anak.

Undang-undang No.11 Tahun 2009 Tentang Kesejahteraan Sosial

Unicef, Convention On The Right Of The Child. (Konvensi Hak-hak Anak)

Undang-undang Nomor 10 tahun 1992

 

 

Penulis :

Hari Harjanto Setiawan, Alumnus STKS Bandung, Telah menyelesaikan S2 di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial Tahun 2001 pada Universitas Indonesia dan sedang menempuh pendidikan S3 Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial  pada Universitas Indonesia. Saat ini bekerja sebagai Peneliti Muda pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Kementerian Sosial RI.

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: